Tampilkan postingan dengan label aku hari ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku hari ini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

Menikmati secelup Keistimewaan

Malam ini, dengan ditemani secangkir Energen hangat aku merenungkan pernyataan mengenai kesederhanaan. Saya berpikir, mungkin akan indah jika tulisan ini saya buka dengan pernyataan demikian:

Malam ini, dengan ditemani secangkir Energen hangat; dentuman jam yang menggeliat; dan kerusuhan yang dibuat Si Tiki (ya, mari kita beri nama tikus besar itu) aku duduk diam. Menikmati kesederhanaan yang dibisikkan jangkrik dan udara dingin malam hari.

Namun, ada sesuatu yang menggelitik saya. Ketika saya sedang memikirkan "rayuan-rayuan" maut yang mungkin akan meleleh di mata pembaca, saya terhenyak. Mendadak ada sebuah bisikan (OK, saya tidak gila) yang mengatakan,"Apa menariknya menyampaikan kesederhanaan itu? Dan, apa yang membuatnya menarik?"

Hmm, ok. Mungkin yang sebenarnya ingin saya sampaikan bukanlah kesederhanaan itu. Mungkin.. kesombongan? Karena saya bisa membuat tulisan yang melelehkan mata dengan cara merendahkan diri dengan embe-embel "kesederhanaan"? Atau agar saya dianggap puitis dan berbakat dalam menulis? Seharusnya sih tidak demikian. Kalau begitu, mari kita reka ulang.

Malam ini, dengan ditemani Si Tiki yang grasak-grusuk; secangkir Energen hangat buatan sendiri; nyanyian Jangkrik; dan deritan jam dinding, akhirnya saya mendapatkan mood untuk setidaknya menelurkan satu atau dua tulisan yang seharusnya indah dibaca. Sebuah tulisan mengenai kesederhanaan malam Selasa yang tak terusik Handphone atau suara televisi. Kesederhanaan yang terbalut sunyi.

Hmmm, rasanya masih ada yang kurang pas. Ah, saya tahu! Saya belum menuliskan mengapa kederhanaan itu menarik untuk disampaikan. Tapi saya rasa, tidak ada yang perlu diceritakan dari sebuah kesederhanaan. Kesederhanaan adalah sebuah kondisi yang sangat simpel. Semua sudah terpapar apa adanya dan tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Tidak perlu dilakukan observasi, analisa, sintesa, dan penarikkan kesimpulan. Karena kesederhanaan itu sudah terpancar sejak awal tanpa ada yang tertutup lagi. Ya, semua nampak apa adanya. Tak perlu lagilah menjabarkan kesederhanaan itu.

Ok, sepertinya kata "Kesederhanaan" itu memang tidak cocok untuk saya gunakan malam ini. Kalau begitu, mari kita ubah sedikit kata-kata yang akan saya gunakan. Kira-kira bentuknya akan begini:

Malam ini, ditemani suara mp3; detak jam dinding; nyanyian jangkrik; secangkir Energen yang telah dingin; grasak-grususk Si Tiki; dan angin malam yang menusuk, saya dapat menikmati suasana malam ini. Sebuah keistimewaan yang hadir di tengah gelapnya malam. Ketika sebagian orang tengah menikmati bunga tidurnya. Sebuah malam istimewa tanpa gangguan Handphone dan TV.


Dan akhirnya dapat kukatakan...
" ...Sempurna... ."

Minggu, 18 September 2011

Adiksi menulis

Menulis. Sudah lebih dari dua bulan tidak kulakukan kegiatan itu. Rasanya seperti terlepas dari peredaran. Tidak ada yang bisa dinyatakan, tidak ada yang tersampaikan. Hanya musik mp3 yang terdengar dari kamarku. Berteriak ke dunia luar tentang apa yang aku rasakan dan alami. Teriakkan yang bisu. Saat ini aku bahkan tak tahu apa yang tengah aku tulisankan. Apa yang akan terlahir dari cuap-cuap jemari di tuts keyboard ini. Tidak ada arah, tak ada tujuan. Hanya memuaskan diri dengan untaian kata. Berbincang dengan layar LCD yang menatap secara langsung. Seandainya aku dapat berbicara dengan lebih berani dan lantang, tentunya saat ini tak akan ada tulisan ini.

Menulis, seperti sebuah candu bagiku saat ini. Setiap harinya ada saja yang ingin aku bahasakan tapi tak tahu harus bagaimana. Setiap pengalaman dan pemikiran yang muncul ingin kubahasakan. Ingin kutukar dengan pengalaman orang lain. Semakin hari perasaan ini makin menggerogoti, terasa sesak. Seperti udara telah direnggut dari hidupmu, sebuah kesesakkan yang tak tergambarkan. Ingin berteriak meminta tolong rasanya tidak mungkin. Aneh.

Ya, sepertinya tidak ada yang dapat menggambarkan keinginanku menulis selain yang telah aku nyatakan. Biar kalimat ini terus membisikkan yang tak kuucap. Jadilah tulisan ini sebagai nafasku, jadikan tulisan ini sebagai medan pemaknaan baru dalam dunia yang akan ku hadapi selanjutna. Sebuah track record, teman seperjalanan yang dapat kuandalkan dan selalu mendengar. Rasakanlah, hela nafas yang aku bahasakan. Pengalaman hidup, pemikiran, cerita, impian, dan kehidupan.

Senin, 21 Maret 2011

Mentari, Bumi, Bulan

Perlahan senja mulai merambat menyelimuti Bumi. Meneduhkannya selama dua belas jam ke depan dari cahaya Mentari yang membakar kulitnya. Seiring dengan itu anak kecil kembali ke rumah masing-masing. Sang ibu memanggil-manggil anaknya penuh kecemasan. Jangkrik pun berbincang-bincang satu dengan yang lain dengan bahasanya sendiri.

Perlahan kegelapan menyelimuti mata ini. Meminta agar setiap mata terpejam supaya sang Bulan dapat tampil dalam ketelanjangannya yang tulus. Sang Bulan menyampaikan salam yang diberitakan oleh Mentari. Sebuah janji untuk kembali bersinar keesokan harinya. Mentari tahu bahwa tanpa cahaya, Bumi akan ketakutan. Histeris. Karena itu, Mentari menitipkan cahayanya melalui Bulan untuk menemani Bumi sampai tiba saatnya Mentari datang dan memeluk Bumi dengan begitu erat dan hangat.

Bumi terlelap dalam kehangatan yang diberikan oleh Mentari. Pelukan yang begitu erat seolah ia tak mau melepaskan Bumi. Ketika Mentari teringat bahwa Ia harus pergi meninggalkan Bumi dalam kedinginan yang mencekam seketika itu pula Ia menangis. Tetesan demi tetesan terjatuh ke Bumi begitu saja tanpa mampu dibendung Mentari. Menciptakan lelehan yang terasa menyakitkan bagi Bumi. Sesaat kemudian Mentari kembali memeluk Bumi erat, Ia berteriak. Menggelegar. Tak mampu Dirinya menampakkan wajah sedih di hadapan Bumi. Ia menenggelamkan wajahnya. Cukup lama Ia menangis. Hingga datanglah Bulan, sahabatnya, menenangkan dirinya dari jarak yang begitu dekat. Begitu dekat dengan Mentari dan Bumi.

Kemudian Bulan berkata:
"Aku akan menjaganya sekali lagi untukmu. Aku akan berada di dekatnya. Sedekat mungkin supaya aku dapat segera mengetahui apa yang dirasakan oleh Bumi dan menyampaikannya padamu. Aku akan menjadi perantara bahasa kasihmu padanya."


Perlahan Mentari bergerak meninggalkan Bumi dalam kegelapan bersama Bulan. Suara isak Mentari masih dapat terdengar. Air matanya masih meleleh menimpa Bumi. Walau Mentari sudah tak di sana. Ia masih belum bisa menyampaikan bahasa kasihnya. Hatinya masih terluka. Hingga jam berdetak dua belas kali. Barulah Mentari menuliskan bahasa kasihnya untuk disampaikan pada Bumi melalui perantara Bulan yang kini begitu dekat dengan Bumi. Menjaganya sebagai sahabat dari yang tercinta.

inspirasi dari Supermoon

Teori tentang kesepian

Beberapa hari belakangan ini rasanya saya semakin terjangkit virus FB. Virus mematikan yang membuat saya tergeletak memandangi sebuah situs dalam waktu beberapa lama hanya untuk menantikan hal yang tidak pasti. Update status. comment. Dua hal ini yang paling mengganggu hati saya akhir-akhir ini. Sebagai seorang mahasiswa yang "terisolasi" mungkin FB menjadi sebuah media untuk kembali keep in touch dengan dunia luar. Atau sekadar mengobrol dengan orang-orang yang kita kenal. Rasanya semua orang menganggap bahwa hal ini adalah suatu yang lumrah dan wajar. Pernahkah terpikir dalam benak kita masing-masing bahwa kita sedang kesepian dan membutuhkan orang lain?

Saya tidak tahu apa yang pembaca rasakan tapi saya rasa FB dapat menimbulkan kecanduan yang akut. Jadi, saya mencoba mengajukan sebuah tesis. Orang-orang menjadi kesepian karena mereka merasa bahwa lingkungan dimana mereka hidup tidak dapat menerima mereka apa adanya. Hal ini dapat disebabkan banyak hal. Misalnya saja pada budaya tertentu dikatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh menangis, seorang wanita harus lemah lembut, harus menampakkan keceriaan setiap hari, dan keharusan-keharusan lain yang membuat kita merasa tertekan. Apakah kelaki-lakian seorang pria akan diragukan jika dia menangis? Apakah perempuan dapat dikatakan pria jika ia tidak lemah lembut? Tentu tidak. Tetapi sayangnya, jarang diantara kita yang menyadari hal ini sehingga membuat diri kita tersiksa memenuhi ekspektansi-ekspektansi yang ada.

Individu menjadi sosok yang kesepian ketika ekspektansi yang dimiliki oleh masyarakat atau yang ada pada mereka sendiri terlalu tinggi. Sehingga menimbulkan perasaan rendah, penolakkan, tidak dapat dimengerti, dan sebagainya. Perasaan inilah yang membuat masing-masing dari kita merasa sendiri dan kesepian. Jika hal ini terus berlanjut maka besar kemungkinan individu akan semakin sulit untuk menerima diri apa adanya dan menjadi semakin kesepian setiap harinya.

Lalu apa hubungannya dengan FB atau jejaring sosial lain? Sepintas memang tidak ada korelasi yang nampak antara kesepian dengan jejaring sosial-saya sendiri tidak menyadarinya sampai saya teringat artikel ini- tetapi ada sebuah riset yang menunjukkan adanya korelasi antara berapa sering seorang mengakses jejaring sosial dengan tingkat depresi. Jadi saya merasa tertohok dan bertanya apakah saya sedang depresi? Karena tingkat saya mengakses jejaring sosial akhir-akhir ini lebih banyak dari biasanya.

Tesis kedua yang bisa saya lontarkan adalah adanya sebuah kepuasan ketika kita mengakses jejaring sosial. Karena di jejaring sosial kita bisa mengatakan apa pun, terlepas dari apakah itu hal yang penting atau tidak. Tanpa perlu was-was, kita merasa bebas untuk mengeluarkan apa yang ada dipikiran kita. Status-status yang kita lontarkan di jejaring sosial ini kemudian direspon oleh teman-teman kita sehingga membuat kita merasa tidak kesepian, mendapat perhatian, dan perasaan diterima. Dan dari pengamatan saya, hal ini bersifat cukup adiktif. Beberapa teman saya menghabiskan waktu dua, tiga, sampai sepuluh jam per harinya untuk membuka FB. Ini saya ketahui dari iseng-iseng ketika membuka profile teman-teman saya.

Tesis ketiga sekaligus yang terakhir adalah, seorang individu yang telah addict dalam dunia maya akan merasa kesepian dan tidak nyaman untuk kembali ke dunia nyata. Hal ini bisa jadi karena individu itu merasa bahwa dunia maya lebih memuaskan dan lebih menyenangkan dibandingkan dunia nyata. Hal ini menciptakan sebuah lingkaran setan yang tidak terputus, ketika individu memasuki dunia nyata dan melihat kenyataan tidak seindah dunia maya maka ia kembali ke dalam dunia maya yang merupakan zona aman bagi dirinya. Hal ini terus berulang hingga ia tidak menyadari bahwa ia sudah terlalu lama dalam dunia maya. Seperti ditelan hidup-hidup, tidak merasakan sakit, begitu tersadar kita sudah dicerna oleh penolakkan dan kesepian yang sedikit banyak kita ciptakan sendiri.

Masuk ke bagian aplikasi, mungkin sudah saatnya kita kembali ke dunia nyata dan membenahi apa yang ada. Bangun dari dunia impian. Keluar dari zona aman. Bersama orang-orang yang anda kasihi, orang-orang yang penting bagi kita semua. Atau mungkin anda bisa menolong menyadarkan teman anda?

Selasa, 22 Februari 2011

Simple Love

Aku ingin mengartikan rasa ini dengan lebih sederhana
Seperti anak kecil yang menikmati permennya
Seperti haus dahaga yang terbasuh air
Hanya ada satu kata bahagia yang sederhana

Aku ingin menyentuhmu dengan cara yang sederhana
Seperti langit yang menyentuh bumi dengan hujan
Menyejukkan bumi yang haus dan layu
Sentuhan yang tidak muluk-muluk dan biasa saja

Aku ingin berkomunikasi dengan sederhana
Seperti lautan yang menyentuh bibir pantai
Sebuah kewajaran bila pantai memeluknya erat
Tak perlu ribuan kata manis terlontar daripadaku

Andaikan rasa ini begitu sederhana
Cecaplah dan temukan aku didalamnya
Dekaplah diriku dan biarkan rasa ini terurai
Sehingga dapat aku curahkan padamu
Cinta sederhana yang tak terurai lagi

Minggu, 06 Februari 2011

Against All Odd

Hmmm
How can I just let you walk away
Just let you leave without a trace
When I stand here taking
Every breath with you ohhh
You're the only one
Who really knew me at all

How can you just walk away from me
When all I can do is watch you leave
'Cause we've shared the laughter and the pain
And even shared the tears
You're the only one
Who really knew me at all

So take a look at me now
'Cause there's just an empty space
And there's nothing left here to remind me
Just the memory of your face
So take a look at me now
'Cause there's just an empty space
And you coming back to me is against the odds
And that's what I've got to face

I wish I could just make you turn around
Turn around and see me cry
There's so much I need to say to you
So many reasons why
You're the only one
Who really knew me at all

So take a look at me now
'Cause there's just an empty space
And there's nothing left here to remind me
Just the memory of your face
So Take a look at me now
So there's just an empty space
But to wait for you
is All I can do
When that's what I've got to face

Take a good look at me now
'Cause l'll still be standing (standing here)
And you coming back to me is against all odds
That's the chance I've got to take

Yeahh yeah yeah
Take A look at me now
(Take A Look at me now)

Minggu, 30 Januari 2011

Nilai seorang mahasiswa

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman meributkan masalah dua digit. Hari ini giliran saya yang bingung karena masalah IP. Minggu lalu, saya berhadapan dengan seorang dosen pengampu Psikologi Lintas Budaya. Kebetulan teman saya yang mengolah data tersebut. Saya ikut menyaksikan bagaimana nilai-nilai Ujian Akhir Semester (UAS) diolah. Di sana saya mendapati nilai C. Bukan nilai yang asing bagi saya. Saya memang bukan orang yang pintar dan sudah beberapa nilai C bertengger di Kartu Hasil Studi (KHS) saya. Teman saya ini menyarankan agar saya memberikan nilai peer rating yang memungkinkan saya untuk mengubah nilai. Awalnya saya berpikir untuk mengubah karena iri dengan teman-teman lain yang memiliki nilai di atas saya. Tapi saya merasa bahwa nilai itu memang pantas untuk saya. Mari perhatikan, saya tidak belajar untuk presentasi dan tidak menuliskan secara jelas jawaban dalam kuis. Pantaskah saya untuk protes? Rasanya tidak.

Kemudian dua orang teman berkata kepada saya untuk mengubah nilai tersebut. Mereka berkata bahwa teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Disini saya cukup kaget mendengar yang dikatakan teman saya itu. Jadi, nilai yang terpampang di layar laptop, yang saya pandangi saat ini adalah palsu? Hasil pengangkatan oleh penilaian teman. Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa banyak orang yang memandang nilai ini begitu penting? Apa iya mereka tidak bisa hidup kalau ada cacat dalam nilai? Mendapat nilai B/C atau C rasanya bukan akhir dunia. Ok, mungkin saya bisa berkata begini karena sudah ada nilai C yang bertengger di KHS saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menemui dosen pengampu Psikologi Lintas Budaya tersebut keesokan harinya.

Singkat cerita, saya berhasil mengubah nilai saya dengan menggunakan peer rating yang saya terima dari empat orang teman saya. Mereka memberi nilai rata-rata yang hampir sama. B. Untuk attractiveness (padahal saya tidak membawa apa pun untuk presentasi) dan untuk penguasaan materi. Dalam hati saya berpikir, mungkin sepantasnya saya protes dan bilang ke dosen tersebut untuk mengubah nilai menjadi D. Kemudian dua teman saya yang mengolah nilai tersebut datang ke kampus untuk mengubah nilai C saya. Kalau tidak salah ingat, porsi nilai yang saya dapat dari attractiveness dan penguasaan materi adalah 80% jika ditotal. Dengan kata lain, jika saya mendapat nilai B, maka saya akan mendapat nilai B juga untuk dipajang di KHS. Kemudian saya juga ingat dengan jelas bahwa nilai saya berubah menjadi B. Nyatanya tidak.

Beberapa hari lewat semenjak perubahan nilai itu. Saya kemudian melihat nilai saya dipampang pada situs resmi fakultas. Dengan rasa penasaran yang pasti dialami oleh semua mahasiswa. Nilai apa saja yang sudah muncul? Disitu saya melihat hanya ada satu nilai. Psikologi Lintas Budaya. Aneh, nilai yang tercetak di sana A/B. Sebagai mahasiswa tentu saya merasa kaget dengan nilai yang muncul ini. Saat itu saya sudah yakin mendapat B.

Saya merasa hal ini tidak benar dan ingin mempertanyakan langsung kepada dosen. Bagaimana mungkin? Saya yang seharusnya mendapat nilai D untuk mata kuliah ini mendadak dijejali dengan nilai A/B. Bertengger sendirian di sana. Nampak sekali kalau ia sedang menantang nilai lain yang belum memunculkan diri. Di tengah kekagetan saya, ada bisikkan yang masuk.
"Sudah tidak perlu diurus lagi, dosen itu pasti lelah dengan masalah nilai yang diperkarakan 1 minggu ini. Lagipula, apa tidak kasihan dengan temanmu yang sudah mengolah data? Mereka sampai kehujanan loh. Lagipula nilaimu bagus loh, sudah tinggi. Kenapa ingin diturunkan?"

Sesaat saya berpikir, mungkin benar. Sebaiknya tidak usah diusut lagi. Terlalu banyak perhatian yang tersita. Terlalu melelahkan harus berurusan dengan angka biner yang menjadi penghubung hidup dan mati beberapa mahasiswa. Di sisi yang lain, saya merasa ini tidak adil. Kenapa mahasiswa seperti saya bisa mendapatkan nilai A/B? Padahal saya tidak berusaha sejauh itu. Saya tidak memberikan yang terbaik sewaktu presentasi. Jadi, saya putuskan untuk menanyakan langsung kepada dosen. Kalau bisa mengubah A/B menjadi B. Saya cukup puas dengan nilai itu. Tidak perlu lebih tinggi.

Belum lama setelah saya mantapkan pilihan. Bisikkan lain mengikuti.
"Kenapa tidak bersyukur? Banyak orang yang menginginkan nilai tinggi itu dan sekarang kamu mencampakkannya begitu saja? Bukankah nilai A/B itu akan membahagiakan orang tuamu? Bukankah kamu ingin orang tuamu bahagia?Ayolah, kapan lagi kamu bisa mendapat nilai A/B?"

Saya kembali terhenyak. Benar. Selama ini nilai saya tidak memuaskan. Benar. Saya ingin membahagiakan orang tua. Ya, saya mengakui sebagai manusia. Sebagai seorang mahasiswa. Saya membutuhkan nilai A/B itu. Saya menyadari itu sebagai kebutuhan. Agar dapat mendapatkan pekerjaan layak. Agar mendongkrak nilai. Agar bisa membahagiakan orang tua. Tapi bukan dengan cara itu. Bukan dengan mengelabui semua orang termasuk diri sendiri. Membanggakan diri dengan nilai tinggi tanpa kerja keras rasanya tak pantas. Ya, aku membutuhkan nilai itu. Tapi dengan kemampuanku sendiri. Setiap kali melihat teman-teman yang berusaha keras atau mendapat nilai baik seringkali terlintas,"Kenapa saya tidak berjuang lebih keras?"

Kemudian saya mengangkat kepala. Menyadari bahwa diri saya pun menginginkan nilai. Saya sombong dan angkuh. Tapi, sudah saya bulatkan tekad untuk mengubah nilai saya ke nilai seharusnya. B. Walau pasti akan sulit menemui dosen dan mengubah nilai tersebut. Seoran pernah berkata,"Lakukanlah apa yang menurut kamu benar. Mungkin tidak ada alasan logis atau hal itu dianggap tidak wajar oleh orang lain. Tetapi itu berarti jujur kepada diri sendiri."

Saat ini saya masih kebingungan dengan langkah yang akan saya ambil. Mengubah atau tidak. Saya tidak seratus persen yakin bahwa hal ini baik untuk dilakukan. Tapi saya juga tidak bisa diam melihat nilai saya yang tidak pantas itu.

One does not become enlightened by imagining figures of light, but by making the darkness conscious.
-Carl. G. Jung-

Minggu, 23 Januari 2011

Koin 3

Aku selalu bertanya kepadanya apa yang telah ia lakukan sampai saat ini. Mempertanyakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Bertanya apa tujuan sebenarnya ia melakukan hal ini dan hal itu. Seringkali aku heran kenapa ada orang seperti dia. Dia selalu berusaha sekuat yang ia bisa, seringkali tidak memikirkan diri sendiri. Dirinya selalu berjuang sendiri memegang beban yang seharusnya bisa ia bagikan pada orang lain. Bahkan aku pun jarang sekali mendengar ia meminta tolong. Ia berusaha melakukan segala sesuatu sendiri. Terus meyakinkan bahwa ia bisa melakukannya sendiri, bahwa ia harus menjadi seorang yang kuat, seorang yang tidak bergantung pada orang. Aku pun bertanya pada dirinya,"Kenapa kamu berjuang sekeras ini?" Dan ia pun menjawab,"Karena aku tak menemukan alasan untuk tidak berjuang sekeras mungkin."

Dirinya berjalan sendirian. Ia menatap lurus ke depan dan melihat kondisi di sekelilingnya tapi tak pernah ia melihat ke belakang. Ia tak pernah memerhatikan sisi kiri dan kanannya. Ia berusaha untuk tetap berjalan di tengah. Daerah netral dimana ia bisa melihat segalanya dengan porsi yang sama. Tidak berat sebelah. Aku semakin bingung dengan orang ini. Ia bergerak begitu saja untuk melakukan apa yang ia rasa baik. Mempertaruhkan segalanya di situ. Selalu memikirkan apa yang dapat ia lakukan untuk orang lain. Suatu kali ia pernah berkata,"Ketika aku melakukan sesuatu untuk orang lain, aku dapat melihat senyuman di wajah mereka. Itulah yang paling membahagiakanku." Kemudian aku membalasnya dengan bertanya,"lalu apa yang ingin kamu lakukan? Apa tujuan hidupmu?" Ia terdiam cukup lama hingga aku harus mengulang pertanyaanku. Ia tersenyum dan membalas,"Aku ingin setiap orang menjadi orang yang hebat karena aku percaya setiap orang pasti memiliki kelebihan. Aku ingin membantu mereka menemukan kelebihan itu." Aku terhenyak sebelum aku bertanya lagi kepadanya. "Jadi, apa yang telah kamu lakukan sampai saat ini?"

"Mempersiapkan diriku untuk memahami orang banyak. Menyiapkan diriku untuk bisa membuat orang lain tersenyum. Berkata pada dirinya sendiri kalau ia memiliki sesuatu yang berharga."

Ia berjalan lagi. Sendirian. Aku tak mengerti kenapa ia tak pernah mengajakku. Padahal aku berada sangat dekat dengan dirinya. Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh, ia berjalan dengan lambat tapi pasti. Terkadang ia berhenti lama sebelum ia melangkah lagi. Aku terus menatapnya sebelum memutuskan untuk mengejarnya. Beberapa kali ia diam untuk melihat peristiwa-peristiwa yang berlangsung disekitarnya. Ketika itu ia mulai berkomentar. Ia menyatakan apa yang menurutnya benar. Lalu aku menjadi pendengar yang baik. Duduk manis di kursi tinggi. Lengkap dengan penyangga agar aku tidak jatuh. Ia kemudian membandingkan pengalaman yang ia alami dan mulai mengurutkannya. Aku bertanya,"Apa yang kamu lakukan selanjutnya?" Ia diam lagi. Cukup lama, aku bahkan telah selesai melahap bubur yang disediakan sesaat setelah aku bertanya padanya. Hening. Aku hanya mendengar suara air yang sayup-sayup. Hmm... hujan yah? Pikirku. Kemudian aku menatapnya, mencoba menangkap matanya agar ia menjawab. Hei!! Ucapku mencoba menyadarkannya. Cukup berhasil. Jadi? Tanyaku penasaran. "Entah, tapi rasanya aku akan mencoba melakukan yang terbaik jika aku dihadapkan pada suatu masalah. Aku tak mau menyerah sebelum aku mencoba." Kemudian ia menyantap makanan yang ada dihadapanya. Makanan itu datang bersamaan dengan bubur yang telah selesai kulahap tadi. Pasti sudah dingin. Pikirku mengingat hujan telah turun cukup lama dan waktu yang kuhabiskan untuk semangkuk bubur tadi. "Dingin yah?" Ucapnya tiba-tiba.

Waktu berlalu sangat lambat. Mungkin karena faktor cuaca yang mendukung. Ya, hujan masih mengguyur dan kami terjebak disini. Bersama dengan beberapa orang yang nampak tidak peduli. Mereka masih asik mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Suara hujan ini cukup mengganggu pendengaranku. Tidak parah, tapi cukup untuk membuatku tak bisa mendengar percakapan orang lain kecuali satu yang sedang semeja denganku. Dan parahnya ia tak bersuara. Hanya pandangannya menatap kosong ke arah jendela. Aku melambaikan tangan tepat di depan wajahnya. Cukup untuk menarik perhatiannya kepadaku. "Apa yang kamu pikirkan?" Ucapku membuka percakapan. "Tidak banyak, aku hanya berpikir pernahkah dirimu mempertanyakan apa tujuanmu selama ini. Kamu tahu? Visi." Hah? Seruku dalam hati. Kenapa mendadak berbicara visi? Kenapa tidak membuka pertanyaan dengan guyonan atau lelucon? Salah satu hal yang kurang kusukai darinya. "Memangnya ada apa? Kamu mau menceritakan visi yang kamu miliki?" Ucapku penasaran. "Tidak, tapi terkadang aku merasa kalau aku tidak bergerak kemana pun. Beberapa kali aku bertanya apa benar ini pantas kulakukan?" Ucapnya, lagi-lagi dengan nada serius. Aneh juga mendengar hal itu dari dirinya, selama ini aku pikir ia berjalan dengan mantap dan tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ternyata tidak juga. "Aku tidak memikirkan visi. Aku menjalani apa yang bisa kujalani sekarang." Ucapku. Suasana menjadi hening kembali. Rasanya tetesan hujan itu bergerak dengan sangat lambat. Kurang dari 5cm per detik. Pikirku dalam hati. Tapi aku menikmati gemercik yang diciptakannya, cukup untuk menulikanku dari percakapan orang disekitar. Hujan turun semakin deras.


"Hujannya lama yah?" Ucapnya memecah fokus.

Jumat, 24 Desember 2010

savior

I don't know what to say. Here I am standing around with funny face. I just didn't realize when it was start. When I read my friends note, sometimes I feel sad and some part of me wants to hear what he really feel. I want to talk with him then again. I just didn't get it. It's like I want him to share what he feels to me. All of his thought, all of his pain, all of his sadness, all of his happiness. Everything. I feel this is not usually. Know why? Because usually I don't care what others think or feel. Then why?

It is like I want to know him better. It feels like he is the one I could ask to talk. But when the time is come, my tongue was twisted. My lip was tighten up. I don't know what should I say. I don't know where to start. That is why I keep on silence. But tonight I realize that what I feel was wrong. I was thinking, maybe I just want to be needed, I want to look strong. But in the end I was the one that helpless.

I know it's too late for me to realize it. I want someone to talk. When I saw his notes about how is he feel, I kinda feel the same way that I want to talk about it. But in the same time I feel helpless so I denied it. And that is how I make a wall. I don't want others know about me. But I want to know others better. Kinda selfish right? Day by day, every time this feelings come and I didn't talk to him I feel the wall become bigger and bigger.

I don't know when this weird feelings start. But I feel like I want to hear everyone story. Everything. When they didn't say any I got strange feeling. I feel anxious, insecure. I hate it. I want to become strong. I don't want to rely on someone. But in the end, I feel so helpless. So I try stand with my own feet. I think this one called savior syndrome. Iwant to be needed. I want to do something for someone else. But in the end I feel screwed up. This feeling, that I want to help other. I don't think it something bad but to feel almighty because of it, to feel I was the only that can do a thing I have to face it. That's why, I'll face my self.

Rabu, 15 Desember 2010

Jealousy

The situation never right. How should I supposed to meet you now? Every here and now I could never been better. Each time I see your wings spreads. Each time I see you floating. Can I ever catch you? Deep in my heart I want you to depends on me. I want to become a place where you can landing. Take a rest. But it is me who depends on you. I don't know what should I do if you weren't there.

I was so jealous of you. You are the one everybody talking about. You have everything that I didn't have. When I am with you I feel so happy and sad in a same time. Can you understand why? I am happy because you was there, because you are my precious friend. But it feels sad that no one look at me. If I compared to you... I am nothing.

This feeling, I hate it so much. Then I start thinking maybe I should look for what best for me. And without realize, we were apart. I became too selfish that I ignore what you feel. I just going on and on and on. I feel so sorry. This feeling just like wall. I couldn't get closed to you. And the walls keep grow. I am so sorry. What kind of friend am I?

That's why I am here now. I will there with you. Not because I want you to need me but because you are my precious friend. I want to protect this feeling. I know I am not that smart, I have many weaknesses. But if you were there I can grow as strong as I need. That's why I'll always by your side.

This feeling. It was part of me. Even if I denied it, it was exist. It exist deep in my heart. I want you to rely on me. I want to become stronger. But now, I have this feeling. I want to by your side, that's all. Protecting what important to me. And protect what important for others.

Kangen

"Bagaimana rasanya merindukan seseorang?" Celetuk diriku saat berjalan disalah satu ruas kota Yogyakarta. Pikiran ini terus kubawa hingga ruang kelas. Saat itu salah seorang temanku sedang pergi ke luar kota dimana tidak ada sinyal yang mampu menjangkaunya. Kemudian salah seorang dari antara temanku yang lain bertanya apakah aku mengetahui kemana dia pergi. "ke gua mungkin? Bertapa." Jawabku sekenanya. Kemudian ia lanjut bertanya,"kamu nggak kangen?"

"kangen?" Sedetik kemudian otakku mulai melakukan proses kolaborasi antara kognisi dan afeksi.

"Hmmm... Itu bahasa apa ya? Dalam kamus yang aku punya tidak ada yang namanya kangen." Afeksiku menjawab dengan tenang.
"Aku juga tidak tahu itu makhluk apa." Jawab kognisi.

Pernah merindukan seseorang? Tanya kursi coklat yang masih "jomblo" di sebelahku. Kemudian si kognisi mulai menderetkan nama-nama orang yang aku kenal dan bertanya pada afeksi apakah ia pernah menjadi orang yang benar-benar ingin aku temui. Afeksi menggelengkan kepalanya. Kognisi kembali mengurutkan orang yang aku kenal. Kali ini dengan form yang lebih lengkap. Wajah, nama, pertama kali bertemu, hingga kesan yang ditimbulkan. Tetapi lagi-lagi afeksi menggeleng.

Bagaimana dengan orangtua? Lontar layar LCD yang menatapku lekat. Ayolah dirimu sudah 5 semester berada di Yogyakarta dan jarang sekali dirimu pulang kerumah iya kan? Selidik LCD itu mencoba menelisik lebih dalam. Dirimu tidak memiliki kerabat di Yogyakarta. Apa kamu tidak iri dengan teman-teman yang bisa bertemu orangtuanya setiap hari? Tidak. Jawab afeksi (tentu saja) tanpa berpikir.

Afeksi kemudian bertanya pada LCD. Perasaan seperti apakah "kangen" itu? Jangan-jangan perasaan itu tidak ter-install baik sehingga afeksi tidak dapat mencari datanya. Atau jangan-jangan file tersebut corrupted atau mungkin ter-uninstall secara tidak sengaja? Mana aku tahu! Balas LCD. Aku tak pernah merasa seperti itu. Bahkan aku tak memiliki perasaan!

Kognisi mengambil alih. Ingatkah kamu ketika temanmu berkata ia perlu me-refill cairan rindunya pada orangtua sehingga ia pulang? Atau ketika senpai berkata ia rindu dengan suasana rumahnya. Oh iya benar saat itu ya? Lalu kenapa? Aku balik bertanya. Sepertinya itu yang namanya kangen. Ketika dirimu tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang kamu sayangi. Hal-hal yang membuat dirimu nyaman. menghantui dirimu untuk menemukannya lagi. Mungkin itu yang namanya kangen.

Lalu, kenapa perasaan itu muncul? Tanyaku heran. Karena dirimu tidak lagi berada disuasana tersebut. Dirimu yang telah terbiasa dengan situasi yang ada. Ketika kamu kehilangan situasi itu kamu berpikir ada sesuatu yang hilang dan kamu ingin itu kembali. Seperti kehilangan salah satu anggota tubuhmu.

Pikiranku membawaku kembali ke masa lalu. Ketika itu aku masih semester awal kuliah. Ketika teman-teman pulang untuk libur minggu tenang. Aku menemukan diriku seperti alien yang menemukan planet hunian baru. Aku tak terpikir untuk pulang. Beberapa teman bahkan kakak angkatan bertanya,"Kamu nggak mudik?" Dan dengan cepat aku balas," liburnya pendek dan aku tak merasa ingin pulang."

Aneh. Itulah komentar pertama yang keluar dari mulut tiap orang ketika aku mengambil keputusan ini. Mereka berpikir memangnya apa yang akan aku lakukan diYogyakarta? Untuk apa bertahan disana? Tapi aku memiliki penilaianku sendiri. Kenapa aku harus pulang? Bukankah tidak ada peraturan yang baku bahwa seorang mahasiswa harus pulang. Bukankah akan memakan biaya ketika aku pulang? Aku merasa tetap di Yogyakarta adalah pilihan yang tepat. Bukan karena masalah keluarga atau apa. Tetapi lebih kepada diriku yang tak merasa bergantung pada siapa pun termasuk keluargaku. Apakah aku perlu meng-install program kangen?

Sabtu, 04 Desember 2010

Itadakimasu!!

"Irasaimase!" Suara mereka terdengar begitu langkah pertamaku tiba didepan toko ini. Sebuah toko kecil di dekat Mirota kampus. Perlahan aku ambil kursi coklat yang sedang lengang di sebelah Utara. Aku terduduk menanti sang pramusaji datang membawa menu. Toko ini bernuansa Jepang, dengan berbagai hal berbau Jepang yang dilempar ke tiap sisi dipetak kecil ini. Mulai dari topeng, peralatan cos-play, lukisan, hingga pedang kayu. Aku masih asyik dengan lukisan sewaktu sang pramusaji tiba, membawa selembar daftar menu, handuk kecil, ballpoint, dan tidak lupa senyuman.

Aku pindahkan keasyikanku kepada mainan baru itu. Menu. Apa yang akan kamu pesan? Bisikku dalam keheningan. Sang Pramusaji meninggalkan diriku diam beberapa saat, masuk ke dunia aneh yang muncul diambang kebingungan. Jadi pesan apa? Tanyaku sekali lagi. Ada lima digit angka ditiap menu makanannya dan empat digit angka mengambang di bagian minuman. Jadi? Tanyaku sekali lagi dengan nada menunggu. Kulirik lagi menu makanan yang diisi oleh bilangan biner layaknya kode-kode yang pernah kulihat dalam film-film.

Tatapanku menganalisa setiap makanan dan deskripsinya. Seperti seorang polisi yang menginterogasi kuperhatikan hal-hal kecil mulai dari harga hingga komposisi. Satu per satu mulai kutelisik tanpa terlewat satu pun. Hoi mau pesan apa?! Teriakan itu mengagetkanku, teriakkanku sendiri. Sabarlah sedikit, aku harus memastikan masih bisa hidup besok, lusa atau tiga hari lagi. Ucapku mencoba menenangkan.

Sial! Makanan ini terlalu mahal untuk diriku saat ini. Tetapi terlalu menggoda untuk ditinggalkan ! Aku tak bisa memilih juga tak bisa meninggalkan begitu saja apa lagi setelah momen pramusaji tadi. Mataku mulai mencari ke deretan makanan termurah yang ada pada daftar menu. Satu menit. Dua menit. Sial! Berkali dilihat hasilnya sama saja, hanya ada bilangan biner yang berderet sebanyak lima kolom.

Akhirnya, aku menemukan satu menu yang nampak tidak terlalu mahal. Onigiri. Nasi yang dibalut dengan nori (rumput laut) diberi garam. Hmmm... mungkin ini bisa jadi alternatif, kalau dilihat pasti harganya murah dibandingkan teman-teman "genk" lainnya. Kemudian kutatap harganya... MAHAL.

OK, cukup dengan memilih makanan berdasarkan harga. Kalau tidak dapat menemukan yang "murah" dari menu makanan mahal sebaiknya sekalian saja cari yang kelihatan enak. Pikirku dalam hati. NICE CHOICE. Sejenak aku terdiam, tidak menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengetahui jenis makanan apa yang disajikan. Walau ditulis dengan deskripsi bahasa Indonesia tetapi nama makanan ditulis menggunakan nama Jepang alhasil yang saya ketahui hanya onigiri dan ramen karena sering muncul di film-film Jepang. Selamat Anda telah masuk ke sebuah tempat yang seharusnya tidak anda masuki sejak awal! Ledekku begitu menyadari kebodohan sendiri.

Mataku kembali mencari. Sesuatu untuk dimakan. Sesuatu yang masih bisa aku cerna dan tidak menjebol kantung baju atau saku celanaku. Aku mencari dengan memerhatikan bentuk dari makanan tersebut. Mungkin saja ada yang aku kenal. Bisikku menenangkan diri. Dan akhirnya kutemukan dirinya melirik manis ke arahku. Aku bisa kamu makan loh. Ucap makanan yang tergambar disana. Nasi Goreng. Pertama kelabakan lihat harga, kedua bingung karena masalah nama, sekarang datang ke tempat mahal cuma untuk menyantap nasi goreng. NICE.

Nasi goreng ini masih menggunakan kode biner, setidaknya aku tahu itu apa. Dan paling tidak aku bisa makan! Waktunya beranjak ke menu pelepas dahaga. Mataku melirik, mencari tahu apakah nama minuman ini juga tidak manusiawi untuk makhluk pribumi sepertiku. Fuh... Syukurlah bahasa Inggris! Ok, ada beberapa dengan nama Jepang. Minuman standar pun ada (baca: es teh dan es jeruk). Karena makanan sudah menggunakan lima digit dan kode biner aku putuskan untuk mencari minuman yang tidak membuat kepala botak atau mengubah saya menjadi Einstein. Aku melirik dari yang (lagi-lagi) kukira paling murah. Es Teh. Dan dugaan saya meleset lagi, ternyata saya tidak boleh meremehkan tempat ini. Walau ukuran toko ini kecil dan nampak simple tapi melihat harga es teh yang setara dua bungkus nasi kucing plus gorengan. Rasanya mengerikan.

Sudah, kalau tidak ada yang murah, cari yang mahal dan enak! Bisikan itu datang lagi. Tapi kali ini aku ragu. Jika aku mengikuti perkataan itu apa aku masih hidup 2-3 hari ke depan? Apa saya tidak akan berakhir diangkringan dengan nasi kucing dan teh hangat yang selalu dapat diandalkan itu? Rasanya seperti ditendang dari pintu surga dan langsung masuk ke neraka. Ok, mungkin surga yang satu ini tidak cocok untuk setan seperti saya. Jadi saya putuskan untuk memilih. Saat yang menentukan telah tiba. Lagi-lagi sebuah suara memanggil. Kali ini dari sebuah coklat hangat yang melambai-lambai agar dapat tertangkap oleh mataku. Hmm... Coklat panas untuk menemani nasi goreng? Aneh.

"Memang kamu punya pilihan lain?"
"Jus mungkin?"
"Ya, benar dan kamu akan melewatkan kesempatan menikmati surga."
"Kalau begitu bagaimana kalau es teh?"
"Kamu bisa meminumnya di neraka nanti."

Ok, saya kalah. Bring that chocolate here! Dengan berat hati saya mulai menarikan ballpoint. Detik yang berlalu terasa begitu lambat. Rasanya tidak rela harus menggerakkan ballpoint itu. Seluruh jiwaku masih memberi perlawanan untuk menghentikan gerakan bunuh diri yang dilakukan oleh tangan kananku. Tapi semuanya tidak berhasil. Ya, roh memang kuat dalam hal-hal seperti pendirian tapi daging saya yang tidak kuat menahan godaan memiliki tenaga yang lebih besar. Apa saya sedang berada pada scene terakhir sinetron sehingga saya bergerak dengan slow motion? Rasanya tidak. Pertama saya bukan artis dan yang terpenting disini tidak ada kamera atau script yang saya baca.

Aku panggil sang pramusaji yang sedang bercanda dengan dua kawannya dibalik kasir. Sudah. Ucapku mencoba mengalihkan perhatian. Ya, aku sudah siap untuk dihukum mati dan inilah pesan terakhirku. Pikirku seraya memberikan daftar pesanan. Pramusaji itu membacakannya, mengulangi dying message yang kutulis sendiri. Dia membacakan bagaimana aku akan berakhir! Setelah memastikan apakah aku siap menelan racun yang resepnya kutulis sendiri, sang algojo kembali ke ruangannya. Menyiapkan racun yang siap membunuhku 2-3 hari ke depan. Aku perhatikan dirinya yang berjalan dengan baju kebesarannya. Baju pramusaji ala Jepang.

Selasa, 02 November 2010

One more time, one more chance

kore ijou nani wo ushinaeba kokoro wa uru sareru no
dore hodo no itaimi naraba mou ichido kimi ni aeru

One more time kisetsu yo utsurowanai de
One more time fuzake atta jikan yo

Kui chigau toki wa itsumo boku ga saki ni oreta ne
Wagamama na seikaku ga na osara aishiku saseta

One more chance kioku ni ashi wo torarete
One more chance tsugi no basho wo erabe nai

Itsudemo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Mukai no HOOMU roji ura no mado
Konna toko ni iru hazumonai no ni
Negai ga moshi mo kanau nara ima sugu kimo no moto e

Dekinai koto wa mou nani mo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo


Natsu no omoide ga mawaru Uh...
Fui ni kieta kodou

Itsudemo sagashite iru yo dokka ni kimi no sugata wo
Akegata no machi sakura ki Chyou de

Konna toko ni iru hazumonai no ni
Negai ga moshi mo kanau nara ima sugu kimo no moto e
Dekinai koto wa mou nani mo nai
Subete kakete dakishimete miseru yo
Show me your complete embrace

Itsudemo sagashite shimau dokka ni kimi no egao wo
Kuukou machi no fumikiri atari
Konna toko ni iru hazu mo nai no ni

Inochi ga kurikaesu naraba nandomo kimi no moto e
Hoshii mo no nado mou nani mo nai
Kimi no hoka ni taisetsu na mono nado

Jumat, 01 Oktober 2010

Satu hari

Pagi ini aku menyanyikan sebuah lagu dengan banyak kata jika dan andai. Aku mulai menuliskan lirik dan syairnya pada sebuah pohon kayu keras didekat rumahku. Pohon yang terpatri erat disana entah sejak kapan. Kesanalah aku pergi setiap kali aku menangis, tertawa, dan bersembunyi. Pohon inilah yang menjagaiku. Aku tidak tahu nama pohon ini, begitu juga dengan seluruh anggota keluargaku. Pohon ini tak pernah berbuah, hanya terdiam di sudut dekat jendela kamarku. Beberapa kali kubayangkan bagaimanakah bentuk buahnya. Ya, pohon ini tak berbuah sekalipun jadi aku tak tahu apakh ini pohon apel, jeruk, atau pohon lainnya.

Siang ini aku bergerak mengikuti nada yang telah kunyanyikan. Nada yang sumbang dan tak tentu arahnya. Tapi aku menikmati setiap suara yang kulantunkan. Bunyi-bunyian yang terasa begitu nyaman bagiku dengan begitu banyak kata jika dan andai didalamnya. Walau bagi orang lain tentu terdengar benar-benar aneh tapi aku nyaman dengan melodi ini. Aku ingin menikmati momen dimana aku bisa sebebas ini, setiap saat dimana diriku benar-benar hadir disini.

Malam ini aku ingin sayapku tumbuh!! Aku tahu itu mustahil karena manusia adalah mamalia dan mamalia tidak memiliki sayap tapi malam ini aku ingin terbang melayang bebas di udara. Malam ini aku tak ingin tidur, rasanya ingin mengeluarkan seluruh energi dalam tubuhku. Seperti anak kecil yang menemukan mainan barunya aku berlarian keluar berhamburan bersama bintang-bintang malam ini. Tumbuhlah sayapku!!! Aku ingin keluar dari rutinitas ini dan terlelap diruangan baru dihari lain dimana aku akan kembali menuliskan begitu banyak jika dan andai.


Today I wandering...
Why I need wings?
Keep wandering in my heartbeat
Why I wish for those wings?
Didi I want to escape?
If that so... from what?

Why I used that sword?
Is it to hurt someone?
Is it for hurting myself?

Why I want that swords?
Did I want to hurt somebody?
Or did I want to protect them?

Those eyes... What kind of thing I wanna see?
Am I seek for something?
What if... It was the way I express my feeling
Hate, sad, happiness, and glad

Kamis, 16 September 2010

Life

Let's go jumping
Let's go dancing
Let's go singing
Don't let go off the party

Today the sun seems brighter than ever
The star is staring at us
Shall we move then?
Following the rythm of our life

Let the rythm bring you to your passion
Keep your eyes on it's signs
Use your ears and listen
Just listen and remain silent

Let's jump higher higher and higher
Let's go dance dance dance
Let's sing more and more
It's the reason you were here

Let's make a wish
Throw it to the star
Burry it under the tree
Or let the wave bring it to other side

It's our time then
Time to go even higher
Time to go even wilder
It's our life
I'll make a meaning of it
The reason you were here

Follow the rythm of your heart
Start to move on and on
Yelling our wish outloud
Looking higher and higher
The meaning...
The reason...
The answer...
Life...