Tampilkan postingan dengan label The gloom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The gloom. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Februari 2011

Mengapa dirimu muncul kembali?

Kenapa bayangmu hadir kembali saat aku berjalan di bawah teduhnya malam? Dahulu aku yakin telah melarikan diri dari sosokmu yang selalu membuatku tersenyum. Mengingat akan dirimu adalah suatu masa yang pahit karena kita tak mungkin bersama. Dirimu berada di ujung dunia yang berwarna putih, sedangkan aku terjebak dalam dunia yang gelap. Memoriku masih merekam dengan jelas sosokmu yang kerap hadir menghiasi duniaku, siang maupun malam. Membuatku semakin sulit menghapus dirimu dari dalam ingatanku.

Kenyataan bahwa aku tidak sedang bermimpi membuatku semakin terluka. Dirimu begitu nyata hadir dalam setiap lamunanku, kastil yang terbuat dari mimpi tentangmu. Andai saja aku sedang bermimpi, kuharap aku bangun dengan segera dan mendapati dirimu yang nyata ada sisiku. Aku hanya mampu menyentuhmu lewat mimpi. Tapi itu jelas tak mungkin. Karena dirimu terlalu nyata untuk masuk ke dalam dunia seorang pemimpi sepertiku. Terlalu nyata untuk kusentuh dalam mimpi.

Berkali aku mencoba memberikan sebuah kode kepadamu sebagai sebuah isyarat bahwa aku memerhatikanmu. Sadarkah dirimu yang ada disana? Kenapa dirimu tak berpaling ke arahku? Apa karena kode yang kuberikan tidak jelas? Atau karena dirimu memang tak bisa masuk dalam dunia pemimpi?

Aku tak bisa melupakan caramu membentuk sebuah lengkungan di pipimu. Aku tak pernah lupa bagaimana duniamu bertubrukan dengan duniaku. Satu hal yang paling kusukai tentangmu adalah bagaimana dirimu mau bekerja keras. Sikap pesimismu yang membuatku semakin tak bisa melupakanmu.

Aku membayangkan dirimu akan menjadi seorang ibu yang baik. Seorang yang bisa menjadi sahabat dan sosok yang dekat dengan anakmu kelak. Kemudian dirimu akan berada disebuah rumah dengan halaman yang teduh. Pepohonan seolah bernyanyi mengikuti irama nina bobo yang kau lantunkan untuk si mungil. Tatapanmu teduh menenangkannya. Dengan sedikit bercanda dirimu mengimajinasikan apa yang terjadi padanya kelak. Di sebelahmu duduklah seorang laki-laki yang menatapmu dengan penuh kasih yang lekat. Seolah dirinya tak menginginkan dirimu menjauh. Tak lama aku tersadar dengan perih dalam hatiku, menyadari bahwa laki-laki itu tak mungkin diriku.

Aku tak pernah menjadi sosok yang kau inginkan. Kriteria yang dirimu sebutkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada padaku. Aku berdiri di daerah hitam tetapi dirimu berada di daerah putih yang bersinar. Kita dipisahkan sebuah jurang lebar yang membuatku tak bisa mendekatimu. Aku pernah mematikan perasaan ini agar aku tak bermimpi terlalu jauh. Tidak terbang dengan impian yang tak mungkin terwujud. Tapi dirimu kembali datang dalam tidurku sekarang. Dan siklus yang sama kembali terulang. Kemudian di atas semua itu aku harus kembali berusaha mematikan perasaan ini kembali.

Rabu, 10 November 2010

Udara

Udara. Berlarian disekitarku dengan langkah kecilnya ia berputar dan menari-nari. Ku sapa dirinya dengan salam hangat dari seorang sahabat, Selamat pagi udara, hari ini kamu mau kemana?"

Hai udara, bisakah kau mengirimkan salam ku ini? Kepada seorang temanku yang bodoh dan selalu berlarian mencari tempat berlindung. Kepada temanku yang berputar-putar gelisah di kolong langit. Kepada kawanku yang tak pernah belajar. Kepada saudaraku yang sedang bertarung di medan perang sana. Katakan pada mereka bahwa tidak ada seorang yang benar-benar sendiri. Katakan pada mereka bahwa aku tak bisa membantu mereka karena ada tembok yang memisahkan diriku dengannya. Katakan padanya kalau ia tak perlu berlagak kuat untuk berhadapan dengan raksasa di hadapannya. Katakan juga padanya untuk berjalan maju walau ada kalanya ia harus duduk dan melihat ke belakang.

Udara. Aku rasa saat ini tak ada yang bisa kulakukan selain berusaha sebisaku. Aku ingin berbicara padanya saat ini, ada sesuatu yang ingin kuubah pada diriku. Ada sesuatu yang ingin kukatan pada dirinya yang jauh disana. Udara, sampaikanlah bisikan ini. Andai aku menjadi udara dapatkah aku mengatakannya langsung kepada ia? Ada yang ingin kukatakan. Udara, sampaikanlah rasa sesak di dadaku setiap mengingatnya, rasa marah yang muncul ketika tak mampu menerima dirinya, emosi pedih yang kurasa karena kenyataan bahwa aku menciptakan tembok antar aku dengan dia, kebencian terhadap diriku karena aku marah padanya, sampaikanlah aku ingin minta maaf. Katakan bahwa aku ingin berkawan dengannya karena tak mampu untukku menatapnya.

Minggu, 04 April 2010

Gee lyrics translation

Aha! Listen Boy My First Love Story
My Angel and My Girls
My sunshine
Oh! Oh! let's go!

You're so so handsome
My eyes my eyes are blinded
I can't breathe because I'm trembling

Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

Oh I feel so embarrassed
I can't look at you
I feel shy because I've fallen in love

Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

What should I do? (What should I do~) About my trembling heart (My trembling heart)

(Thump thump thump thump) My heart kept thumping
So I couldn't fall asleep at night

I guess I guess I'm a fool
A fool that knows you, only you
Yes, as I look at you~~

So bright so bright My eyes are blinded no no no no no
So surprised surprised I'm shocked oh oh oh oh oh
So tingly tingly my body is trembling gee gee gee gee gee
Oh glittering eyes (oh yeah~) Oh sweet aroma (oh yeah yeah yeah~)

Oh so so pretty
Your heart is so pretty
I was captured from first glance, caught so closely

Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

I can't touch it because it's so hot
I'm engulfed by love's fire completely

Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

What should I do (What should I do) because I'm so shy
(No no no no no) I don't know why but every day I long for only you

My close friends tell me
That I'm really a helpless fool
But as I look at you~~

So bright so bright My eyes are blinded no no no no no
So surprised surprised I'm shocked oh oh oh oh oh
So tingly tingly my body is trembling gee gee gee gee gee
Oh your glittering eyes (oh yeah~) Oh this sweet aroma (oh yeah yeah yeah~)

I can't even say anything
I'm too embarrassed

Do I not have any courage?
What would be the right thing to do?
Thump thump my heart is anxious as I'm looking at you

So bright so bright My eyes are blinded no no no no no
So surprised surprised I'm shocked oh oh oh oh oh
So tingly tingly my body is trembling gee gee gee gee gee
Oh your glittering eyes (oh yeah~) Oh this sweet aroma (oh yeah yeah yeah~)

So bright so bright My eyes are blinded no no no no no
So surprised surprised I'm shocked oh oh oh oh oh
So tingly tingly my body is trembling gee gee gee gee gee
Oh your glittering eyes (oh yeah~) Oh this sweet aroma (oh yeah yeah yeah~)

Jumat, 19 Maret 2010

Sorrowful Memory


Ada seorang anak kecil yang berusaha dewasa. Mencari tahu apa makna hidup sesungguhnya, mencari tentang arti menjadi dewasa. Dirinya mencoba bertahan, dalam dirinya telah tertanam bahwa penderitaan adalah bagian dimana ia dapat menjadi dewasa. Tetapi ada hal yang tak bisa dilakukannya, tetap saja ada hal yang tidak dimengerti olehnya, tetap saja ia ingin melarikan diri dari tatapan orang lain yang membuatnya tak nyaman. Tatapan yang membuat dirinya seolah sekecil marmut yang dapat terinjak jika luput dari pandangan.

Dirinya belajar bahwa dunia tidaklah seindah warna pelangi dan tidak semanis es krim strawberi favoritnya. Dirinya terus berusaha tak membuat seorang kecewa, melukai diri sendiri dan menyalahkan dirinya terasa seperti hobi yang semakin menjerumuskannya. Dirinya kecanduan. Kecanduan dengan rasa sakit yang berkelanjutan, yang berputar bagai spiral yang kontradiktif. Menyukai sekaligus membenci. Terkadang ia terduduk diam dalam lumpur hitam, terkadang ia berlari ke segala arah tanpa tujuan yang jelas, dan kadang kala ia memburu seperti tak pernah puas.

Dalam benaknya dunia adalah taman bermain dengan ribuan perangkap didalamnya. Dipenuhi hewan liar yang siap memangsa siapa pun yang lengah dan tak berdaya. Dirinya begitu ketakutan sehingga ia memutuskan untuk tetap setegar karang. Begitu takutnya sehingga ia memakai topeng dibelakang kepalanya dan memasang mata keempat dipunggungnya. Namun, semakin ia berjaga semakin takutlah ia. Si anak kecil berlari, auman rimba memaksanya dewasa sesuai apa yang ada dibenak si anak. Mencabik sang anak hingga robek dagingnya dan mengeluarkan darah tetapi ia terus berlari dalam sakit dan tangisnya.

"Aku ingin dewasa, Aku ingin menjadi kuat agar Aku tak perlu takut dan cemas lagi. Supaya aku dapat hidup tanpa tergantung di pohon yang menaungiku."

Sang anak kecil terdiam. Luka telah menusuk jantungnya dengan sangat parah menyebabkan kerusakan fatal sehingga darah yang masuk ke otak menjadi berkurang. Ia tak mampu berpikir, yang ia lakukan hanya terdampar disudut kota yang ramai. Berharap dapat tidur nyenyak malam ini. Sedikit demi sedikit lukanya membusuk tak terobati, ia bahkan tak merasakan lagi dimanakah luka itu. Pikirannya menjadi kosong. Lelah. Tak mampu terlelap, yang ada hanya memori menakutkan tentang hutan kecil yang menyita pikirannya. Melahap hatinya.

Anak itu berlari. Terus hingga mencapai titik nadir diujung pagi. Dan ia masih tertidur. Dengan cepat matahari menyelimuti tubuhnya, membakar luka yang tak dapat lagi dirasakannya. Luka yang membusuk seiring berjalannya waktu. Dia terjatuh. Tenggelam di dasar danau yang masih bernafaskan hawa dingin. Ia tertekan dalam arus tidal menyesakkan selama beberapa menit lamanya. Namun, berarti seribu tahun baginya sebelum akhirnya ia tiba di tepian meraba-raba dataran dan diam di situ. Terlelap.

Kamis, 18 Maret 2010

Hutan kecil

Ditengah hutan ini aku terlelap
Berputar-putar... Gelisah menantikan pagi dan kicau burung
Didalam selimutku yang nyaman dan hangat
Menghantarkanku pada mimpi tak berujung

Ditengah hutan aku berdiri dan terdiam
Ribuan nyanyian dan seruan mengikuti langkahku
Dibaliknya terdengar raungan kecil dan desisan
Dimanakah aku?

Sekali ini aku lihat bintang kecil bergemerlapan
Menenangkanku dalam tidur
Merangkulku di tengah gelisahku

Dan kali ini kulihat cahaya dari aurora
Menghantarkanku ke dalam pekat malam
Kali ini untuk tertidur lagi dan bangun lagi
Seperti harimau yang meraung

Ditengah hutan ini aku terjaga
Bersiap menangkap harimau yang tengah terjaga
Didalam tenda kecilku
Yang menghempasku jatuh
Yang membuatku terjaga

...Aku ingin tidur...

Kamis, 29 Oktober 2009

Aku telah jatuh dan...

Dan tibalah ia disini dengan gigi yang gemertakan, pupil matanya membesar dan tubuh yang bergetar. Inilah dia disudut mati antara rimbunnya pepohonan beton yang menjulang seolah menopang langit. Dirinya tak mampu beranjak dari sudut itu seolah kekuatannya telah habis dipakai untuk berlari, kali ini ia benar-benar terpuruk beberapa kali Ibunya memberikan tanda biru disekujur tubuhnya sebagai pelampiasan atas yang dilakukan sang Ayah dahulu ketika Ibunya masih sekolah. Ibunya selalu memaki sang Ayah dihadapannya, beberapa kali pula si anak dikutuki oleh Ibunya sendiri. Satu-satunya alasan ia tetap bertahan adalah karena harapan akan berubahnya sang Ibu menjadi lebih baik ketika kondisi ekonomi yang mencekik hingga leher itu menjadi lebih baik dan setidaknya sebuah senyum simpul dapat singgah dibibir Ibunya.

Tapi kali ini hal itu sudah tak mungkin lagi. Terlalu terlambat baginya untuk melihat senyuman dari sang Ibu, sesaat yang lalu sang Ibu mencoba membenamkan si anak ke bak mandi dirumahnya namun si anak tidak sampai meninggal dan setelah beberapa menit sang Ibu mengusirnya dari rumah. Satu-satunya tempat didunia ini yang mampu dikenalinya. Tempat dimana ia menyimpan semua memorinya selama 12 tahun lamanya. Tempat dimana ia menangis dan tertawa disela-sela krisis ekonomi yang makin mencekik dan mendesak aal sehat sang Ibu. Dirinya sudah tak tahu harus kemana lagi, semua impian dan harapannya hancur lebur karena bertabrakan dengan kenyataan yang mengantam begitu cepat bagai kereta yang melalui rumah kecilnya.

Dan inilah dia di sebuah kota besar dengan raungan yang mengancam setiap hari tak peduli apakah matahari sedang tidur atau terjaga. Makhluk yang lebih mengerikan daripada singa di padang rumput atau buaya di tepian sungai. Kemudian sampailah ia di sebuah pintu yang besar dan sangat mewah. Pintu itu memiliki gerbang yang sangat tinggi dan berwarna kuning keemasan. Pada gerbang itu terpampang tulisan "Lebih mudah unta masuk melalui lubang jarum daripada manusia dengan hartanya masuk kedalam"

Disitulah ia kini, berdiri mematung dihadapan gerbang yang tinggi dan baru pertama kali dilihatnya. Ia tak pernah melihat ada gerbang setinggi itu. Kemudian ia duduk disana berhari-hari lamanya sambil menengadahkan tangan kecilnya ke udara. Setidaknya ia dapat hidup beberapa hari lamanya tetapi rasa haus dan lapar yang tiada henti terus menyiksanya. Kemudian dengan sedikit takut ia mulai menetapkan hatinya dan mengetuk pintu gerbang besar yang ada didekatnya itu, bunyi bel bertaluh-taluh memnyeimbangkan simponi sesuai dengan irama jari si anak. Dari sana sebuah tempat yang ada nan jauh didalam keluarlah sang Tuan Rumah sambil membawa handuk dan makanan seolah Ia telah mengetahui apa yang dibutuhkan si anak. Dan sang anak pun bertanya,"Tuan izinkanlah aku beristirahat didalam aku telah berhari-hari kedinginan disini dan aku tak tahu harus kemana."

Sang Tuan Rumah menjawab," Aku tahu tapi kau tidak pernah mau membunyikan bel yang ada digerbang itu hingga hari ini, tiap harinya kau bersikeras menunjukkan bahwa dirimu mampu bertahan hidup sendirian dengan segala usahamu tapi Aku tahu kau tak bisa karena itu aku meminta beberapa pelayanku untuk memberikanmu roti dan uang untuk bertahan hidup walau Aku tahu itu tak akan cukup dan Aku terus menunggu untuk menyambutmu masuk kedalam Rumahku karena jika Aku yang mengambilmu pastilah kau akan menolak dengan berbagai alasan."

Mathew 7:7 "Ask and it will be given to you; seek and you will find; knock and the door will be opened to you. 8 For everyone who asks receives; he who seeks finds; and to him who knocks, the door will be opened.

Rabu, 02 September 2009

Konduktorku 18

Konduktorku tetaplah seorang pemuda tanggung berusia 18, secepat apa pun tangannya berayun dia tetaplah seorang 18. Tampaknya tanpa pemikiran kecil ini aku akan tetap membulat disalah satu pojok diruang kuliah. Bermandikan sendu dan pilu. Bisa dkatakan satu tahun aku mengenalnya, mungkin lebih cocok jika kukatakan aku mengetahuinya. Mengetahui ada seorang yang berlari dengan kecepatan 100 Km/detik hanya untuk mengejar waktu; berburu detik untuk mengejar dan terus mengejar. Terkadang aku mampu melihat punggungnya, walau hanya sekilas. Dia dengan cepat melewatiku, tak terlihat berapa kecepatannya. Mungkin Speedometer miliknya sudah rusak atau speedometernya memiliki jangkauan yang lebih jauh dari yang aku perkirakan. Dan entah kenapa rasanya malah aku, dengan kecepatan 0,2 Km/abad, meninggalkan dirinya.

Konduktorku seorang 18, yang tertawa dan tersenyum dikerumunan. Memasang wajah puas didepan semua orang seolah berkata, orkestra ini selesai dengan anggota yang hebat. Menyisakan aku yang menyisihkan diri dibelakang atau disampingnya dengan radius 900 juta tahun cahaya, terlihat tenang dan senang. Terkadang aku coba meraih bayangannya dengan kecepatan maksimalku, 10 Km/tahun, dan aku mengetahui itu sia-sia. Terkadang aku coba susupi pikirannya, mencari tahu mesin canggih apa yang bisa mendorongnya hingga milyaran langkah aku terlewati. Tapi akhirnya aku terkubur dalam anganku mengejar konduktor, yang semakin mirip komet atau bintang jatuh dan dia semakin hilang dariku.

Konduktorku 18, kini ia terlelap letih seusai latihan sore yang membuatnya sedih karena alunan lagu yang kacau balau. Dia tetaplah seorang manusia yang dapat merasa kecewa; sedih; marah; jatuh cinta; bahkan menjadi konyol dan bodoh. Dia hanya mampu kutatap sebatas punggung, karena perbedaan tinggi dan kecepatan yang tidak kecil. Latihan sore ini melelahkan, menjenuhkan. Kalau aura jenuh itu diubah menjadi air, mungkin kami akan tenggelam didalamnya tanpa mampu berteriak. Detik-detik menjelang hari H semakin dekat, semakin sesak udara disekitar kami.

Konduktorku pemuda 18, yang dengan konyolnya berekspresi dan berputar diantara medan kekuasaan disebelah Utara dan Selatan; atas dan bawah; kiri dan kanan. Hey, lihat sekelilingmu tidak ada seorang konduktor yang tidak memahami alat musik. Ya, dia hanyalah seorang tanggung 18. Yang terkadang menemukan arti tentang hidup, yang masih terombang-ambing di tengah samudera bernama perasaan, yang berputar untuk menjadikan semuanya baik, yang kukenal sebagai seorang 18.

Konduktorku hampir 19, dengan seorang Produser yang tiada duanya sebagai Teman sekaligus Atasan baginya. Sedikit yang kuketahui semakin baik, semakin sedikit yang kupikirkan semakin bagus, semakin asing diriku semakin lengang dan memang aku hanya sedikit dan sangat memaksa. Konduktorku 18, dengan kecepatan 100 Km/detik yang mampu kutangkap seperti bintang jatuh, yang menghilang dalam waktu kurang dari tiga tahun, yang karena bertemu dengannya aku semakin dewasa dan karenanya aku mengenal sang Produser.

Tahun ini akan ada banyak yang hilang. Konduktorku. Kakakku. Mimpiku. Sedihku. Malamku. Sepiku. Bulan, Bintang, Air, Angin, Hujan, Waktu, Nafas, Sungai dan Puisi.

Rabu, 05 Agustus 2009

Facing Your Shadow

Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan. Hanya untuk menolak dan tidak menghiraukan dirinya. Walau dirinya datang berbungkus pakaian rapi dan bagus tetap saja aku menolaknya. Dia adalah sosok yang selalu kubiarkan sendirian meraung seperti monster liar yang minta dilepaskan dari rantai yang menjerat erat lehernya. Tapi aku tak mau melepaskannya, walau tubuh ini telah penuh luka karena taring dan cakarnya yang tajam.

Disana ia berjalan sendiri ditengah lumnpur hidup yang menghisapnya masuk setiap kali dia mencoba melangkah. Dan aku dengan egoisnya memalingkan wajahku darinya. Menutup telinga seolah tak ada yang berteriak. Aku tidak kenal. Padahal dia selalu bersamaku walau aku mengekangnya, walau aku tak pernah membiarkannya keluar dia tetaplah ada. Aku selalu menyangkal dirinya dalam sadar dan itu membuatnya semakin mengejang dengan jeritannya akan kesakitan.

Terkadang jeritan itu semakin sulit aku acuhkan pernah beberapa kali ia lepas dari rantainya dan menyerang orang disekitarku tanpa kenal belas kasih. Menusuk dengan tajam langsung kedalam hati. Saat itu tatapannya penuh kebencian. Rasanya aku akan ditelannya. Aku Takut.

"Kenapa kau tidak pernah menanggapiku?" Tanyanya dengan nada tinggi.
"Ka... Karena... aku tidak... ingin kamu ada." Sahutku dengan sedikit takut.
"HMMPPHH... HAHAHAHAHAHAHA...." Gelak tawanya begitu lepas dan menggelegar sedangkan aku disini hampir menangis atas yang dilakukannya.
"Kamu pikir aku senang dengan keberadaanku yang seperti ini? TIDAK!!" Suaranya menggetar kembali.
"Aku hanya ingin kamu menerimaku, itu saja tidak lebih. Jika kamu bersikeras melupakan dan tidak menerimaku..." tiba-tiba suaranya melemas. " Aku... tidak tahu bagaimana... apa kamu tahu bagaimana rasanya tidak diinginkan?"

Perlahan aku mendekatkan diriku padanya. "Aku mengerti, maaf telah mengacuhkanmu. Dan terus menerus menyangkalmu." Aku tidak tahu bahwa dirinya begitu sakit sedangkan aku berusaha mati-matian mengacuhkan bahkan ingin membungkam dirinya seumur hidup. Aku harap mulai sekarang aku bisa lebih menerima dirinya dan tidak memalingkan diri. Karena dia adalah aku sendiri.

Aku terlalu lelah merantainya dan menyangkal dirinya. Aku ingin mengerti apa yang diinginkannya dan menetralisir semuanya bukannya membelah diri menjadi kutub Utara dan Selatan. Aku telah siap berhadapan dengannya. Bayanganku.

Minggu, 21 Juni 2009

Hari yang baru

Cukup! Lelah aku mendiami kubangan lumpur, bosan sudah aku dengan bilur darah yang mengalir. Aku muak melihat ratapan sedih dan tidak berdaya! Aku sudah berada kondisi seperti itu dalam yang cukup lama tapi tidak ada yang memberi pengertian tentang jalan keluar. Yang aku terima hanyalah pesan semangat dan usaha untuk mengeluarkanku dari kondisi ini. Apa tidak dapat dimengerti bahwa aku sedang menikmati saat ini? Aku sekali pun tidak menyesalinya, tapi malah ditarik dan menganggap bahwa aku ini sedang sekarat dan butuh pertolongan!

Aku tidak butuh pertolongan yang aku butuhkan hanya jawaban kenapa bertingkah seperti itu? Aku tahu kalau ini tidak baik tapi aku menikmatinya lalu kenapa kalian justru mencoba menghilangkan kesenangan itu? Aku hanya butuh sedikit waktu dan aku tegaskan bahwa aku ini normal setidaknya dalam pandanganku. Dan yang membuatku terganggu adalah ucapan pemberi semangat untuk keluar tanpa adanya uluran tangan dan tanggapan ata pertanyaanku. Percayalah aku tidak apa-apa.

Dan kini, aku telah keluar dari kubangan hitam itu, bersamaan dengan bulir darah yang keluar dari tubuhku ini. Kalau bisa aku ingin kita kembali seperti dulu dan tetap tersenyum bersama. Tapi kelihatannya tidak bisa karena banyaknya pandangan yang membuat kita justru semakin menjauh. Saat ini aku sudah mendapat jawabannya, jawaban dari pertanyaanku beberapa waktu yang lalu tapi tidak satu pun jawaban itu kuterima dari kalian. Aku hanya mendapat tatapan penuh bela sungkawa terhadapku. Hei, aku belum mati!

Dan sekarang dengan jawaban yang telah kumiliki ini aku akan melanjutkan hidupku. Aku ingin menjadi penghubung bagi orang disekitarku, ingin menjadi sesuatu yang bisa berada disisi setiap orang dan dengan menulis aku bisa mulai membahasakan pikiranku. I'll lead the brand new days.

Aku ingin mulai dari awal lagi. Yah beruntunglah jika aku amnesia. Aku akan mulai berjalan lagi. Sendiri cukup bagiku tapi bersama lebih baik. Aku telah kembali dan jangan lagi memunculkan wajah seperti waktu aku berada dalam kubangan karena aku muak.

Cukup sudah menjadi makhluk yang menakuti kegelapan dan terang. Aku akan maju kali ini biar sinar menunjukkan wajahku, biar gelap tak lagi menutupi. Sebuah harapan itulah yang membuatku bangkit dan pergi dari kubangan lumpur itu, aku memang sempat merasa menjadi makhluk paling malang sedunia tapi aku menyadari bahwa aku adalah makhluk biasa saja, tidak terlalu beruntung juga tidak terlalu menyedihkan.

Harapanku selanjutnya adalh tidak melihat wajah yang bersedih, seluruh kata yang terliaht seperti katarsis dalam setiap tulisanku hanyalah sedikit dari perasaan yang aku lepaskan. Beberapa seperti halusinasi dan mimpi yang aku tak alami cukup dengan merasakannya saja. Aku akan bangkit dan berhenti membaca beberapa tulisan temanku. Ya, tulisan yang penuh tuntutan dan rasa sedih itu tak lagi kukenal.

Kamis, 18 Juni 2009

Sekali lagi ya... .


From here start new miracle, with you once more in shining place


Baca yang ini dulu : "Tarian dalam Air", "Mainkan Musiknya...", untuk apa tarian ini?"


Aku melihatnya melakukan ini demi produser
Dia berkata ingin melihat produser tersenyum
Dengan lambaian tangannya dan not baloknya
Ditunjukkannya semua karya yang dimainkannya
Semuanya indah dan merdu...
Tapi dia merasa sendiri...

Sejuta mata menunggu aba-aba
Menanti apa yang akan dilakukannya ditengah... sendirian
Inilah punggung yang pernah kucela
Inilah punggung yang ingin menunjukkan jalan
Kalau begitu tunjukkanlah...

Senang aku melihat punggungnya yang tegap
Dengan yakin dia mengarahkan kaki kami
Demi kesenangan sang produser
Sulit bagiku memahami nada
Sulit bagiku memahami sebuah orkestra

Tapi aku disini bersama yang lainnya
Cobalah dengar kami akan berusaha
Dengan anggota ini kami akan bermain
Produser, lihatlah kami dukunglah kami
Apapun itu nyanyikanlah
Nada yang manapun perdengarkanlah

Masih ada waktu masih ada harapan
Aku masih ingin melihat senyuman dari anggota baru nantinya
Masih ingin aku melihat senyuman Produser
Dengan alat yang seadanya ini...
Masih ada sebuah warna lagi yang belum dicoba

Konduktor... aku yakin semua bisa menjadi baik
Masih ada hari esok dan mimpi masih berlanjut
Masih akan ada keajaiban yang aku percaya
Aku berjanji akan bermain dengan lebih baik
Masih ada simponi yang ingin kudengar
Masih ada tarianmu yang belum kulihat

Kali ini aku percaya kau akan baik saja
Tetaplah menari dalam air
Kita akan memainkan sebuah melodi
Melodi seindah kicauan burung pagi
...Seindah senja hari...


In dazzling, shining moments we were all together
I spent them without realizing how precious they were

Now, to remember them fondly I will embrace the feeling

You were right there with me

Always always always you were smiling there beside me

Even if I lose you, I'll get you back, I will never leave you

Rabu, 10 Juni 2009

Show Time!!

Hari ini sebuah tirai terkuak lebar. Inilah hari pentasku yang pertama. Sebuah drama tentang orang miskin tentang seorang gelandangan pincang yang hidup dibawah kolong jembatan. Disana aku hidup dengan seorang kakek, dua orang pelacur, dan seorang preman. Itulah aku, seorang gelandangan pincang yang hidup dikolong jembatan. Aku bertahan hidup dengan mengais di tong sampah mencari apa pun yang bisa dimakan. Bawang prei, labu siam, jagung yang hampir atau malah sudah busuk itu.

Malam ini, aku dan kakek memasak untuk makan malam. Makanan busuk yang kutemukan itu menjadi menu utama seperti biasanya. Sepertinya hari ini TUHAN tidaklah bersahabat, tetes demi tetes awan menangis dan berteriak menggelegar. Seruannya serupa dengan truk gandeng yangmelewati jembatan di atas kami. Seorang dari pelacur itu berkata bahwa hari ini ia harus makan yang enak. Bosan dirinya dengan sampah yang kubawa setiap harinya. Dan jika hari hujan maka ia tak bisa memakan makanan itu. YA, Nasi putih sepiring, Telur balado, dan rendang yang bumbunya kental berminyak-minyak teh manis hangat dan sebagai penutupnya pisang raja sesisir.

Akhirnya hujan pun turun, mereka tetap pergi. Dengan becak yang setiap hari siap mengantakan mereka. Becak LENDIR!! BECAK JAHANAM!!!! Dengan pura-pura menawarkan jasa dia pasti mau mendekati kekasih hatiku. Mereka pergi dengan becak itu, dengan kesal aku mengaduk masakanku. Lalu tinggallah aku bersama dengan kakek disitu, kami memperbincangkan nasib kami. GELANDANGAN. Orang yang hidup dari sampah jalanan yang seandainya mati pun tidak akan ada yang memperhatikan. Paling kami akan mengambang di kali bau dekat jembatan ini atau jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran sana.


Beginilah dunia gelandangan, bagaikan suatu lingkaran setan yang tidak tahu mana pangkal mana ujung. Apa lagi saat ini yang dipandang oleh orang hanyalah fisik! Mana mungkin aku dapat pekerjaan untuk keluar dari sini. Tubuh ini tak mampu aku manfaatkan dengan baik, waktu luangku yang banyak membuatku makin terikat disini. Mencari pekerjaan ibarat mencari jodoh siapa yang paling cakap secara fisik pasti akan diijinkan mendaftar, beda dengan diriku yang tidak punya apa-apa. Kalau aku punya Sepatu dari kulit, rambutku diberi minyak, jaket, dan barang mahal lainnya aku pasti bisa melamar. Tapi jangankan sepatu untuk makan sehari saja sulit aku pasti langsung ditendang keluar begitu memasuki pintu gerbang.

Tak terasa hujan berhenti, lalu datanglah si preman yang biasa kami panggil bopeng. Dia membawakan kami makanan. Jarang sekali. Dibelakangnya mengekor sesosok wanita desa. Dia ditipu oleh suaminya dan tersesat sampai disini. Huh, dasar kampungan! Lalu aku mulai menyindirnya karena aku memang sedang kesal. Dan tanpa basa-basi si Bopeng menghantam tubuhku hingga jatuh ke tanah, dia mencoba memukulku terlihat sekali betapa dia emosi. Segera Kakek melerai kami, kami masih saling menatap dengan penuh kebencian. ANJING! Kakek, yang aku hormati, meminta aku duduk dan menikmati makanan yang dibawa oleh si bopeng. Aku duduk di satu sisi dan bopeng disisi lainnya.

Kami membuka bungkusan itu, melihat isinya dan betapa terkejutnya karena makanan itu sangat mewah. Dan kami mempertanyakan asal makanan itu, darimana dia dapat uang untuk mentraktir kami terlebih dia juga sudah makan bersama si gadis. Ternyata, dia telah mendapat pekerjaan. Pelaut. Besok dia sudah harus pergi. Kami berdua terkejut senang dan sedih. Senang karena salah seorang dari kami mendapat hidup yang layak, sedih karena kami akan berpisah terlebih dengan si gadis karena wanita tidak boleh masuk kapal. Kami menceritakan apa yang kami tahu kepada si gadis tentang kepergian si bopeng. Dia merajuk minta ikut tapi tentu bopeng menolaknya, akhirnya aku turun tangan. Dasar tidak tahu diri hanya menambah beban saja. Aku terus menekan bopeng hingga akhirnya dia mengancam berkelahi. Aku tidak takut, tubuhku memang kecil dan pasti mudah dijatuhkan seperti tadi, berbeda sekali dengan tubuhnya yang kekar. Dia memang kuat diluar tapi didalam hah hatinya itu kecil! Mudah terbawa suasana. Kini aku menjelaskan bahwa dia harus menentukan apa yang dia lakukan selanjutnya. Kami tentu saja akan berputar dalam lingkaran setan seperti biasanya. Dia menangis.

Kini pujaan hatiku datang, dan entah kenapa dia hanya sendiri tidak bersama kakaknya yang ambisius itu. Lalu kami bertanya padanya apa yang terjadi. Dia menyerahkan oleh-oleh dari kakaknya dan melihat penghuni baru. Aku jelaskan padanya bahwa si penghuni baru hanya akan tinggal sebentar dan besok dia akan pulang. Ternyata si Kakak tadi terkena razia dan seorang babah gemuk bersedia menikahinya ditempat. Tentu Kekasihku ini sangat senang. Tapi bagi kami ini menyakitkan. Kami akan ditinggalkan. Terlebih kemudian dia bersuara bahwa dia akan pergi menikah. Hatiku remuk. Dia berkata akan menikah dengan tukang becak yang selalu mengantar jemput dirinya. CIh, kenapa dengan dia?! Apa tidak tahu aku begitu membencinya.

Kekasihku menjelaskan panjang lebar bahwa ia masih mencintaiku. Tapi karena aku tidak mampu memberi apa-apa selain harapan palsu dia pun kecewa, dan setelah memikirkan masak-masak akhirnya dia memilih menikmati kebebasan. Sebuah KTP. Aku ingin berontak tapi apa yang dikataknya semua itu benar adanya bahwa jika terus bersamaku apa jadinya nanti. Bersama seorang gelandangan. Dia pergi. Kami menangis, aku ingin mengejar tapi kakiku rasanya terantai oleh kata-katanya tadi.

Akhirnya kami tinggal terdiam disini. Si gadis memutuskan untuk pulang dan aku diminta mengantarkannya. Aku masih meratapi kejadian tadi. Mereka menyindirku! Mereka merencanakan apa yang aku lakukan. Tidak! Aku tidak mau! Aku ingin mengembalikan kejayaanku! Aku mau bergerak dan menghirup kebebasan. Biarkan tubuh ini kembali bekerja dan menikmati setiap tetes keringat yang keluar. Aku telah putuskan aku akan mengantarkan si gadis ke desanya dan mencari pekerjaan disana. Aku memang sedih meninggalkan kakek tapi aku harus memandang jauh ke depan. Hidupku Masih Panjang!

Rasa kesepian karena ditinggalkan terasa menyakitkan. Lebih dariapada kematian. Kakek, jaga diri ya?!

Mainkan Musiknya... .


Tirai terangkat...
Aku menatap seorang konduktor


Dia membiarkan produser memilihkan bagian yang akan kami mainkan
Baginya pilihan produser itu adalah yang terbaik
Kami memegangnya dengan wajah senang

Sang konduktor tersenyum
matanya yang penuh harap menohok hati
Seolah ingin berkata,
"Inilah yang terbaik"

Aku mencoba menyamakan nada dan intonasi
Menggapai sesuai gerakan tangannya
Tapi kami berbeda... orkestra terdengar ramai
Tapi tidak indah...

Aku tak memikirkannya...
Hanya lambaian tangan yang kutangkap
Seolah semua bermain dengan satu nada
Tak terkecuali aku

Bila kudengar dan cermati banyak yang hilang
Bila kuperhatikan banyak yang tidak melihat not balok
Bila kukatakan ini bukan orkestraku
Bila konduktor mengerti kiranya sampaikanlah nada mana yang dimainkannya
Bukan padaku... Bukan padanya... atau produser
Tapi Kami...

Lambaian tangannya begitu cepat...
Kami terengah mengejar tapi juga kecewa
Kecewa karena mengecewakan...
Aku tak mau putus asa...
Saat ini konduktorkulah yang menjadi kompas



Aku menatap punggungnya dengan lirih
Entah kenapa... Entah bagaimana
Sebaik apapun ia bermain
Sehebat apapun dia memandu
Aku tak memikirkannya karena janji

Aku tahu nada itu bukannya gagal atau tak beraturan
Yang aku dengar hanyalah nada yang belum disamakan
Mungkin Kami membuka not dibagian yang salah
Konduktor... Kamu adalah Kompasku sekarang



Aku tak peduli apa yang dirasakannya
Aku hanya ingin Orkestra ini berjalan baik
Agar Produser tidak kecewa
Karena Dia begitu baik dan aku akan belajar







Aku mendengar konduktorku mempertanyakan
Mungkin saja yang dilihatnya adalah sesuatu yang berbeda
Kelompok orkestra ini tidak begitu berubah dengan yang kupimpin
Konduktor... Jangan menyerah suatu hari pasti nada itu akan bersatu
Tunjukkan pada kami halamannya...
Beritahukan kami bagaimana memulainya...
Sama Seperti dulu...





AKU INGIN MELIHAT WARNA MUSIKMU KARENANYA AKU BERTAHAN BUKAN UNTUK MELIHAT PUNGGUNG TAPI UNTUK MELIHAT LAMBAIAN TANGAN PENUH MAKNA. SEORANG KONDUKTOR.




Aku ingin merasakan bagaimana kamu memimpin orkestra ini.
Keinginan bebas yang tak terbatas dengan sudut pandang berbeda.


Sabtu, 06 Juni 2009

Inilah Jawabanku

Sudah beberapa hari ini hatiku terasa kering. Tubuhku seolah tak bertulang. Lemas aku terduduk di pojok menikmati peluru yang bersarang dalam tubuhku, merasakan hangatnya darah yang melelh keluar bersama sisa hidupku. Semua kenangan manis menguap perlahan membekaskan mimpi sejuta rindu, aku tak ingin menerjang biarlah waktu ini kunikmati sendiri hingga tiba saatnya nanti tak ada lagi yang merayu.

Aku masih ingat rasanya berlari dengan peluru yang bersarang dalam tubuhku. Sakit. Tapi bagiku itu sebagai sebuah pertanda untuk mencabik. Aku butuh pelampiasan yang mendalam. Karena aku ini binatang jalang. Sebagai bukti aku hidup aku ingin menerjang sampai detik-detik terakhir dari hidupku. Aku belum mau mati, masih banyak hal di dunia ini yang belum kulihat. Dunia masih terlalu luas bagiku.

Tapi saat ini, aku ingin tetap duduk hingga banjir diriku dengan darah. Darah segar milikku. Tapi tenang saja, aku tidak akn berlama disini karena segera aku akan beranjak. Aku tak mau mati disini, aku hanya sedang menjalani sebuah proses. Aku sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang kuajukan dan inilah satu-satunya cara untuk menemukan jawaban itu. Saat ini aku sedang terombang-ambing di tengah lautan lepas, mencari sebuah pulau. Setelah aku menemukannya nanti dan aku tak puas aku akan terbang dengan pesawat jet ke pulau seberang untuk menikmati tempat itu lagi. Biar aku mengerang antara Deru dan Debu.

Sebuah sore di dekat FEB

Cermin

It will not be as troublesome as it is if you can just erase the hatred in your heart because the most powerful enemy is always yourself

Aku memandang sebuah cermin. Cermin itu begitu besar tingginya kurang lebih setinggi diriku, karenanya aku bisa melihat tubuhku secara utuh. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, aku perhatikan perlahan lekuk demi lekuk dari tubuhku itu. Setiap inci aku amati baik-baik kiranya mungkin ada yang salah disana, ada yang jelek, ada yang tidak sesuai dengan keinginanku. Walau mungkin ada juga sisi yang baik di situ.

Lalu aku mulai memikirkan bagaimana cara untuk mengubah hal yang jelek itu hingga sesuai dengan keinginanku. Semua pemikiran tentang yang ideal merasukiku seketika, dengan kecepatan cahaya aku dilingkupi perasaan bersalah yang hebat atas segala keterbatasanku. Semua kesalahan yang ada padaku menusuk hatiku lebih dalam setiap harinya dan aku menikmatinya dengan sebuah pikiran tentang yang ideal.

Perlahan rasa itu terasa semakin menyakitkan tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Yang aku inginkan hanya menjadi lebih baik, lebih sempurna apa itu salah? Kenapa itu begitu sulit? Walau teman-temanku berkata bahwa aku yang sekarang tidaklah jelek, tapi bagiku banyak sekali lubang yang harus kututupi.

Banyak yang salah dan aku hanya ingin jadi lebih baik lagi. Aku benci terhadap setiap lekukan tubuhku, di setiap jengkal pada tubuhku selalu terasa kurang baik bagiku. Mungkin bagi sebagian orang aku terlihat baik tapi setiap kali aku melihat cermin itu, cermin itu selalu menampakkan setiap sisi yang ada padaku baik yang buruk maupun yang baik. Aku berpikir apa yang dipikirkan orang ketika melihatku. Aku berpikir apakah ini etis? Aku berpikir, berpikir, dan terus berpikir ada yang kurang. Selalu. Selamanya.

Hingga sekarang aku tak mampu lagi merasakan nikmatnya hal yang dulu aku nikmati. Aku ingin merasakannya lagi, menikmatinya, melakukan hal yang menyenangkan. Tapi cermin itu selalu berkata bahwa aku salah, jika aku melakukannya maka aku akan menjadi jelek. Sehingga aku tak berani menatap cermin itu. Setiap aku menatapnya ingin aku berteriak.

Aku tahu akan ada yang menerimaku apa adanya. Tetap seperti ini dengan kejelekkan yang ada padaku. Tapi aku sendiri tidak mampu menerimanya. Suatu ketika ada yang mengatakan padaku bahwa kami akan membenahi semuanya bersama, tapi itu tidaklah tercapai karena semua telah terlambat. Terlalu banyak lubang yang kupikirkan.


....Aku hanya ingin menjadi lebih baik....


Terinspirasi dari Bulimia









Mungkin itu hanya caraku yang memandang dari satu sisi cermin dan tidak mengindahkan yang lain. Sisi cermin yang membuatku mengeluh dan mengeluh terus tapi tak kulihat sisi terang dari cermin itu. Sulit bagiku mengacuhkan sisi jelek dariku tapi menyakitkan jika terlalu banyak menuntut. Aku ingin melihat dari cara yang berbeda, sebuah sudut pandang yang berbeda.

Senin, 01 Juni 2009

Dunia yang Akan Berakhir

Dunia ini adalah dunia yang indah dengan gemerlap cahaya yang mengapung ke udara. Cahaya yang hangat. Dunia ini sangatlah indah, sangat damai, dan sangat lengang. Di sini aku bisa melakukan apa pun yang aku mau tanpa ada yang melarang karena di dunia ini hanya ada aku sendiri di dunia yang besar ini.

Dunia ini akan segera berakhir. Di dunia ini hanya ada aku, tidak ada lagi manusia selain aku yang hidup disini. Aku kesepian. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat seorang teman, aku mulai mengumpulkan berbagai barang dan benda lalu mengumpulkannya menjadi satu. Aku tahu ini tidak akan berhasil karena di dunia ini tidak akan ada lagi yang lahir atau pun mati. Dunia ini akan segera berakhir.

Ternyata aku salah, benda yang kususun menjadi sebuah tubuh kini bergerak. Ia menggerakkan jarinya perlahan lalu mendongakkan kepalanya ke arahku. Aku begitu senang dan mencoba mengajarinya banyak hal seperti berdiri dan berjalan. Itu aku lakukan agar aku tak lagi kesepian. Dia adalah teman pertamaku dan mungkin yang terakhir karena di dunia ini tidak akan ada lagi yang lahir atau mati. Kami tinggal di sebuah rumah kecil yang sederhana, menghabiskan waktu bersama dan walau dia tak bicara aku mengerti apa yang ingin diisyaratkannya dan aku tak merasa kesepian lagi.

Dia pernah bilang kalau di suatu waktu entah dimasa depan atau di masa lalu ada sebuah cahaya yang memberi pengharapan dan dari sanalah ia berasal. Dari tempat dimana ada banyak manusia dan keramaian yang indah. Dunia yang tak pernah kuketahui. Dia terus bersamaku setiap hari hingga akhirnya di merasa bosan dan kesepian. Ia memintaku membuat seorang teman lagi.

Lalu, aku putuskan mengumpulkan berbagai benda dan menyusunnya kembali persis seperti yang aku lakukan saat aku pertama kali membuat teman. Tapi kali ini ia tak bergerak. Aku melihat temanku dan terlihat dia begitu sedih, tanpa menyerah ia memberi isyarat agar teman yang kubuat bergerak, berharap akan ada perubahan setidaknya jemari uang bergerak. Aku tidak mampu melihatnya begitu, akhirnya aku memeluknya dari belakang dan berkata,"cukup."

Akhirnya kami menguburkan teman kami itu. Saat itu temanku memberi isyarat bahwa suatu saat nanti ia akan membawaku ke tempat yang entah ada dimana, tempat yang terletak di masa lalu atau masa depan, entah bagaimana caranya tapi ia berjanji akan tetap bersamaku. Membawaku ke tempat yang indah itu, tempat yang tidak kuketahui.

Dunia ini adalah dunia yang akan berakhir tidak ada satu pun yang akan terlahir lagi atau mati di dunia ini.








Ditulis dengan berbagai revisi
From Clannad

Perjalanan Seekor Burung

Seharusnya sayapku mampu menerbangkan aku tinggi hingga mencapai angkasa. Membelah langit merah yang seolah mengucapkan selamat tinggal pada siang hari tapi ternyata tidak bisa. Seharusnya ada bintang yang menunggu untuk kujemput di satu sisi di langit. Satu bintang besar yang didekatnya kehangatan terpancar dengan lembut dan dari cahayanyalah aku dituntun dalam kegelapan.

Seharusnya air mampu melepaskan segala dahaga dan hausku. Menyegarkan aku yang letih karena pencarian yang jauh dan menjemukkan. Kiranya air membasuh wajahku yang sendu dibawah teriknya matahari sehingga aku mampu menembus jarak yang lebih jauh.

Sebaiknya suara menuntun aku ke lembah yang sunyi agar aku dapat beristirahat dari sorotan bulan dan matahari. Biarlah aku tertidur walau hanya enam puluh menit lamanya agar aku kembali pada kesegaranku. Sebaiknya matikan saja semua lampu dan biarkan aku merebahkan diri dalam sesaknya malam.

Melodi akan rasa rindu dan bunyi yang menenangkan jiwa menghantarkanku ke arah kebenaran dan euforia yang berlebihan. Menyatukan aku dengan segala faktor kehidupan, menghangatkan sekitarku dan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Dalam dera hujan atau terik matahari aku terus melaju ke suatu tempat yang pastinya ada di ujung sana.

Nampaklah bagiku sebuah harapan diujung malam, melambaikan kata hai bersama dengan biru lalu terisyaratkan lewat kehangatan lingkaran besar yang merayap di sebelah timur. Aku harus kembali bergerak, meregangkan otot tubuhku hingga aku siap menantang dunia dengan kaki kecilku dan semangat akan hari baru. Aku percaya suatu hari nanti--mungkin di suatu tempat yang belum ku ketahui--akan ada yang membawakan aku sebuah bintang yang mampu menghangatkanku, melepaskan dahagaku, membuatku nyaman, dan menenangkan hatiku sehingga tak perlu lagi aku membelah langit mencuri pandangan setiap yang melihat ke arah lingkaran besar berwarna orange di sudut sore.


Sabtu, 30 Mei 2009

Tahun ini akan ada banyak hal yang hilang

Tahun ini akan ada banyak hal yang hilang. Mimpi-mimpi, ingatan, dan manusia. Semuanya beranjak meninggalkan serpihan kecil yang tak teraba oleh waktu. Mimpi yang hilang telah berubah menjadi harapan baru akan masa depan yang cerah, Mimpi yang terlalu muluk-muluk lenyap ditelan waktu dan berubah dengan mimpi yang diwujudkan dengan kerja keras dan semangat. Mimpi itu tidak lagi muncul dan menghantui karena mimpi itu akan hilang bersamaan dengan berjalannya waktu pada tahun ini.

Ingatan tentang hal didunia ini pun rasanya makin menguap, aku tidak ingat lagi kesalahan yang orang lakukan padaku dan aku tidak mau mengingatnya lagi. Ingatanku tentang dunia dan semua hal yang menyedihkan pun perlahan lenyap seolah ditiup oleh angin. Biarlah ingatan itu lenyap bersama bergulirnya waktu.

Satu per satu manusia lenyap pergi dari hadapanku menuju masa depan yang baru yang lebih cerah dan menyisakan isak tangis bahagia disini. Perlahan langkah mereka kian terbuka lebar menyongsong masa depan yang cerah dan mereka memberi hadiah terakhir yaitu kenangan bersama mereka yang tak mungkin bisa dihilangkan. Mereka meninggalkan sebuah tangunggjawab untuk melaju diporos bumi dan bersama dengan itu mereka menjadi penghubung antara aku dan dunia luar.

Perlahan tapi pasti semakin banyak hal yang hilang. Keraguan, kebencian, kemarahan, kesedihan, dan kesepian. Tahun ini aku akan kehilangan banyak hal tapi aku tak perlu menyayangkan hal itu lagi karena itu semua hanya sampah yang terkubur rapi dalam hatiku. Tak perlu digali. Tak perlu dilirik. Tak perlu dibuka lagi.

Tahun ini perasaanku hilang. Perasaan sedih dan gelisah akan hilang tahun ini karena aku percaya hal itu akan hilang dan aku juga percaya bahwa Allah yang mencintaikulah yang melakukan segalanya daripada hidupku sehingga tak perlulah aku mengeluh karena tidak adil karena timbangan itu belum berhenti bergerak. Tahun ini akan ada banyak hal yang hilang tapi aku tidaklah sedih karena hilangnya hal tersebut hanyalah sebuah proses hidup yang terus berjalan hingga akhirnya jalan itu berhenti pada garis finish dan menyisakan tangis bagi yang melihatnya. Tetaplah bahagia karena kita tidak akan hilang begitu saja karena kita akan tetap hidup di hati setiap orang yang mengingat kita.

Selasa, 26 Mei 2009

Good BYE

Dakara ima ai ni yuku
So kimetanda
Poketto no kono kyoku wo
kimi ni kikasetai

Hari ini akan segera berakhir. Semoga pikiranku juga cepat berakhir. Kapan ya aku akan mati? Lelah juga punya pikiran. Jelek juga memikrkan orang lain.

Oh Good-bye Days

Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, berpura-pura sudah cukup membuatku muak. menjadi diri sendiri pun rasanya tidak bisa.

ada rasa ingin berteriak. tapi kadang terlihat sok tidak berdaya, bahkan tulisan ini pun serasa seperti itu. Munafik. satu kata yang aku ingin lontarkan padaku terlepas dari orang mendengar atau tidak aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan. bukan apa yang dilarang orang atau yang diinginkan orang.

Aku tak tahu caranya menulis dengan baik, menggambar, memahami, mendengar, memimpin, yang aku lakukan hanya mengeluh. KArena ketidakmampuanku tapi aku tak berubah juga. terkadang ingin mati rasanya.

Semua tidak bisa berjalan sesuai keinginan satu orang. Satu ketika ada seekor burung kecil bertanya padaku tentang rasanya berjalan. Dan yang kukatakan adalah melangkah itu melelahkan andai aku bisa terbang. dari tulisanku yang tidak jelas ini aku ingin menutupi diriku dari sorotan dunia, dan sebagian dariku ingin mempertontonkannya dengan senyuman.

Aku ingin dimaki saat ini karena memang makinanlah yang aku tunggu hai kalian anjing yang ada disana, pergi kalau kalian mau. mungkin aku tidak bisa mengubah apa yang dipandang orang, dan aku telah salah menilai dan menghakimi sesukaku. mungkin tulisanku nanti akan lenyap. dan aku tidaklah tersisa di dunia. biarlah kata-kataku yang meracau ini menjadi bagian hidupku yang tidak jelas. hanya menyiksa bagi orang lain. asal kalian tahu aku memandang lewat kacamataku, hai orang asing aku menatapmu demikian karena aku sendiri bingung akan jadi seperti apa.

Mungkin dalam sebuah cerita yang dibungkus rapi oleh kertas koran aku bisa hidup, atau diantara sorotan lampu pesta dan menjadi pusat perhatian.

aku tidak menyalahimu dengan alasan yang pasti karena hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. aku melihat seseorang yang lelah menjadi tiang dan tidak dapat tidak. aku memang tidak mengalaminya dan tidak memilii kesempatan mendapatkannya.

sebuah cerita telah dimulai jauh sebelum aku lahir dan aku memang menuntut hal yang tidak kecil. karena ego. sepertinya tidak cukup bagiku seisi dunia yang luas ini. tentu saja didekatku akan kukorek dirimu sampai lapisan terakhir dari dirimu. sampai tersisa tulang belulang yang rapuh. aku tidak peduli. rasanya begitu segan didekatku dan rasanya lelah menjadi tiang didekatku karena itu pergilah hai kalian yang merasa terbeban. aku tidak dapat memaksa tapi juga tidak dapt menahan.

biarkan saja air jatuh kebumi dengan perlahan menunjukkan rasa ingin mati dan tenggelam. tidak perlu membaca lagi. tidak usah melihat dan merasa lagi. bahkan sebaiknya tidak perlu kalian lihat tulisan ini atau si aku lagi.

biarkan semuanya mengalir dalam air masa lalu yang mengalir tanpa kenal kata kembali. kalau dikatakan kecewa memang benar tapi kalau tidak bisa apa-apa tidak ada gunanya juga. inilah caraku menyampaikan perasaan bukan hal yang mampu mengubah air menjadi es atau mengembunkan udara.
aku memang hanya melihat kulit karena memang hubunganku dengan semuanya hanya sebatas kulit. segera berganti begitu musim berganti. tidak perlu dijelaskan atau tidak perlu dibahasakan karena memang aku ini aneh dan tidak perlu diketahui membaca perasaan angin menolehkan pohon, membagi akar dan jutaan kode yang kubuat agar kalian tak mengerti, hanya supaya ketika aku menutupi aku juga membuka tanpa disadari. bukan berarti sebuah cerita tidak kenal akhir. tapi inilah kata sebuah buku dan terjemahan decoding sebuah komputer tentang dunia.

bukan apa yang aku katakan yang penting tapi apa yang aku rasakan bagiku itulah yang penting karena angin tidak adapt benar-benar bicara dan hujan tak mampu menyampaikna segalanya.

tak berharap lebih baik daripada kecewa, mati lebih baik daripada menjadi sibuk, menjadi bodoh terdengar lebih mudah daripada berpikir keras. selamat datang hari esok dan sampai jumpa hari ini dan masa lalu.

Oh good-bye days
I feel like things are changing now

roda yang berputar memang akan kembali tap itidak pada tempat yang sama. ssemuanya kabur dari penglihatan sampai pada hati yang tertutup kabut berbisiklah angin aku ingin dengar engkau menyanyi untukku agar aku dapat tersenyum seperti mata yang aku gambarkan dan seperti mimpi yang aku kejar. biar aku melihat dengan senyuman yang aku berikan tentang harapan dan masa depan yagn tidak aku tahu sama sekali tentang dunia yang berputar dan tentang poros bumi.

demi mimpi dan egoisme selamat datang masa depan! akuingin mencobanya sekali lagi aku tak puas jika tidak merusak dan bagiku ini tidaklah cukup karena aku ini memang egois dan tidak berkasih seperti yang kalian lihat dengan kacamata kalian. cukup bisa juga aku berkata dan bermulut besar segera aku kabulkan 3 keinginan kalian. lihat betapa besarnya dunia ini, hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
berisik sekali orang disekitarku mengajarkan hal baik tapi aku ini tuli kalau kalian tahu.

muka muram adalah identitasku, menjadi tak bersuara adalah ciriku, dan memang aku ingin ditemani tapi tidaklah aku paksakan karena tidak mungkin menyatukan kembali gelas yang pecah atau merekatkan kembali kepingan kaca.

biarkan saja berdera dalam kata-kata dan anggapanku karena aku memang tidak mengenal inginb mendekat tapi takut menyakiti ingin menjauh tapi minta ditemani lucu sekali yah?
biar saja dia merasa mati selam satu abad lamanya karena kata teman tidak ada dalam kamus besar miliknya.

bagi dia hanya benci dan kebohongan yang merata y7ang membuatnya yakin tentang dunia bukan dengan pembelokan mata atau pelepasan topeng, ideologi atau apa pun namanya yang menceritakan tentang cinta semua ada karena memang dikatakan ada bukan karena ada saat diminta tapi berkata sepi saat angin memanggil.

wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

liaht dunia ini punya banyak warna lihat disini aku menjadi orang gila! lihat aku tidaklah sendirian! lihat didunia ini semua orang mengatakan hal yang sebenarnya!

Bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang tidak dapat dibenci.

Aku tidak kenal dengan dunia





















Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku

Sepi… Sepi dan sendiri aku benci.

Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.

Bosan aku dengan penat,
dan enyah saja kau, pekat!

Seperti berjelaga jika aku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai

Biar mengaduh sampai gaduh

Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
Biar terderah,
atau… aku harus lari ke hutan belok ke pantai?









































Tell me how I'm supposed to breathe with no air



















I don’t want to have sad thoughts if I can help it
But they’re bound to come, right?
When they do, I’ll smile and say
Yeah hello! I hope I can call you
My friend…

















































































dan kulihat punggung...




Kamis, 21 Mei 2009

The Day

Sayu mataku ini duduk didepan komputer warnet dan tak tahu harus berbuat apa. LAgu dari playlist yang ada dalam flashdisk merambat naik mengiang ditelingaku dengan bantuan earphone yang disediakan sebagai fasilitas pasti. Sebuah lagu lama merembes masuk dalam otakku yang sedang kosong. Hari ini aku berharap menjadi hari yang lebih baru, kemarin aku telah berteriak dengan senangnya ke arah seorang dosen. Dua hari yang lalu aku menyindir seisi kelas yang tidak mendengarkan presentasiku. Dua hari yang lalu aku membentak tanpa ragu seorang temanku, tiga hari yang lalu aku berdiam diri dan tak mau bicara. Empat hari yang lalu aku begitu dendam dengan dunia.

Kemarin, aku pentas untuk yang keuda kalinya, kali ini di taman budaya, seluruh mata menuju pada satu titik penting di atas panggung sandiwara yang berisikan sekitar 22 orang, aku kesal dan marah tanpa mengerti apa penyebabnya, lalu ber-euforia setelah pentas selesai. Kepalaku masih pusing sekali, berjalan terhuyung ingin rasanya menabrakkan diri kemana pun. Lalu, sebuah mimpi beterbangan dalam memoriku mengenang semua hal manis dan tersenyum.

Hari ini, untuk yang ketiga kalinya aku melihat sesi "penembakan" yaitu B**** 07 yang menyatakan cintanya pada N*** 08 yang keduanya adalah anak musik dalam KRST dan jawabannya adalah iya. Entah kenapa aku ragu dengan jawaban N*** karena dari pengalamanku mungkin itu hanya sebuah euforia sesaat atau mungkin rasa tidak enak aku tidak mengerti. Aku mempertanyakan apa itu cinta, apa seorang yang berpacaran hanya didasari sebuah euforia dan cinta sebelah tangan? Atau Pacaran adalah sesi pengenalan diri dua orang yang telah meyakinkan diri dengan pilihannya bukan karena euforia?

Hari ini juga Yudita 07 ulang tahun dan dirayakan benar-benar setelah pentas sekitar pukul 12.00 teng, kemarin benar-benar melelahkan entah apa yang aku inginkan sekarang semuanya berantakan, dan tak kulihat orang yang cukup dekat untuk kuajak bicara. Atau aku yang tidak mencarinya?

Sebuah sms yang tidak tepat waktu, rasa ingin tahu yang berlebihan, pencegahan yang justru mempercepat, kekcewaan yang mendalam, dan perasaan sendiri yang akhir-akhir ini kembali menghantui membuatku bertanya sebenarnya apa yang aku lakukan selama ini? Satu tahun dan masih ada orang yang tak kukenal dalam satu angkatan psikologi ini.

Ya Tuhan, pegangi aku agar tak jatuh. Genggam tanganku agar aku tak tersesat, butakan mataku agar aku tak melihat yang lain, aku bingung aku ingin mencari kehangatan sosok-Mu yang tidak kutemukan belakangan ini. Aku lelah namun tak ada yang menopangku, aku bingung tapi tak ada yang dapat kutanyakan, aku kesal tapi tak mampu memaki, dan aku benci terus begini. Bapa biarkan aku berbaring di dekat-Mu karena aku tak tahu lagi harus kemana, semuanya sama saja aku tidak suka. Semuanya, tanpa terkecuali sama saja aku sudah tak mampu percaya pada siapapun, termasuk dengan teman atau keluarga semuanya pembohong!



Kenapa kamu diam?
Pembohong. Kenapa kamu lupa?
Kamu adalah orang yang melilitkan lidah demi kebenaran lakukan saja apa yang menurutmu benar. Dalam dunia yang kamu tinggali aku tidak memiliki tempat.
Semakin keras aku tertawa semakin besar dosaku semakin sakit hatiku.

Aku memang menyebalkan. Aku memang mengganggu iya kan? Ayo teriak padaku. Aku tidak minta dimengerti aku hanya minta ditemani.
Tapi kenapa rasanya begitu sulit? Apa karena aku terlalu memaksa? Apa karena aku yang tak pernah puas?
Atau karena aku memang tidak boleh mempunyai orang yang dapat kupercaya?

Mundur

Dari waktu sekarang ini telah kucoba menghitung mundur. Menghitung tiap detik dalam hidupku dan waktu yang berlalu bagaikan angin. Hitungan mundurku telah sampai pada angka yang tak mampu ku sebut lagi hitunganku telah sampai pada waktu ini, waktu yang mengantarkanku pada kesempatan berdiri di depan layar. Terlalu lama. Waktu telah kubuang dan kubakar habis dalam api yang penuh sia-sia segala waktu dalam duniaku perlahan menguap ke udara mengambang dan tak akan kembali pada saat semula. Semuanya menguap terevaporasi dengan sangat sempurna sehingga tak kusadarai semua hitunganku telah sampai pada angka yang tak mampu lagi kusebutkan. Roda waktu berjalan begitu cepat, merambat menciptakan rantai sesak antara paru-paruku.


Semuanya berakar dari satu titik dimana yang kugenggam lenyap dan menguap. Selalu kucoba menerka apa yang ada dibalik awan, ada apa disana dan bagaimana pemandangan dari sana. Aku tarik benang merah takdirku perlahan mencoba memutuskan segalanya dan kembali lagi pada angka nol. Ya, nol yang berarti segala kemungkinan dan ketidakpastian, nol yang berarti semua yang ada tidak lagi lagi berarti karena nol, dan nol yang berarti awal dari segalanya. Aku ingin kembali ke nol pada awal dan me-reset semua yang ada.


Gemertakan gigi dari makhluk beroda empat menderu siang malam, tak perlu lagi menunggu tak usah lagi menanti, semuanya hanyalah mimpi satu satunya yang bisa diharapkan di dunia ini hanyalah diri sendiri. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang layak dijadikan tempat berpijak termasuk orang terdekat. Entahlah, aku juga tak mau berharap tapi ternyata dengan bodoh aku berharap dan akhirnya kecewa. Lelah. Kini, aku kembali pada titik nol entah dengan yang lain persetan dengan semuanya itu, aku tak peduli.


Hati ini tak perlu bicara lagi, karena semuanya terlalu jauh untuk mendengar. Karena gemertak roda gigi itu telah membuat semuanya tak mampu lagi mendengar satu dengan yang lain. Ada sebuah gambar, di sana ada sebuah pohon mati yang dikelilingi dengan rumput yang tumbuh subur di sebuah tebing. Cukup sudah untuk menggambarkan hatiku, semuanya sedang sibuk semuanya memiliki dunia sendiri semuanya tidak layak untuk di lirik bahkan sedetik saja.


Pergi dari hadapanku, lelah aku berharap semuanya tidak ada yang benar dan pada akhirnya yang menentukan hidup ini ya aku sendiri. Nol. Semua yang aku lakukan selama ini adalah sebuah angka nol besar yang bagi orang lain tidak terlihat seperti itu. Aku yang sekarang begitu serakah dan tidak akan melepaskan apa yang ada di depanku sekalipun harus membunuh atau mati sekalipun karena aku sudah mengatakannya bahwa saat aku bangkit nanti aku akan menghancurkan. Aku tak mengenal apa itu kasih karena kasih itu sendiri terasa jauh bagiku, tak ada seorang pun yang mampu kuajak bicara semuanya sibuk dengan nol yang menjepit.