Aku tidak mengetahui mengapa manusia bisa jatuh cinta dan untuk apa perasaan yang disebut "cinta" itu ada. Aku juga seringkali bertanya, mengapa hanya orang dewasa yang bisa merasakan itu? Mengapa pula orang bisa melakukan hal bodoh karena itu? Pada dasarnya, aku berpikir bahwa itu adalah sebuah emosi ketertarikan sesat yang dibumbui oleh euforia sesaat. Euforia yang begitu kuat hingga akal sehat tidak lagi berfungsi.
Aku berpikir. Tapi tak kutemukan jawaban. Mengapa TUHAN menciptakan emosi "kacau" yang disebut cinta? Untuk apa pula manusia diciptakan dengan kemampuan menikmati rasa itu? Bukankah hidup dalam keteraturan sudah cukup? Bukankah sistematika kehidupan biasa sudah bisa memutar roda kehidupan manusia? Tidak perlu ada tetek bengek bernama emosi. Bayi, anak, remaja, dewasa, menikah, dan memiliki anak. Bukankah perputaran roda kehidupan hanya di situ-situ saja? Tidak perlu menggunakan perasaan untuk hal yang sudah sistematis seperti itu.
Rasa-rasanya memang tidak ada waktu untuk mengurusi masalah yang remeh temeh begitu. Masih banyak perkara yang lebih besar dan lebih penting ketimbang mempermasalahkan soal cinta. Masih banyak perkara yang lebih layak untuk dipikirkan ketimbang memikirkan pernikahan, calon pasangan atau semacamnya. Dunia ini rumit bung! Isinya tidak melulu roman yang membuat hati melayang-layang. Isinya juga tidak seindah cerita dongeng. Tidak juga seberlebihan sinetron-sinetron yang marak menunjukkan emosi negatif.
Begitulah, hidup 20 tahun tanpa memikirkan apa yang namanya pasangan. Cinta. Pernikahan. Calon pasangan. Biarlah itu jadi masalah nanti. Aku hanya perlu definisinya agar aku tak salah jalan. Tak salah mengira. Tak salah menerjemahkan bahasa tubuh. Atau reaksi kimia yang dipuja-puja orang muda ketika mencari pasangan. Biarlah semua mengalir apa adanya. Ah, masih banyak hal rumit di dunia ini yang lebih menarik diteliti ketimbang masalah emosi yang tidak jelas.
Tampilkan postingan dengan label sedikit berpikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedikit berpikir. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 April 2013
Selasa, 27 November 2012
Menikmati secelup Keistimewaan
Malam ini, dengan ditemani secangkir Energen hangat aku merenungkan pernyataan mengenai kesederhanaan. Saya berpikir, mungkin akan indah jika tulisan ini saya buka dengan pernyataan demikian:
Namun, ada sesuatu yang menggelitik saya. Ketika saya sedang memikirkan "rayuan-rayuan" maut yang mungkin akan meleleh di mata pembaca, saya terhenyak. Mendadak ada sebuah bisikan (OK, saya tidak gila) yang mengatakan,"Apa menariknya menyampaikan kesederhanaan itu? Dan, apa yang membuatnya menarik?"
Hmm, ok. Mungkin yang sebenarnya ingin saya sampaikan bukanlah kesederhanaan itu. Mungkin.. kesombongan? Karena saya bisa membuat tulisan yang melelehkan mata dengan cara merendahkan diri dengan embe-embel "kesederhanaan"? Atau agar saya dianggap puitis dan berbakat dalam menulis? Seharusnya sih tidak demikian. Kalau begitu, mari kita reka ulang.
Hmmm, rasanya masih ada yang kurang pas. Ah, saya tahu! Saya belum menuliskan mengapa kederhanaan itu menarik untuk disampaikan. Tapi saya rasa, tidak ada yang perlu diceritakan dari sebuah kesederhanaan. Kesederhanaan adalah sebuah kondisi yang sangat simpel. Semua sudah terpapar apa adanya dan tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Tidak perlu dilakukan observasi, analisa, sintesa, dan penarikkan kesimpulan. Karena kesederhanaan itu sudah terpancar sejak awal tanpa ada yang tertutup lagi. Ya, semua nampak apa adanya. Tak perlu lagilah menjabarkan kesederhanaan itu.
Ok, sepertinya kata "Kesederhanaan" itu memang tidak cocok untuk saya gunakan malam ini. Kalau begitu, mari kita ubah sedikit kata-kata yang akan saya gunakan. Kira-kira bentuknya akan begini:
Dan akhirnya dapat kukatakan...
" ...Sempurna... ."
Malam ini, dengan ditemani secangkir Energen hangat; dentuman jam yang menggeliat; dan kerusuhan yang dibuat Si Tiki (ya, mari kita beri nama tikus besar itu) aku duduk diam. Menikmati kesederhanaan yang dibisikkan jangkrik dan udara dingin malam hari.
Namun, ada sesuatu yang menggelitik saya. Ketika saya sedang memikirkan "rayuan-rayuan" maut yang mungkin akan meleleh di mata pembaca, saya terhenyak. Mendadak ada sebuah bisikan (OK, saya tidak gila) yang mengatakan,"Apa menariknya menyampaikan kesederhanaan itu? Dan, apa yang membuatnya menarik?"
Hmm, ok. Mungkin yang sebenarnya ingin saya sampaikan bukanlah kesederhanaan itu. Mungkin.. kesombongan? Karena saya bisa membuat tulisan yang melelehkan mata dengan cara merendahkan diri dengan embe-embel "kesederhanaan"? Atau agar saya dianggap puitis dan berbakat dalam menulis? Seharusnya sih tidak demikian. Kalau begitu, mari kita reka ulang.
Malam ini, dengan ditemani Si Tiki yang grasak-grusuk; secangkir Energen hangat buatan sendiri; nyanyian Jangkrik; dan deritan jam dinding, akhirnya saya mendapatkan mood untuk setidaknya menelurkan satu atau dua tulisan yang seharusnya indah dibaca. Sebuah tulisan mengenai kesederhanaan malam Selasa yang tak terusik Handphone atau suara televisi. Kesederhanaan yang terbalut sunyi.
Hmmm, rasanya masih ada yang kurang pas. Ah, saya tahu! Saya belum menuliskan mengapa kederhanaan itu menarik untuk disampaikan. Tapi saya rasa, tidak ada yang perlu diceritakan dari sebuah kesederhanaan. Kesederhanaan adalah sebuah kondisi yang sangat simpel. Semua sudah terpapar apa adanya dan tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Tidak perlu dilakukan observasi, analisa, sintesa, dan penarikkan kesimpulan. Karena kesederhanaan itu sudah terpancar sejak awal tanpa ada yang tertutup lagi. Ya, semua nampak apa adanya. Tak perlu lagilah menjabarkan kesederhanaan itu.
Ok, sepertinya kata "Kesederhanaan" itu memang tidak cocok untuk saya gunakan malam ini. Kalau begitu, mari kita ubah sedikit kata-kata yang akan saya gunakan. Kira-kira bentuknya akan begini:
Malam ini, ditemani suara mp3; detak jam dinding; nyanyian jangkrik; secangkir Energen yang telah dingin; grasak-grususk Si Tiki; dan angin malam yang menusuk, saya dapat menikmati suasana malam ini. Sebuah keistimewaan yang hadir di tengah gelapnya malam. Ketika sebagian orang tengah menikmati bunga tidurnya. Sebuah malam istimewa tanpa gangguan Handphone dan TV.
Dan akhirnya dapat kukatakan...
" ...Sempurna... ."
Minggu, 18 September 2011
Untuk Aku, yang lain
Apa yang bisa kita bagikan untuk anak cucu kita nanti? Pernahkah terpikir apa yang akan kita wariskan kepada mereka saat usia mereka menjadi dewasa? Saat seusia kita saat ini, mungkinkah mereka melangkah mengikuti kita? Terjatuh ke dalam jurang yang sama. Seperti kambing-kambing yang melakukan bunuh diri massal dengan melompat ke jurang. Kegagalan demi kegagalan, setiap luka yang telah kita terima, berbagai langkah bodoh yang kita ambil, demi kesenangan sesaat, dan setiap paradigma konyol yang kita ciptakan. Perlukah mereka melalui itu semua? Semua kembali ke titik nol. Manusia tidak pernah berubah, semakin hari semakin buruk. Setiap generasi yang ada bukan membaik tetapi mempersulit keadaan hingga di titik dimana mereka tidak bisa kembali.
"Aku terluka! Aku merasakan sakit! Aku diperlakukan tidak adil! Aku tidak terima diperlakukan begini! Semua melakukannya, kenapa Aku tidak boleh? Aku ingin orang lain merasakan yang aku rasakan! Aku, aku, aku!"
Persetan dengan Aku. Ya, aku terluka lantas apa? Apa itu berarti Aku berhak menyakiti orang lain hingga lebih parah dari diriku? Lalu apa bedanya Aku dengan orang yang telah membuatku terluka?
Aku merasakan sakit! Oh, sakit? Bagus lah, setidaknya Aku masih memiliki perasaan. Karena aku tahu mana perlakuan yang membuatku sakit dan mana yang tidak, bukan kah itu sesuatu yang perlu disyukuri?
Aku diperlakukan tidak adil! Memangnya siapakah Aku hingga dapat menentukan keadilan itu? Apa itu bukan dari perspektif Aku saja? Hasil dari pemahaman yang tidak utuh dari keadaan dan kondisi yang ada.
Semua melakukannya, kenapa Aku tidak boleh?! Bukan kah tindakan itu tidak baik? Bukan kah apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang disebut salah? Lalu, kenapa Aku mau melakukan kesalahan itu? Setiap Aku melakukan sesuatu yang salah akan ada yang terluka. Pahit.
Aku ingin orang lain merasakan apa yang Aku rasakan! Kalau begitu datanglah dan bercerita. Tidak baik menyembunyikannya sendiri. Kesesakkan akan mencekik secara perlahan hingga akhirnya Aku kehilangan perasaaan dan memandang orang lain tidak seperti semestinya. Menambah jumlah mata rantai yang perlu diputus.
Mata rantai kesakitan. Kepedihan dan Kesakitan selalu ada, tapi selalu ada sisi positif dari semuanya itu. Sebuah cerita yang perlu Aku bagikan untuk temanku yang tengah kesakitan. Kekuatan bagi mereka yang lelah berharap.
Hidup tidak berhenti ketika Aku terjatuh terjelembab. Hidup tidak akan berhenti sebelum Aku menyerah. Hidup lah, untuk sosok Aku yang lainnya. Aku yang membutuhkan orang untuk memahami perasaannya. Aku yang kesakitan, terluka, dan merasa diperlakukan tidak adil. Hidup lah dan katakan bagaimana Aku dapat selamat hingga ke tempat ini,bertemu sosok Aku yang lainnya.
"Aku terluka! Aku merasakan sakit! Aku diperlakukan tidak adil! Aku tidak terima diperlakukan begini! Semua melakukannya, kenapa Aku tidak boleh? Aku ingin orang lain merasakan yang aku rasakan! Aku, aku, aku!"
Persetan dengan Aku. Ya, aku terluka lantas apa? Apa itu berarti Aku berhak menyakiti orang lain hingga lebih parah dari diriku? Lalu apa bedanya Aku dengan orang yang telah membuatku terluka?
Aku merasakan sakit! Oh, sakit? Bagus lah, setidaknya Aku masih memiliki perasaan. Karena aku tahu mana perlakuan yang membuatku sakit dan mana yang tidak, bukan kah itu sesuatu yang perlu disyukuri?
Aku diperlakukan tidak adil! Memangnya siapakah Aku hingga dapat menentukan keadilan itu? Apa itu bukan dari perspektif Aku saja? Hasil dari pemahaman yang tidak utuh dari keadaan dan kondisi yang ada.
Semua melakukannya, kenapa Aku tidak boleh?! Bukan kah tindakan itu tidak baik? Bukan kah apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang disebut salah? Lalu, kenapa Aku mau melakukan kesalahan itu? Setiap Aku melakukan sesuatu yang salah akan ada yang terluka. Pahit.
Aku ingin orang lain merasakan apa yang Aku rasakan! Kalau begitu datanglah dan bercerita. Tidak baik menyembunyikannya sendiri. Kesesakkan akan mencekik secara perlahan hingga akhirnya Aku kehilangan perasaaan dan memandang orang lain tidak seperti semestinya. Menambah jumlah mata rantai yang perlu diputus.
Mata rantai kesakitan. Kepedihan dan Kesakitan selalu ada, tapi selalu ada sisi positif dari semuanya itu. Sebuah cerita yang perlu Aku bagikan untuk temanku yang tengah kesakitan. Kekuatan bagi mereka yang lelah berharap.
Hidup tidak berhenti ketika Aku terjatuh terjelembab. Hidup tidak akan berhenti sebelum Aku menyerah. Hidup lah, untuk sosok Aku yang lainnya. Aku yang membutuhkan orang untuk memahami perasaannya. Aku yang kesakitan, terluka, dan merasa diperlakukan tidak adil. Hidup lah dan katakan bagaimana Aku dapat selamat hingga ke tempat ini,bertemu sosok Aku yang lainnya.
Menjadi Pahlawan
Suatu kali aku menonton sebuah film komedi superhero yang judulnya tidak saya ketahui. Film itu berisi parodi dari film superhero, mulai dari spiderman, batman, x-men bahkan fantastic four. Film itu bercerita tentang seorang muda yang bersikeras bahwa dirinya tidak dapat menjadi pahlawan. Si karakter utama ini mengatakan bahwa diarinya ingin hidup dengan normal, terlepas dari harapan kedua orang tuanya yang sudah almarhum, terlepas dari dirinya yang digigit seekor capung mutan.
Ditengah film konyol yang nampak tidak berisi itu, ada sebuah pertanyaan yang meluncur. Bagaimana caranya menjadikan diri sebagai pahlawan? Hmmm. Menjadi pahlawan? Konyol sekali. Pikirku dengan pikiran sinis. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi pahlawan atas kemauannya sendiri. Bahkan jika dia memiliki kemampuan super yang mendukungnya menjadi pahlawan. Menjadi pahlawan tidak lah semata-mata ketika kita melompat ke kobaran api dan menyelamatkan orang yang ada disana. Tidak sesederhana dengan tindakan menolong yang kita lakukan. Tetapi ada yang lebih dalam yang seringkali kita lupakan dalam serial superhero. Karakter yang nampak tidak penting tetapi berperan besar dalam munculnya si pahlawan ini.
Untuk menjadi pahlawan dibutuhkan dua oknum. Pertama, oknum ditolong dan oknum penolong. Oknum penolong ini biasanya adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepedulian yang pas, tidak terlalu tinggi juga terlalu rendah. Orang-orang ini bertindak karena ada sebuah dorongan dalam diri mereka yang membuat akhirnya membangkitkan rasa untuk menolong oknum ditolong.
Oknum ditolong adalah orang-orang yang sedang berada dalam masalah. Oknum ditolong adalah objek penderita yang mengalami sebuah masalah dan membutuhkan pertolongan. Di sinilah seorag pahlawan dapat muncul. Tergantung dari bantuan yang diberikan oleh oknum penolong maka respon dari oknum ditolong dapat berbeda. Mulai dari yang paling positif hingga paling negatif. Salah satunya adalah menjadikan oknum penolong sebagai pahlawan. Hal ini dilakukan oleh oknum ditolong. Tentunya akan konyol jika oknum penolong berkata I am My savior. Tetapi jika dilihat dari oknum ditolong kata-kata yang muncul adalah You are My savior. Jadi, dari sini dapat dilihat bahwa seseorang dapat menjadi pahlawan jika oknum ditolong menyatakan hal tersebut.
Ini membawa saya ke dalam perenungan yang lebih mendalam. Sebagai manusia kita harus mengakui bahwa diri kita tidak dapat lepas dari masalah. Dengan begitu, selamanya manusia adalah oknum ditolong. Jika demikian, kita memerlukan oknum penolong dalam hidup kita. Oknum yang dapat menjadi figur pahlawan. Sosok yang dirinya sendiri tidak memerlukan oknum penolong. Bukan kah begitu?
Ditengah film konyol yang nampak tidak berisi itu, ada sebuah pertanyaan yang meluncur. Bagaimana caranya menjadikan diri sebagai pahlawan? Hmmm. Menjadi pahlawan? Konyol sekali. Pikirku dengan pikiran sinis. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi pahlawan atas kemauannya sendiri. Bahkan jika dia memiliki kemampuan super yang mendukungnya menjadi pahlawan. Menjadi pahlawan tidak lah semata-mata ketika kita melompat ke kobaran api dan menyelamatkan orang yang ada disana. Tidak sesederhana dengan tindakan menolong yang kita lakukan. Tetapi ada yang lebih dalam yang seringkali kita lupakan dalam serial superhero. Karakter yang nampak tidak penting tetapi berperan besar dalam munculnya si pahlawan ini.
Untuk menjadi pahlawan dibutuhkan dua oknum. Pertama, oknum ditolong dan oknum penolong. Oknum penolong ini biasanya adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepedulian yang pas, tidak terlalu tinggi juga terlalu rendah. Orang-orang ini bertindak karena ada sebuah dorongan dalam diri mereka yang membuat akhirnya membangkitkan rasa untuk menolong oknum ditolong.
Oknum ditolong adalah orang-orang yang sedang berada dalam masalah. Oknum ditolong adalah objek penderita yang mengalami sebuah masalah dan membutuhkan pertolongan. Di sinilah seorag pahlawan dapat muncul. Tergantung dari bantuan yang diberikan oleh oknum penolong maka respon dari oknum ditolong dapat berbeda. Mulai dari yang paling positif hingga paling negatif. Salah satunya adalah menjadikan oknum penolong sebagai pahlawan. Hal ini dilakukan oleh oknum ditolong. Tentunya akan konyol jika oknum penolong berkata I am My savior. Tetapi jika dilihat dari oknum ditolong kata-kata yang muncul adalah You are My savior. Jadi, dari sini dapat dilihat bahwa seseorang dapat menjadi pahlawan jika oknum ditolong menyatakan hal tersebut.
Ini membawa saya ke dalam perenungan yang lebih mendalam. Sebagai manusia kita harus mengakui bahwa diri kita tidak dapat lepas dari masalah. Dengan begitu, selamanya manusia adalah oknum ditolong. Jika demikian, kita memerlukan oknum penolong dalam hidup kita. Oknum yang dapat menjadi figur pahlawan. Sosok yang dirinya sendiri tidak memerlukan oknum penolong. Bukan kah begitu?
Senin, 21 Maret 2011
Teori tentang kesepian
Beberapa hari belakangan ini rasanya saya semakin terjangkit virus FB. Virus mematikan yang membuat saya tergeletak memandangi sebuah situs dalam waktu beberapa lama hanya untuk menantikan hal yang tidak pasti. Update status. comment. Dua hal ini yang paling mengganggu hati saya akhir-akhir ini. Sebagai seorang mahasiswa yang "terisolasi" mungkin FB menjadi sebuah media untuk kembali keep in touch dengan dunia luar. Atau sekadar mengobrol dengan orang-orang yang kita kenal. Rasanya semua orang menganggap bahwa hal ini adalah suatu yang lumrah dan wajar. Pernahkah terpikir dalam benak kita masing-masing bahwa kita sedang kesepian dan membutuhkan orang lain?
Saya tidak tahu apa yang pembaca rasakan tapi saya rasa FB dapat menimbulkan kecanduan yang akut. Jadi, saya mencoba mengajukan sebuah tesis. Orang-orang menjadi kesepian karena mereka merasa bahwa lingkungan dimana mereka hidup tidak dapat menerima mereka apa adanya. Hal ini dapat disebabkan banyak hal. Misalnya saja pada budaya tertentu dikatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh menangis, seorang wanita harus lemah lembut, harus menampakkan keceriaan setiap hari, dan keharusan-keharusan lain yang membuat kita merasa tertekan. Apakah kelaki-lakian seorang pria akan diragukan jika dia menangis? Apakah perempuan dapat dikatakan pria jika ia tidak lemah lembut? Tentu tidak. Tetapi sayangnya, jarang diantara kita yang menyadari hal ini sehingga membuat diri kita tersiksa memenuhi ekspektansi-ekspektansi yang ada.
Individu menjadi sosok yang kesepian ketika ekspektansi yang dimiliki oleh masyarakat atau yang ada pada mereka sendiri terlalu tinggi. Sehingga menimbulkan perasaan rendah, penolakkan, tidak dapat dimengerti, dan sebagainya. Perasaan inilah yang membuat masing-masing dari kita merasa sendiri dan kesepian. Jika hal ini terus berlanjut maka besar kemungkinan individu akan semakin sulit untuk menerima diri apa adanya dan menjadi semakin kesepian setiap harinya.
Lalu apa hubungannya dengan FB atau jejaring sosial lain? Sepintas memang tidak ada korelasi yang nampak antara kesepian dengan jejaring sosial-saya sendiri tidak menyadarinya sampai saya teringat artikel ini- tetapi ada sebuah riset yang menunjukkan adanya korelasi antara berapa sering seorang mengakses jejaring sosial dengan tingkat depresi. Jadi saya merasa tertohok dan bertanya apakah saya sedang depresi? Karena tingkat saya mengakses jejaring sosial akhir-akhir ini lebih banyak dari biasanya.
Tesis kedua yang bisa saya lontarkan adalah adanya sebuah kepuasan ketika kita mengakses jejaring sosial. Karena di jejaring sosial kita bisa mengatakan apa pun, terlepas dari apakah itu hal yang penting atau tidak. Tanpa perlu was-was, kita merasa bebas untuk mengeluarkan apa yang ada dipikiran kita. Status-status yang kita lontarkan di jejaring sosial ini kemudian direspon oleh teman-teman kita sehingga membuat kita merasa tidak kesepian, mendapat perhatian, dan perasaan diterima. Dan dari pengamatan saya, hal ini bersifat cukup adiktif. Beberapa teman saya menghabiskan waktu dua, tiga, sampai sepuluh jam per harinya untuk membuka FB. Ini saya ketahui dari iseng-iseng ketika membuka profile teman-teman saya.
Tesis ketiga sekaligus yang terakhir adalah, seorang individu yang telah addict dalam dunia maya akan merasa kesepian dan tidak nyaman untuk kembali ke dunia nyata. Hal ini bisa jadi karena individu itu merasa bahwa dunia maya lebih memuaskan dan lebih menyenangkan dibandingkan dunia nyata. Hal ini menciptakan sebuah lingkaran setan yang tidak terputus, ketika individu memasuki dunia nyata dan melihat kenyataan tidak seindah dunia maya maka ia kembali ke dalam dunia maya yang merupakan zona aman bagi dirinya. Hal ini terus berulang hingga ia tidak menyadari bahwa ia sudah terlalu lama dalam dunia maya. Seperti ditelan hidup-hidup, tidak merasakan sakit, begitu tersadar kita sudah dicerna oleh penolakkan dan kesepian yang sedikit banyak kita ciptakan sendiri.
Masuk ke bagian aplikasi, mungkin sudah saatnya kita kembali ke dunia nyata dan membenahi apa yang ada. Bangun dari dunia impian. Keluar dari zona aman. Bersama orang-orang yang anda kasihi, orang-orang yang penting bagi kita semua. Atau mungkin anda bisa menolong menyadarkan teman anda?
Saya tidak tahu apa yang pembaca rasakan tapi saya rasa FB dapat menimbulkan kecanduan yang akut. Jadi, saya mencoba mengajukan sebuah tesis. Orang-orang menjadi kesepian karena mereka merasa bahwa lingkungan dimana mereka hidup tidak dapat menerima mereka apa adanya. Hal ini dapat disebabkan banyak hal. Misalnya saja pada budaya tertentu dikatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh menangis, seorang wanita harus lemah lembut, harus menampakkan keceriaan setiap hari, dan keharusan-keharusan lain yang membuat kita merasa tertekan. Apakah kelaki-lakian seorang pria akan diragukan jika dia menangis? Apakah perempuan dapat dikatakan pria jika ia tidak lemah lembut? Tentu tidak. Tetapi sayangnya, jarang diantara kita yang menyadari hal ini sehingga membuat diri kita tersiksa memenuhi ekspektansi-ekspektansi yang ada.
Individu menjadi sosok yang kesepian ketika ekspektansi yang dimiliki oleh masyarakat atau yang ada pada mereka sendiri terlalu tinggi. Sehingga menimbulkan perasaan rendah, penolakkan, tidak dapat dimengerti, dan sebagainya. Perasaan inilah yang membuat masing-masing dari kita merasa sendiri dan kesepian. Jika hal ini terus berlanjut maka besar kemungkinan individu akan semakin sulit untuk menerima diri apa adanya dan menjadi semakin kesepian setiap harinya.
Lalu apa hubungannya dengan FB atau jejaring sosial lain? Sepintas memang tidak ada korelasi yang nampak antara kesepian dengan jejaring sosial-saya sendiri tidak menyadarinya sampai saya teringat artikel ini- tetapi ada sebuah riset yang menunjukkan adanya korelasi antara berapa sering seorang mengakses jejaring sosial dengan tingkat depresi. Jadi saya merasa tertohok dan bertanya apakah saya sedang depresi? Karena tingkat saya mengakses jejaring sosial akhir-akhir ini lebih banyak dari biasanya.
Tesis kedua yang bisa saya lontarkan adalah adanya sebuah kepuasan ketika kita mengakses jejaring sosial. Karena di jejaring sosial kita bisa mengatakan apa pun, terlepas dari apakah itu hal yang penting atau tidak. Tanpa perlu was-was, kita merasa bebas untuk mengeluarkan apa yang ada dipikiran kita. Status-status yang kita lontarkan di jejaring sosial ini kemudian direspon oleh teman-teman kita sehingga membuat kita merasa tidak kesepian, mendapat perhatian, dan perasaan diterima. Dan dari pengamatan saya, hal ini bersifat cukup adiktif. Beberapa teman saya menghabiskan waktu dua, tiga, sampai sepuluh jam per harinya untuk membuka FB. Ini saya ketahui dari iseng-iseng ketika membuka profile teman-teman saya.
Tesis ketiga sekaligus yang terakhir adalah, seorang individu yang telah addict dalam dunia maya akan merasa kesepian dan tidak nyaman untuk kembali ke dunia nyata. Hal ini bisa jadi karena individu itu merasa bahwa dunia maya lebih memuaskan dan lebih menyenangkan dibandingkan dunia nyata. Hal ini menciptakan sebuah lingkaran setan yang tidak terputus, ketika individu memasuki dunia nyata dan melihat kenyataan tidak seindah dunia maya maka ia kembali ke dalam dunia maya yang merupakan zona aman bagi dirinya. Hal ini terus berulang hingga ia tidak menyadari bahwa ia sudah terlalu lama dalam dunia maya. Seperti ditelan hidup-hidup, tidak merasakan sakit, begitu tersadar kita sudah dicerna oleh penolakkan dan kesepian yang sedikit banyak kita ciptakan sendiri.
Masuk ke bagian aplikasi, mungkin sudah saatnya kita kembali ke dunia nyata dan membenahi apa yang ada. Bangun dari dunia impian. Keluar dari zona aman. Bersama orang-orang yang anda kasihi, orang-orang yang penting bagi kita semua. Atau mungkin anda bisa menolong menyadarkan teman anda?
Kamis, 10 Maret 2011
Sosiopat
Mungkin jarang sekali orang mendengar apa yang disebut sebagai sosiopat. Masyarakat tidak familiar bahkan tidak paham sama sekali dengan istilah ini. Sosiopat. Salah satu fenomena sosial yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu psikopat, antisosial, dan disosial. Sosiopat sendiri merupakan suatu perilaku "menyendiri" yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mampu membaur dengan lingkungan sosial. Pada umumnya, sosiopat lebih sering dihubungkan dengan apa yang kita sebut sebagai psikopat. Karena itu, tidak heran banyak orang yang lebih mengenal istilah psikopat dibandingkan antisosial dan disosial bahkan sosiopat itu sendiri.
Psikopat tidak selalu melakukan hal-hal ekstrem seperti yang dituduhkan kepada mereka di televisi atau berita yang kita dengar. Tidak selalu melakukan pembunuhan kejam atau sadis. Seorang psikopat biasanya mudah marah, memiliki banyak pasangan (sexual partner), keras kepala ketika berbohong dan tidak memiliki kemampuan untuk membaur atau berteman dalam jangka waktu yang lama. Menurut saya, seorang psikopat dapat muncul karena pengalaman di masa lalu yang membuat dirinya menjadi pemarah dan keras kepala ketika berbohong. Seseorang dikatakan keras kepala dalam berbohong jika ia ketahuan berbohong, ia akan membuat kebohongan lanjutan untuk menutupi kebohongan yang ia lakukan sebelumnya. Hal ini membuat saya agak bingung karena bukankah setiap orang (pada umumnya) melakukan hal tersebut?
Antisosial adalah orang-orang yang memiliki "kebiasaan" untuk menyakiti orang disekitarnya. memiliki kebiasaan mencuri dan sulit untuk berteman. Agak sulit untuk membedakan seorang antisosial dengan psikopat karena memiliki kemiripan yang cukup banyak. Seorang antisosial adalah orang yang menyendiri. Mereka tahu dan sadar betul mengenai nilai yang ada di masyarakat tetapi tidak mencoba atau menolak nilai-nilai tersebut sehingga mereka terkesan "tertolak" oleh lingkungan. Kelompok antisosial memang jarang dilihat oleh masyarakat bahkan dianggap tidak ada. Tetapi sadar atau tidak kehadiran orang-orang ini semakin lama semakin bertambah.
Berbeda sebutan tentu juga berbeda arti. Disosial. Sama seperti dua "temannya" yang saya sebutkan sebelumnya, orang-orang disosial adalah orang-orang yang tidak dapat berteman dalam waktu lama. Bedanya, seorang disosial adalah orang yang menyakiti orang disekitarnya dan memiliki tingkat narsisme yang lumayan tinggi. Disosial adalah orang yang tidak memahami bagaimana berinteraksi dengan lingkungan sosial. Di dalam diri masing-masing memiliki perasaan ingin diterima masyarakat tetapi tidak paham hal apa yang harus dilakukan untuk dapat diterima oleh masyarakat.
Satu ciri yang paling tidak bisa dibedakan dari para sosiopat dari masyarakat pada umumnya adalah, mereka dikenal dengan keramahan mereka dan kebaikan mereka. Walau ada ciri khas yaitu sulit bersahabat, memiliki kecenderungan berbohong, merugikan orang disekitarnya dan narsistik. Selain dari ciri yang saya sebutkan di atas, saya yakin banyak hal lain yang menjadi ciri khas para sosiopat yang mungkin dapat kita katakan sebagai sesuatu yang "normal" bagi kita. Karena itu, sulit untuk membedakan apakah seorang adalah sosiopat atau bukan, mungkin anda salah satunya? Atau mungkin teman anda?
#Dari berbagai sumber
Psikopat tidak selalu melakukan hal-hal ekstrem seperti yang dituduhkan kepada mereka di televisi atau berita yang kita dengar. Tidak selalu melakukan pembunuhan kejam atau sadis. Seorang psikopat biasanya mudah marah, memiliki banyak pasangan (sexual partner), keras kepala ketika berbohong dan tidak memiliki kemampuan untuk membaur atau berteman dalam jangka waktu yang lama. Menurut saya, seorang psikopat dapat muncul karena pengalaman di masa lalu yang membuat dirinya menjadi pemarah dan keras kepala ketika berbohong. Seseorang dikatakan keras kepala dalam berbohong jika ia ketahuan berbohong, ia akan membuat kebohongan lanjutan untuk menutupi kebohongan yang ia lakukan sebelumnya. Hal ini membuat saya agak bingung karena bukankah setiap orang (pada umumnya) melakukan hal tersebut?
Antisosial adalah orang-orang yang memiliki "kebiasaan" untuk menyakiti orang disekitarnya. memiliki kebiasaan mencuri dan sulit untuk berteman. Agak sulit untuk membedakan seorang antisosial dengan psikopat karena memiliki kemiripan yang cukup banyak. Seorang antisosial adalah orang yang menyendiri. Mereka tahu dan sadar betul mengenai nilai yang ada di masyarakat tetapi tidak mencoba atau menolak nilai-nilai tersebut sehingga mereka terkesan "tertolak" oleh lingkungan. Kelompok antisosial memang jarang dilihat oleh masyarakat bahkan dianggap tidak ada. Tetapi sadar atau tidak kehadiran orang-orang ini semakin lama semakin bertambah.
Berbeda sebutan tentu juga berbeda arti. Disosial. Sama seperti dua "temannya" yang saya sebutkan sebelumnya, orang-orang disosial adalah orang-orang yang tidak dapat berteman dalam waktu lama. Bedanya, seorang disosial adalah orang yang menyakiti orang disekitarnya dan memiliki tingkat narsisme yang lumayan tinggi. Disosial adalah orang yang tidak memahami bagaimana berinteraksi dengan lingkungan sosial. Di dalam diri masing-masing memiliki perasaan ingin diterima masyarakat tetapi tidak paham hal apa yang harus dilakukan untuk dapat diterima oleh masyarakat.
Satu ciri yang paling tidak bisa dibedakan dari para sosiopat dari masyarakat pada umumnya adalah, mereka dikenal dengan keramahan mereka dan kebaikan mereka. Walau ada ciri khas yaitu sulit bersahabat, memiliki kecenderungan berbohong, merugikan orang disekitarnya dan narsistik. Selain dari ciri yang saya sebutkan di atas, saya yakin banyak hal lain yang menjadi ciri khas para sosiopat yang mungkin dapat kita katakan sebagai sesuatu yang "normal" bagi kita. Karena itu, sulit untuk membedakan apakah seorang adalah sosiopat atau bukan, mungkin anda salah satunya? Atau mungkin teman anda?
#Dari berbagai sumber
Jumat, 18 Februari 2011
Bon Appetite
Lihat itadakimasu!!
Area makan. Kini tidak lagi menjadi sebuah tempat untuk menyantap makanan saja. Saat ini, area makan telah memiliki fungsi lain. Sebuah medan gengsi, sebuah tempat untuk mengobrol, tempat dimana kita mendapat pengalaman dari cerita teman, dan sebuah tempat untuk melupakan semilir angin sepi yang seringkali bertiup. Hal ini sudah menjadi sebuah rahasia umum, tidak peduli berapa usianya, area makan menjadi sebuah tempat yang paling mengesankan di seluruh dunia.
Dengan fungsinya yang beraneka ragam, sebuah area makan memberikan cita rasa tersendiri untuk para penikmatnya. Saat ini area makan tidak lagi dinikmati sebagai sebuah area untuk menyantap hidangan. Ia memiliki fungsi baru yang tidak bisa ditolak untuk sebagian orang. Sebuah keinginan untuk menghindari rasa kesepian.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia adalah sosok yang membutuhkan manusia lain. Keadaan zaman yang serba cepat, membuat kita kesulitan untuk bertemu sekedar untuk mengobrol secara ringan antar manusia. Karena itu tidak heran jika seorang lebih mudah merasa kesepian akhir-akhir ini. Tidak menemukan manusia lain yang dapat menemaninya secara fisik dan emosi menyebabkan perasaan tersebut semakin terpupuk. Dan area makan mampu mengatasi hal tersebut. Tempat ini menyediakan sebuah ruang dimana orang-orang dapat bertemu dan saling bercerita. Mulai dari hal-hal yang sifatnya umum hingga masalah pribadi. Kemudian berlanjut menjadi sebuah kelompok yang semakin erat seiring dengan banyakanya cerita yang diedarkan.
Di area makan, orang-orang berkumpul dan mulai bercerita. Mendengar apa yang ingin didengar dan membuang apa yang tidak ingin didengar. Memercayai yang ingin dipercayai dan mengacuhkan yang lain. Kemudian karena begitu banyaknya cerita yang didengar dan dipercayai. Akhirnya nilai-nilai yang tertanam mulai bergeser. Hal ini membuat kita bingung untuk memilih mana hal yang benar dan mana yang kurang benar.
Bukan hanya itu, area makan juga menawarkan hal lain yang tidak kalah penting untuk manusia pada umumnya. Gengsi. Berbeda area makan, berbeda pula perasaan yang ikut serta didalamnya. Ada sebuah prestige tersendiri ketika mengunjungi area makan yang unik atau mewah dibandingkan datang ke area makan yang bisa dikatakan sederhana atau biasa saja. Contohnya saja ketika ingin meneguk secangkir kopi. Ada perasaan yang berbeda ketika membeli kopi di Starbucks. Ada sebuah kebanggaan, sebuah pengalaman, dan yang terpenting perasaan ketika datang dan membeli. Secara sadar, kita sebagai manusia paham bahwa gengsi menjadi sebuah tolak ukur yang mutlak dalam masyarakat. Karena menyadari hal inilah, akhirnya kita mencoba menjadi yang paling up-to-date dan ingin populer.
Mungkin yang kita nikmati sebenarnya bukanlah makanan yang ada melainkan fasilitas yang terselubung di area makan. Tidak heran jika beberapa penjual makanan keliling kekurangan pendapatnya. Saya rasa ini ada hubungannya dengan kecenderungan kita untuk duduk dan menikmati area makan. Angkatan ini adalah angkatan yang menyukai makna dibandingkan fungsi. Sebuah nilai prestige dari pengalaman, baik yang diceritakan orang lain maupun dialami diri sendiri. Saya jadi sedikit berpikir, mungkin selama ini kita menikmati makan hanya sebagai rutinitas dan kehilangan makna sesungguhnya dari makan itu sendiri.
Area makan. Kini tidak lagi menjadi sebuah tempat untuk menyantap makanan saja. Saat ini, area makan telah memiliki fungsi lain. Sebuah medan gengsi, sebuah tempat untuk mengobrol, tempat dimana kita mendapat pengalaman dari cerita teman, dan sebuah tempat untuk melupakan semilir angin sepi yang seringkali bertiup. Hal ini sudah menjadi sebuah rahasia umum, tidak peduli berapa usianya, area makan menjadi sebuah tempat yang paling mengesankan di seluruh dunia.
Dengan fungsinya yang beraneka ragam, sebuah area makan memberikan cita rasa tersendiri untuk para penikmatnya. Saat ini area makan tidak lagi dinikmati sebagai sebuah area untuk menyantap hidangan. Ia memiliki fungsi baru yang tidak bisa ditolak untuk sebagian orang. Sebuah keinginan untuk menghindari rasa kesepian.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia adalah sosok yang membutuhkan manusia lain. Keadaan zaman yang serba cepat, membuat kita kesulitan untuk bertemu sekedar untuk mengobrol secara ringan antar manusia. Karena itu tidak heran jika seorang lebih mudah merasa kesepian akhir-akhir ini. Tidak menemukan manusia lain yang dapat menemaninya secara fisik dan emosi menyebabkan perasaan tersebut semakin terpupuk. Dan area makan mampu mengatasi hal tersebut. Tempat ini menyediakan sebuah ruang dimana orang-orang dapat bertemu dan saling bercerita. Mulai dari hal-hal yang sifatnya umum hingga masalah pribadi. Kemudian berlanjut menjadi sebuah kelompok yang semakin erat seiring dengan banyakanya cerita yang diedarkan.
Di area makan, orang-orang berkumpul dan mulai bercerita. Mendengar apa yang ingin didengar dan membuang apa yang tidak ingin didengar. Memercayai yang ingin dipercayai dan mengacuhkan yang lain. Kemudian karena begitu banyaknya cerita yang didengar dan dipercayai. Akhirnya nilai-nilai yang tertanam mulai bergeser. Hal ini membuat kita bingung untuk memilih mana hal yang benar dan mana yang kurang benar.
Bukan hanya itu, area makan juga menawarkan hal lain yang tidak kalah penting untuk manusia pada umumnya. Gengsi. Berbeda area makan, berbeda pula perasaan yang ikut serta didalamnya. Ada sebuah prestige tersendiri ketika mengunjungi area makan yang unik atau mewah dibandingkan datang ke area makan yang bisa dikatakan sederhana atau biasa saja. Contohnya saja ketika ingin meneguk secangkir kopi. Ada perasaan yang berbeda ketika membeli kopi di Starbucks. Ada sebuah kebanggaan, sebuah pengalaman, dan yang terpenting perasaan ketika datang dan membeli. Secara sadar, kita sebagai manusia paham bahwa gengsi menjadi sebuah tolak ukur yang mutlak dalam masyarakat. Karena menyadari hal inilah, akhirnya kita mencoba menjadi yang paling up-to-date dan ingin populer.
Mungkin yang kita nikmati sebenarnya bukanlah makanan yang ada melainkan fasilitas yang terselubung di area makan. Tidak heran jika beberapa penjual makanan keliling kekurangan pendapatnya. Saya rasa ini ada hubungannya dengan kecenderungan kita untuk duduk dan menikmati area makan. Angkatan ini adalah angkatan yang menyukai makna dibandingkan fungsi. Sebuah nilai prestige dari pengalaman, baik yang diceritakan orang lain maupun dialami diri sendiri. Saya jadi sedikit berpikir, mungkin selama ini kita menikmati makan hanya sebagai rutinitas dan kehilangan makna sesungguhnya dari makan itu sendiri.
Minggu, 30 Januari 2011
Nilai seorang mahasiswa
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman meributkan masalah dua digit. Hari ini giliran saya yang bingung karena masalah IP. Minggu lalu, saya berhadapan dengan seorang dosen pengampu Psikologi Lintas Budaya. Kebetulan teman saya yang mengolah data tersebut. Saya ikut menyaksikan bagaimana nilai-nilai Ujian Akhir Semester (UAS) diolah. Di sana saya mendapati nilai C. Bukan nilai yang asing bagi saya. Saya memang bukan orang yang pintar dan sudah beberapa nilai C bertengger di Kartu Hasil Studi (KHS) saya. Teman saya ini menyarankan agar saya memberikan nilai peer rating yang memungkinkan saya untuk mengubah nilai. Awalnya saya berpikir untuk mengubah karena iri dengan teman-teman lain yang memiliki nilai di atas saya. Tapi saya merasa bahwa nilai itu memang pantas untuk saya. Mari perhatikan, saya tidak belajar untuk presentasi dan tidak menuliskan secara jelas jawaban dalam kuis. Pantaskah saya untuk protes? Rasanya tidak.
Kemudian dua orang teman berkata kepada saya untuk mengubah nilai tersebut. Mereka berkata bahwa teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Disini saya cukup kaget mendengar yang dikatakan teman saya itu. Jadi, nilai yang terpampang di layar laptop, yang saya pandangi saat ini adalah palsu? Hasil pengangkatan oleh penilaian teman. Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa banyak orang yang memandang nilai ini begitu penting? Apa iya mereka tidak bisa hidup kalau ada cacat dalam nilai? Mendapat nilai B/C atau C rasanya bukan akhir dunia. Ok, mungkin saya bisa berkata begini karena sudah ada nilai C yang bertengger di KHS saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menemui dosen pengampu Psikologi Lintas Budaya tersebut keesokan harinya.
Singkat cerita, saya berhasil mengubah nilai saya dengan menggunakan peer rating yang saya terima dari empat orang teman saya. Mereka memberi nilai rata-rata yang hampir sama. B. Untuk attractiveness (padahal saya tidak membawa apa pun untuk presentasi) dan untuk penguasaan materi. Dalam hati saya berpikir, mungkin sepantasnya saya protes dan bilang ke dosen tersebut untuk mengubah nilai menjadi D. Kemudian dua teman saya yang mengolah nilai tersebut datang ke kampus untuk mengubah nilai C saya. Kalau tidak salah ingat, porsi nilai yang saya dapat dari attractiveness dan penguasaan materi adalah 80% jika ditotal. Dengan kata lain, jika saya mendapat nilai B, maka saya akan mendapat nilai B juga untuk dipajang di KHS. Kemudian saya juga ingat dengan jelas bahwa nilai saya berubah menjadi B. Nyatanya tidak.
Beberapa hari lewat semenjak perubahan nilai itu. Saya kemudian melihat nilai saya dipampang pada situs resmi fakultas. Dengan rasa penasaran yang pasti dialami oleh semua mahasiswa. Nilai apa saja yang sudah muncul? Disitu saya melihat hanya ada satu nilai. Psikologi Lintas Budaya. Aneh, nilai yang tercetak di sana A/B. Sebagai mahasiswa tentu saya merasa kaget dengan nilai yang muncul ini. Saat itu saya sudah yakin mendapat B.
Saya merasa hal ini tidak benar dan ingin mempertanyakan langsung kepada dosen. Bagaimana mungkin? Saya yang seharusnya mendapat nilai D untuk mata kuliah ini mendadak dijejali dengan nilai A/B. Bertengger sendirian di sana. Nampak sekali kalau ia sedang menantang nilai lain yang belum memunculkan diri. Di tengah kekagetan saya, ada bisikkan yang masuk.
Kemudian dua orang teman berkata kepada saya untuk mengubah nilai tersebut. Mereka berkata bahwa teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Disini saya cukup kaget mendengar yang dikatakan teman saya itu. Jadi, nilai yang terpampang di layar laptop, yang saya pandangi saat ini adalah palsu? Hasil pengangkatan oleh penilaian teman. Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa banyak orang yang memandang nilai ini begitu penting? Apa iya mereka tidak bisa hidup kalau ada cacat dalam nilai? Mendapat nilai B/C atau C rasanya bukan akhir dunia. Ok, mungkin saya bisa berkata begini karena sudah ada nilai C yang bertengger di KHS saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menemui dosen pengampu Psikologi Lintas Budaya tersebut keesokan harinya.
Singkat cerita, saya berhasil mengubah nilai saya dengan menggunakan peer rating yang saya terima dari empat orang teman saya. Mereka memberi nilai rata-rata yang hampir sama. B. Untuk attractiveness (padahal saya tidak membawa apa pun untuk presentasi) dan untuk penguasaan materi. Dalam hati saya berpikir, mungkin sepantasnya saya protes dan bilang ke dosen tersebut untuk mengubah nilai menjadi D. Kemudian dua teman saya yang mengolah nilai tersebut datang ke kampus untuk mengubah nilai C saya. Kalau tidak salah ingat, porsi nilai yang saya dapat dari attractiveness dan penguasaan materi adalah 80% jika ditotal. Dengan kata lain, jika saya mendapat nilai B, maka saya akan mendapat nilai B juga untuk dipajang di KHS. Kemudian saya juga ingat dengan jelas bahwa nilai saya berubah menjadi B. Nyatanya tidak.
Beberapa hari lewat semenjak perubahan nilai itu. Saya kemudian melihat nilai saya dipampang pada situs resmi fakultas. Dengan rasa penasaran yang pasti dialami oleh semua mahasiswa. Nilai apa saja yang sudah muncul? Disitu saya melihat hanya ada satu nilai. Psikologi Lintas Budaya. Aneh, nilai yang tercetak di sana A/B. Sebagai mahasiswa tentu saya merasa kaget dengan nilai yang muncul ini. Saat itu saya sudah yakin mendapat B.
Saya merasa hal ini tidak benar dan ingin mempertanyakan langsung kepada dosen. Bagaimana mungkin? Saya yang seharusnya mendapat nilai D untuk mata kuliah ini mendadak dijejali dengan nilai A/B. Bertengger sendirian di sana. Nampak sekali kalau ia sedang menantang nilai lain yang belum memunculkan diri. Di tengah kekagetan saya, ada bisikkan yang masuk.
"Sudah tidak perlu diurus lagi, dosen itu pasti lelah dengan masalah nilai yang diperkarakan 1 minggu ini. Lagipula, apa tidak kasihan dengan temanmu yang sudah mengolah data? Mereka sampai kehujanan loh. Lagipula nilaimu bagus loh, sudah tinggi. Kenapa ingin diturunkan?"
Sesaat saya berpikir, mungkin benar. Sebaiknya tidak usah diusut lagi. Terlalu banyak perhatian yang tersita. Terlalu melelahkan harus berurusan dengan angka biner yang menjadi penghubung hidup dan mati beberapa mahasiswa. Di sisi yang lain, saya merasa ini tidak adil. Kenapa mahasiswa seperti saya bisa mendapatkan nilai A/B? Padahal saya tidak berusaha sejauh itu. Saya tidak memberikan yang terbaik sewaktu presentasi. Jadi, saya putuskan untuk menanyakan langsung kepada dosen. Kalau bisa mengubah A/B menjadi B. Saya cukup puas dengan nilai itu. Tidak perlu lebih tinggi.
Belum lama setelah saya mantapkan pilihan. Bisikkan lain mengikuti.
Belum lama setelah saya mantapkan pilihan. Bisikkan lain mengikuti.
"Kenapa tidak bersyukur? Banyak orang yang menginginkan nilai tinggi itu dan sekarang kamu mencampakkannya begitu saja? Bukankah nilai A/B itu akan membahagiakan orang tuamu? Bukankah kamu ingin orang tuamu bahagia?Ayolah, kapan lagi kamu bisa mendapat nilai A/B?"
Saya kembali terhenyak. Benar. Selama ini nilai saya tidak memuaskan. Benar. Saya ingin membahagiakan orang tua. Ya, saya mengakui sebagai manusia. Sebagai seorang mahasiswa. Saya membutuhkan nilai A/B itu. Saya menyadari itu sebagai kebutuhan. Agar dapat mendapatkan pekerjaan layak. Agar mendongkrak nilai. Agar bisa membahagiakan orang tua. Tapi bukan dengan cara itu. Bukan dengan mengelabui semua orang termasuk diri sendiri. Membanggakan diri dengan nilai tinggi tanpa kerja keras rasanya tak pantas. Ya, aku membutuhkan nilai itu. Tapi dengan kemampuanku sendiri. Setiap kali melihat teman-teman yang berusaha keras atau mendapat nilai baik seringkali terlintas,"Kenapa saya tidak berjuang lebih keras?"
Kemudian saya mengangkat kepala. Menyadari bahwa diri saya pun menginginkan nilai. Saya sombong dan angkuh. Tapi, sudah saya bulatkan tekad untuk mengubah nilai saya ke nilai seharusnya. B. Walau pasti akan sulit menemui dosen dan mengubah nilai tersebut. Seoran pernah berkata,"Lakukanlah apa yang menurut kamu benar. Mungkin tidak ada alasan logis atau hal itu dianggap tidak wajar oleh orang lain. Tetapi itu berarti jujur kepada diri sendiri."
Saat ini saya masih kebingungan dengan langkah yang akan saya ambil. Mengubah atau tidak. Saya tidak seratus persen yakin bahwa hal ini baik untuk dilakukan. Tapi saya juga tidak bisa diam melihat nilai saya yang tidak pantas itu.
Kemudian saya mengangkat kepala. Menyadari bahwa diri saya pun menginginkan nilai. Saya sombong dan angkuh. Tapi, sudah saya bulatkan tekad untuk mengubah nilai saya ke nilai seharusnya. B. Walau pasti akan sulit menemui dosen dan mengubah nilai tersebut. Seoran pernah berkata,"Lakukanlah apa yang menurut kamu benar. Mungkin tidak ada alasan logis atau hal itu dianggap tidak wajar oleh orang lain. Tetapi itu berarti jujur kepada diri sendiri."
Saat ini saya masih kebingungan dengan langkah yang akan saya ambil. Mengubah atau tidak. Saya tidak seratus persen yakin bahwa hal ini baik untuk dilakukan. Tapi saya juga tidak bisa diam melihat nilai saya yang tidak pantas itu.
One does not become enlightened by imagining figures of light, but by making the darkness conscious.-Carl. G. Jung-
Senin, 24 Januari 2011
Robot atau alien?
"Are you robot or an alien?"
Pertanyaan yang menghenyakkanku beberapa menit yang lalu. Pertanyaan ini kudengar dari salah satu film Barat. Aku baru saja menyadari makna yang terkandung di dalam pertanyaan konyol ini.
Robot. Sebuah benda yang diciptakan manusia. Bergerak menurut program yang telah mengaturnya. Tidak memiliki keinginan dan tujuan hidup selain melakukan apa yang menjadi programnya. Dalam film, biasanya robot diproduksi secara massal. Robot-robot ini disimbolkan sebagai orang-orang yang menuruti aturan tanpa tahu aturan itu benar atau salah. Bahayanya adalah karena mereka ternyata berada disekitar kita. Tanpa kita sadari mungkin kita adalah salah satunya. Pola pikir kita yang tidak kritis membuat kita bergerak layaknya robot. Apa yang kita lakukan nampak sebagai rutinitas. Hidup kita bagai program. Sekolah, mencari kerja, menikah, memiliki anak, dan meninggal. Selalu berurutan seperti itu. Kemudian ketika ditanyai tujuan hidup, mengenai visi, ia akan bingung. Karena hidup yang berlalu begitu saja, tanpa tujuan, tanpa arah. Semua nampak seperti rutinitas belaka.
Alien. Sosok makhluk asing yang belum pernah ditemui sebelumnya,. Makhluk yang benar-benar baru. Sosok ini sering digambarkan sebagai sosok yang ingin mengubah dunia manusia menjadi dunia yang mereka inginkan. Mereka memiliki sebuah tujuan yang jelas. Penaklukan. Penguasaan. Dan yang terpenting perubahan sistem. Seringkali robot dan alien ini berkonfrontasi. Kubu yang ingin mengubah dan kubu yang ingin bertahan. Alien dapat kita analogikan sebagai seorang revolusioner. Seorang yang memiliki cara pandang berbeda dari sekitarnya. Seorang teman berkata kepadaku bahwa orang dengan idealisme adalah orang yang kesepian. Begitu juga alien ini, ia datang sendiri. Mencoba mengubah dunia yang baru menjadi tempat yang mereka anggap lebih layak.
Nampaknya hal ini lebih mudah jika diibaratkan dalam sebuah narasi. Suatu waktu di masa depan. Bumi telah dipenuhi oleh robot. mereka bekerja menggantikan manusia. Bahkan keberadaannya sering menggantikan manusia sendiri. Hal ini diakibatkan jumlah manusia yang sedikit karena perubahan cuaca yang drastis dan berdampak pada kematian massal manusia tiap tahunnya. Kemudian untuk memenuhi jumlah quota pekerja, manusia menciptakan robot. Karena robot lebih mudah untuk diminta bekerja sesuai dengan program. Kemudian datang Alien dari luar angkasa yang menyerang Bumi dan ingin mengubahnya menjadi tempat yang menurut mereka baik. Alien ini terpisah-pisah. Merasa dirinya berjuang sendirian. Akhirnya mereka memunculkan pengikut-pengikut baru. Anak-anak alien yang lucu dan menggemaskan. Kemudian alien ini mulai menyerang ditempat-tempat berbeda. Banyak dari serangan tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan karena mereka kalah dalam jumlah berbanding robot yang memenuhi Bumi. Sebagian lain berhasil tetapi tidak dapat menguasai Bumi karena tidak ada penerus yang dapat melanjutkan. Dan Bumi kembali diliputi robot-robot yang "menguasai" Bumi. Bukankah selalu seperti itu dalam film?
"Are you robot or an alien?"
Pertanyaan yang menghenyakkanku beberapa menit yang lalu. Pertanyaan ini kudengar dari salah satu film Barat. Aku baru saja menyadari makna yang terkandung di dalam pertanyaan konyol ini.
Robot. Sebuah benda yang diciptakan manusia. Bergerak menurut program yang telah mengaturnya. Tidak memiliki keinginan dan tujuan hidup selain melakukan apa yang menjadi programnya. Dalam film, biasanya robot diproduksi secara massal. Robot-robot ini disimbolkan sebagai orang-orang yang menuruti aturan tanpa tahu aturan itu benar atau salah. Bahayanya adalah karena mereka ternyata berada disekitar kita. Tanpa kita sadari mungkin kita adalah salah satunya. Pola pikir kita yang tidak kritis membuat kita bergerak layaknya robot. Apa yang kita lakukan nampak sebagai rutinitas. Hidup kita bagai program. Sekolah, mencari kerja, menikah, memiliki anak, dan meninggal. Selalu berurutan seperti itu. Kemudian ketika ditanyai tujuan hidup, mengenai visi, ia akan bingung. Karena hidup yang berlalu begitu saja, tanpa tujuan, tanpa arah. Semua nampak seperti rutinitas belaka.
Alien. Sosok makhluk asing yang belum pernah ditemui sebelumnya,. Makhluk yang benar-benar baru. Sosok ini sering digambarkan sebagai sosok yang ingin mengubah dunia manusia menjadi dunia yang mereka inginkan. Mereka memiliki sebuah tujuan yang jelas. Penaklukan. Penguasaan. Dan yang terpenting perubahan sistem. Seringkali robot dan alien ini berkonfrontasi. Kubu yang ingin mengubah dan kubu yang ingin bertahan. Alien dapat kita analogikan sebagai seorang revolusioner. Seorang yang memiliki cara pandang berbeda dari sekitarnya. Seorang teman berkata kepadaku bahwa orang dengan idealisme adalah orang yang kesepian. Begitu juga alien ini, ia datang sendiri. Mencoba mengubah dunia yang baru menjadi tempat yang mereka anggap lebih layak.
Nampaknya hal ini lebih mudah jika diibaratkan dalam sebuah narasi. Suatu waktu di masa depan. Bumi telah dipenuhi oleh robot. mereka bekerja menggantikan manusia. Bahkan keberadaannya sering menggantikan manusia sendiri. Hal ini diakibatkan jumlah manusia yang sedikit karena perubahan cuaca yang drastis dan berdampak pada kematian massal manusia tiap tahunnya. Kemudian untuk memenuhi jumlah quota pekerja, manusia menciptakan robot. Karena robot lebih mudah untuk diminta bekerja sesuai dengan program. Kemudian datang Alien dari luar angkasa yang menyerang Bumi dan ingin mengubahnya menjadi tempat yang menurut mereka baik. Alien ini terpisah-pisah. Merasa dirinya berjuang sendirian. Akhirnya mereka memunculkan pengikut-pengikut baru. Anak-anak alien yang lucu dan menggemaskan. Kemudian alien ini mulai menyerang ditempat-tempat berbeda. Banyak dari serangan tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan karena mereka kalah dalam jumlah berbanding robot yang memenuhi Bumi. Sebagian lain berhasil tetapi tidak dapat menguasai Bumi karena tidak ada penerus yang dapat melanjutkan. Dan Bumi kembali diliputi robot-robot yang "menguasai" Bumi. Bukankah selalu seperti itu dalam film?
"Are you robot or an alien?"
It's level up time!!
Respon terhadap dua digitnya saya heran...
Sewaktu aku kecil tanteku berkata bahwa aku haruslah ranking satu. Ia berpesan kalau aku haruslah menjadi yang terbaik. Ia juga berkata bahwa nilai berdigit dua itu yang menjadi tujuanku belajar. Kemudian aku yang masih kecil dan sangat polos menjawab dengan pasti,"Ah tidak apa-apa, kalau tidak dapat ranking satu yang penting naik kelas." Saat itu aku masih sekitar dua SD. Aku berpikir bahwa jika aku tidak memahami pelajaran yang diajarkan tidak akan ada artinya aku mendapat rangking teratas. Namun, tanteku bersikeras bahwa aku haruslah rangking pertama. Sebagai anak kecil polos yang masih bergantung pada orang dewasa, aku mengiyakan. Namun, perasaanku berontak. Aku berpikir bahwa mendapatkan ranking pertama bukanlah tujuanku bersekolah. Motivasiku bersekolah saat itu adalah karena aku dapat menemukan hal baru mengenai dunia ini, aku menemukan bahwa belajar itu menyenangkan! Banyak hal yang ternyata tidak kuketahui.
Banyak dari antara teman-temanku yang mengatakan bahwa sekolah membosankan dan menyebalkan. Aku hanya mengiyakan apa yang mereka katakan tapi tidak berkata bahwa menurutku sekolah menyenangkan. Setiap aku naik kelas aku mendapatkan tantangan baru. Seperti melanjutkan ke tingkat dalam sebuah game. Pelajaran yang kuterima aku anggap sebagai experience yang harus kudapatkan untuk bisa meningkatkan level. Aku tak pernah mengatakan hal ini kepada temanku karena mereka akan menganggapku sok rajin, anak pintar, anak alim, dan sebutan lain yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa berbeda saat itu. Kini sudah belasan tahun lewat dari masa itu. Aku menemukan masalah yang sama. Ketika dua digit yang diberikan oleh dosen seperti pernyataan hakim akan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Awalnya aku juga merasa bahwa dua digit itu penting. Sebelum akhirnya pada semester satu, aku merasa bahwa aku harus memiliki nilai yang baik. Tetapi semua segera berubah, aku tersadar bahwa bukan itu yang aku cari dalam perkuliahan. Yang aku cari adalah seorang yang dapat memberikanku experience yang cukup bagiku agar bisa maju ke level selanjutnya. Mencari nilai bukan tujuan utamanya. Aku merasa kecewa dengan nilaiku yang kurang memuaskan, rasanya semua orang seperti itu. Memang nilai itu akan menjadi penilaian dalam mencari kerja, tapi itu semua akan hilang dalam sekejap. Aku maju sejauh ini dan berusaha menutup telinga atas apa yang mereka katakan mengenai nilai. Nilai itu penting tapi jangan menjadi yang terpenting. Jika berkuliah untuk mendapatkan nilai, bisa saja meminta dosen memberikan nilai A atau berapa pun yang diinginkan. Nilai itu didapat dari kemampuan. Mungkin yang tidak baik bukan nilai yang kita dapat tetapi sistem yang membuat nilai itu muncul. Kemudian sebuah pertanyaan muncul dikepalaku, adakah orang lain diluar sana yang mempertanyakan dua digit itu?
Sewaktu aku kecil tanteku berkata bahwa aku haruslah ranking satu. Ia berpesan kalau aku haruslah menjadi yang terbaik. Ia juga berkata bahwa nilai berdigit dua itu yang menjadi tujuanku belajar. Kemudian aku yang masih kecil dan sangat polos menjawab dengan pasti,"Ah tidak apa-apa, kalau tidak dapat ranking satu yang penting naik kelas." Saat itu aku masih sekitar dua SD. Aku berpikir bahwa jika aku tidak memahami pelajaran yang diajarkan tidak akan ada artinya aku mendapat rangking teratas. Namun, tanteku bersikeras bahwa aku haruslah rangking pertama. Sebagai anak kecil polos yang masih bergantung pada orang dewasa, aku mengiyakan. Namun, perasaanku berontak. Aku berpikir bahwa mendapatkan ranking pertama bukanlah tujuanku bersekolah. Motivasiku bersekolah saat itu adalah karena aku dapat menemukan hal baru mengenai dunia ini, aku menemukan bahwa belajar itu menyenangkan! Banyak hal yang ternyata tidak kuketahui.
Banyak dari antara teman-temanku yang mengatakan bahwa sekolah membosankan dan menyebalkan. Aku hanya mengiyakan apa yang mereka katakan tapi tidak berkata bahwa menurutku sekolah menyenangkan. Setiap aku naik kelas aku mendapatkan tantangan baru. Seperti melanjutkan ke tingkat dalam sebuah game. Pelajaran yang kuterima aku anggap sebagai experience yang harus kudapatkan untuk bisa meningkatkan level. Aku tak pernah mengatakan hal ini kepada temanku karena mereka akan menganggapku sok rajin, anak pintar, anak alim, dan sebutan lain yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa berbeda saat itu. Kini sudah belasan tahun lewat dari masa itu. Aku menemukan masalah yang sama. Ketika dua digit yang diberikan oleh dosen seperti pernyataan hakim akan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Awalnya aku juga merasa bahwa dua digit itu penting. Sebelum akhirnya pada semester satu, aku merasa bahwa aku harus memiliki nilai yang baik. Tetapi semua segera berubah, aku tersadar bahwa bukan itu yang aku cari dalam perkuliahan. Yang aku cari adalah seorang yang dapat memberikanku experience yang cukup bagiku agar bisa maju ke level selanjutnya. Mencari nilai bukan tujuan utamanya. Aku merasa kecewa dengan nilaiku yang kurang memuaskan, rasanya semua orang seperti itu. Memang nilai itu akan menjadi penilaian dalam mencari kerja, tapi itu semua akan hilang dalam sekejap. Aku maju sejauh ini dan berusaha menutup telinga atas apa yang mereka katakan mengenai nilai. Nilai itu penting tapi jangan menjadi yang terpenting. Jika berkuliah untuk mendapatkan nilai, bisa saja meminta dosen memberikan nilai A atau berapa pun yang diinginkan. Nilai itu didapat dari kemampuan. Mungkin yang tidak baik bukan nilai yang kita dapat tetapi sistem yang membuat nilai itu muncul. Kemudian sebuah pertanyaan muncul dikepalaku, adakah orang lain diluar sana yang mempertanyakan dua digit itu?
Desire for Love
Pernah seorang teman berkata bahwa cinta seorang pria didasari oleh nafsu. Tidak ada definisi cinta bagi kaum Adam. Bagi kami, yang ada hanya hasrat seksual yang menggebu-gebu. Yang kami lihat hanya keindahan tubuh wanita-wanita seksi yang setiap hari berjalan di area perkotaan maupun desa. Seperti halnya etalase berjalan, kami mulai melirik dan menelusuri lekuk tubuh yang berjalan di sekitar kami. Seonggok daging yang dikatakan seksi. Itulah yang kami lihat dari wanita, terlepas dari apakah mereka memakai pakaian wajar atau tidak. Kami tidak memiliki mata super seperti Superman atau peralatan canggih layaknya Superhero. Tapi kami mampu menelanjangi mereka hanya dengan menatapnya. Kami diberikan kemampuan untuk melakukan hal itu. Bukankah pria lebih imajinatif dalam hal-hal seperti ini? Tentu tidak ada yang meragukan kemampuan kami dalam hal mengingat jalan, memperhitungkan arah, hingga membuat gambar abstrak. Menelanjangi mereka rasanya bukan hal yang sulit. Lalu, penulis mempertanyakan sisi manusia dari makhluk yang kelak akan membimbing sebuah keluarga ini. Sosok yang akan jadi panutan dan dihormati di dalam sebuah keluarga. Bagaimana mungkin seorang manusia, yang normal dengan akal sehatnya, tidak menolak ketika dibimbing oleh sosok tak berperasaan yang diliputi nafsu seksual?
Seringkali kami dianggap sebagai ciptaan Tuhan yang lebih mengandalkan pikiran kami daripada perasaan. Dianggap tidak peka dan sebagainya. Lalu kenapa banyak orang memilih kami sebagai kepala? Bukankah kami adalah makhluk yang tidak mengenal arti kata cinta? Yang bergerak dengan nafsu seksual yang membara. Yang bergerak dengan pikiran tanpa perasaan. Jika itu benar, pernahkah membayangkan berapa banyak anak gadis yang akan diminta melayani keinginan seksual dari pemimpin kelompok. Bukankah lebih masuk akal jika kami menggunakan kelebihan kami dalam bidang rasio untuk menipu para wanita dan menjadikan mereka budak kami? Bukankah lebih masuk akal jika kami mengambil keuntungan tanpa memikirkan orang lain?
Tapi kenyataan berkata lain, tidak semua dari kami melakukan hal itu. Tidak semua pria memandang wanita sebagai etalase berjalan, seonggok daging. Memang harus diakui bahwa kami diliputi oleh nafsu seksual yang menggebu, yang seringkali tak bisa kami kontrol. Rasanya semua pria di dunia seperti itu. Termasuk penulis. Penulis mengakui bahwa kaum Adam nampaknya lebih tertarik terhadap hal-hal seperti itu dibandingkan kaum Hawa. Tapi bukan berarti kami bertindak tanpa rasa bersalah. Bukan berarti kami bangga akan apa yang kami lakukan. Bukan berarti kami senang dengan kemampuan kami untuk menelanjangi wanita. Mungkin ada juga yang senang. Tapi sebagian dari kami merasa bersalah. Kami merasa hal itu tidak layak dan tidak benar. Apa mungkin seorang yang tidak mengenal cinta berpikir hingga sejauh itu? Jika kami tidak mengenal cinta bukankah kami akan mementingkan diri sendiri? Tidak merasa bersalah pada orang lain, yang terpenting adalah kepuasan pribadi.
Penulis berpikir bahwa kaum Adam pastilah memiliki perasaan yang disebut sebagai cinta. Karena cinta sendiri berbeda-beda, tergantung objek cinta itu. Hal ini penulis yakini bukan karena penulis adalah seorang pria dan mencoba mempertahankan diri. Penulis yakin bahwa setiap manusia memiliki perasaan dan nafsu. Perasaan sedih, bahagia, senang, mengantuk, lelah, sayang, cinta dan berbagai perasaan lainnya. Penulis yakin pernah dirasakan semua orang. Kemudian nafsu, bukan nafsu dalam definisi sempit seperti nafsu seksual tetapi nafsu secara umum. Penulis yakin bahwa setiap manusia memiliki nafsu. Nafsu dapat didefinisikan sebagai desire. Keinginan yang dimiliki manusia. Penulis merasa bahwa tidak salah seorang manusia memiliki nafsu, tetapi nafsu itu harus dikontrol. Bagaimana mungkin manusia tidak memiliki nafsu? Harus diakui setiap manusia memiliki nafsu yang satu ini. Nafsu makan. Hanya saja nafsu memiliki pandangan yang lebih negatif dibandingkan dengan keinginan.

Seringkali kami dianggap sebagai ciptaan Tuhan yang lebih mengandalkan pikiran kami daripada perasaan. Dianggap tidak peka dan sebagainya. Lalu kenapa banyak orang memilih kami sebagai kepala? Bukankah kami adalah makhluk yang tidak mengenal arti kata cinta? Yang bergerak dengan nafsu seksual yang membara. Yang bergerak dengan pikiran tanpa perasaan. Jika itu benar, pernahkah membayangkan berapa banyak anak gadis yang akan diminta melayani keinginan seksual dari pemimpin kelompok. Bukankah lebih masuk akal jika kami menggunakan kelebihan kami dalam bidang rasio untuk menipu para wanita dan menjadikan mereka budak kami? Bukankah lebih masuk akal jika kami mengambil keuntungan tanpa memikirkan orang lain?
Tapi kenyataan berkata lain, tidak semua dari kami melakukan hal itu. Tidak semua pria memandang wanita sebagai etalase berjalan, seonggok daging. Memang harus diakui bahwa kami diliputi oleh nafsu seksual yang menggebu, yang seringkali tak bisa kami kontrol. Rasanya semua pria di dunia seperti itu. Termasuk penulis. Penulis mengakui bahwa kaum Adam nampaknya lebih tertarik terhadap hal-hal seperti itu dibandingkan kaum Hawa. Tapi bukan berarti kami bertindak tanpa rasa bersalah. Bukan berarti kami bangga akan apa yang kami lakukan. Bukan berarti kami senang dengan kemampuan kami untuk menelanjangi wanita. Mungkin ada juga yang senang. Tapi sebagian dari kami merasa bersalah. Kami merasa hal itu tidak layak dan tidak benar. Apa mungkin seorang yang tidak mengenal cinta berpikir hingga sejauh itu? Jika kami tidak mengenal cinta bukankah kami akan mementingkan diri sendiri? Tidak merasa bersalah pada orang lain, yang terpenting adalah kepuasan pribadi.
Penulis berpikir bahwa kaum Adam pastilah memiliki perasaan yang disebut sebagai cinta. Karena cinta sendiri berbeda-beda, tergantung objek cinta itu. Hal ini penulis yakini bukan karena penulis adalah seorang pria dan mencoba mempertahankan diri. Penulis yakin bahwa setiap manusia memiliki perasaan dan nafsu. Perasaan sedih, bahagia, senang, mengantuk, lelah, sayang, cinta dan berbagai perasaan lainnya. Penulis yakin pernah dirasakan semua orang. Kemudian nafsu, bukan nafsu dalam definisi sempit seperti nafsu seksual tetapi nafsu secara umum. Penulis yakin bahwa setiap manusia memiliki nafsu. Nafsu dapat didefinisikan sebagai desire. Keinginan yang dimiliki manusia. Penulis merasa bahwa tidak salah seorang manusia memiliki nafsu, tetapi nafsu itu harus dikontrol. Bagaimana mungkin manusia tidak memiliki nafsu? Harus diakui setiap manusia memiliki nafsu yang satu ini. Nafsu makan. Hanya saja nafsu memiliki pandangan yang lebih negatif dibandingkan dengan keinginan.

Karena aku juga manusia, aku memiliki keinginan. Dan keinginanku adalah untuk dicintai. (Heri, 2011)
Minggu, 23 Januari 2011
Koin 3
Aku selalu bertanya kepadanya apa yang telah ia lakukan sampai saat ini. Mempertanyakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Bertanya apa tujuan sebenarnya ia melakukan hal ini dan hal itu. Seringkali aku heran kenapa ada orang seperti dia. Dia selalu berusaha sekuat yang ia bisa, seringkali tidak memikirkan diri sendiri. Dirinya selalu berjuang sendiri memegang beban yang seharusnya bisa ia bagikan pada orang lain. Bahkan aku pun jarang sekali mendengar ia meminta tolong. Ia berusaha melakukan segala sesuatu sendiri. Terus meyakinkan bahwa ia bisa melakukannya sendiri, bahwa ia harus menjadi seorang yang kuat, seorang yang tidak bergantung pada orang. Aku pun bertanya pada dirinya,"Kenapa kamu berjuang sekeras ini?" Dan ia pun menjawab,"Karena aku tak menemukan alasan untuk tidak berjuang sekeras mungkin."
Dirinya berjalan sendirian. Ia menatap lurus ke depan dan melihat kondisi di sekelilingnya tapi tak pernah ia melihat ke belakang. Ia tak pernah memerhatikan sisi kiri dan kanannya. Ia berusaha untuk tetap berjalan di tengah. Daerah netral dimana ia bisa melihat segalanya dengan porsi yang sama. Tidak berat sebelah. Aku semakin bingung dengan orang ini. Ia bergerak begitu saja untuk melakukan apa yang ia rasa baik. Mempertaruhkan segalanya di situ. Selalu memikirkan apa yang dapat ia lakukan untuk orang lain. Suatu kali ia pernah berkata,"Ketika aku melakukan sesuatu untuk orang lain, aku dapat melihat senyuman di wajah mereka. Itulah yang paling membahagiakanku." Kemudian aku membalasnya dengan bertanya,"lalu apa yang ingin kamu lakukan? Apa tujuan hidupmu?" Ia terdiam cukup lama hingga aku harus mengulang pertanyaanku. Ia tersenyum dan membalas,"Aku ingin setiap orang menjadi orang yang hebat karena aku percaya setiap orang pasti memiliki kelebihan. Aku ingin membantu mereka menemukan kelebihan itu." Aku terhenyak sebelum aku bertanya lagi kepadanya. "Jadi, apa yang telah kamu lakukan sampai saat ini?"
"Mempersiapkan diriku untuk memahami orang banyak. Menyiapkan diriku untuk bisa membuat orang lain tersenyum. Berkata pada dirinya sendiri kalau ia memiliki sesuatu yang berharga."
Ia berjalan lagi. Sendirian. Aku tak mengerti kenapa ia tak pernah mengajakku. Padahal aku berada sangat dekat dengan dirinya. Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh, ia berjalan dengan lambat tapi pasti. Terkadang ia berhenti lama sebelum ia melangkah lagi. Aku terus menatapnya sebelum memutuskan untuk mengejarnya. Beberapa kali ia diam untuk melihat peristiwa-peristiwa yang berlangsung disekitarnya. Ketika itu ia mulai berkomentar. Ia menyatakan apa yang menurutnya benar. Lalu aku menjadi pendengar yang baik. Duduk manis di kursi tinggi. Lengkap dengan penyangga agar aku tidak jatuh. Ia kemudian membandingkan pengalaman yang ia alami dan mulai mengurutkannya. Aku bertanya,"Apa yang kamu lakukan selanjutnya?" Ia diam lagi. Cukup lama, aku bahkan telah selesai melahap bubur yang disediakan sesaat setelah aku bertanya padanya. Hening. Aku hanya mendengar suara air yang sayup-sayup. Hmm... hujan yah? Pikirku. Kemudian aku menatapnya, mencoba menangkap matanya agar ia menjawab. Hei!! Ucapku mencoba menyadarkannya. Cukup berhasil. Jadi? Tanyaku penasaran. "Entah, tapi rasanya aku akan mencoba melakukan yang terbaik jika aku dihadapkan pada suatu masalah. Aku tak mau menyerah sebelum aku mencoba." Kemudian ia menyantap makanan yang ada dihadapanya. Makanan itu datang bersamaan dengan bubur yang telah selesai kulahap tadi. Pasti sudah dingin. Pikirku mengingat hujan telah turun cukup lama dan waktu yang kuhabiskan untuk semangkuk bubur tadi. "Dingin yah?" Ucapnya tiba-tiba.
Waktu berlalu sangat lambat. Mungkin karena faktor cuaca yang mendukung. Ya, hujan masih mengguyur dan kami terjebak disini. Bersama dengan beberapa orang yang nampak tidak peduli. Mereka masih asik mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Suara hujan ini cukup mengganggu pendengaranku. Tidak parah, tapi cukup untuk membuatku tak bisa mendengar percakapan orang lain kecuali satu yang sedang semeja denganku. Dan parahnya ia tak bersuara. Hanya pandangannya menatap kosong ke arah jendela. Aku melambaikan tangan tepat di depan wajahnya. Cukup untuk menarik perhatiannya kepadaku. "Apa yang kamu pikirkan?" Ucapku membuka percakapan. "Tidak banyak, aku hanya berpikir pernahkah dirimu mempertanyakan apa tujuanmu selama ini. Kamu tahu? Visi." Hah? Seruku dalam hati. Kenapa mendadak berbicara visi? Kenapa tidak membuka pertanyaan dengan guyonan atau lelucon? Salah satu hal yang kurang kusukai darinya. "Memangnya ada apa? Kamu mau menceritakan visi yang kamu miliki?" Ucapku penasaran. "Tidak, tapi terkadang aku merasa kalau aku tidak bergerak kemana pun. Beberapa kali aku bertanya apa benar ini pantas kulakukan?" Ucapnya, lagi-lagi dengan nada serius. Aneh juga mendengar hal itu dari dirinya, selama ini aku pikir ia berjalan dengan mantap dan tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ternyata tidak juga. "Aku tidak memikirkan visi. Aku menjalani apa yang bisa kujalani sekarang." Ucapku. Suasana menjadi hening kembali. Rasanya tetesan hujan itu bergerak dengan sangat lambat. Kurang dari 5cm per detik. Pikirku dalam hati. Tapi aku menikmati gemercik yang diciptakannya, cukup untuk menulikanku dari percakapan orang disekitar. Hujan turun semakin deras.
"Hujannya lama yah?" Ucapnya memecah fokus.
Dirinya berjalan sendirian. Ia menatap lurus ke depan dan melihat kondisi di sekelilingnya tapi tak pernah ia melihat ke belakang. Ia tak pernah memerhatikan sisi kiri dan kanannya. Ia berusaha untuk tetap berjalan di tengah. Daerah netral dimana ia bisa melihat segalanya dengan porsi yang sama. Tidak berat sebelah. Aku semakin bingung dengan orang ini. Ia bergerak begitu saja untuk melakukan apa yang ia rasa baik. Mempertaruhkan segalanya di situ. Selalu memikirkan apa yang dapat ia lakukan untuk orang lain. Suatu kali ia pernah berkata,"Ketika aku melakukan sesuatu untuk orang lain, aku dapat melihat senyuman di wajah mereka. Itulah yang paling membahagiakanku." Kemudian aku membalasnya dengan bertanya,"lalu apa yang ingin kamu lakukan? Apa tujuan hidupmu?" Ia terdiam cukup lama hingga aku harus mengulang pertanyaanku. Ia tersenyum dan membalas,"Aku ingin setiap orang menjadi orang yang hebat karena aku percaya setiap orang pasti memiliki kelebihan. Aku ingin membantu mereka menemukan kelebihan itu." Aku terhenyak sebelum aku bertanya lagi kepadanya. "Jadi, apa yang telah kamu lakukan sampai saat ini?"
"Mempersiapkan diriku untuk memahami orang banyak. Menyiapkan diriku untuk bisa membuat orang lain tersenyum. Berkata pada dirinya sendiri kalau ia memiliki sesuatu yang berharga."
Ia berjalan lagi. Sendirian. Aku tak mengerti kenapa ia tak pernah mengajakku. Padahal aku berada sangat dekat dengan dirinya. Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh, ia berjalan dengan lambat tapi pasti. Terkadang ia berhenti lama sebelum ia melangkah lagi. Aku terus menatapnya sebelum memutuskan untuk mengejarnya. Beberapa kali ia diam untuk melihat peristiwa-peristiwa yang berlangsung disekitarnya. Ketika itu ia mulai berkomentar. Ia menyatakan apa yang menurutnya benar. Lalu aku menjadi pendengar yang baik. Duduk manis di kursi tinggi. Lengkap dengan penyangga agar aku tidak jatuh. Ia kemudian membandingkan pengalaman yang ia alami dan mulai mengurutkannya. Aku bertanya,"Apa yang kamu lakukan selanjutnya?" Ia diam lagi. Cukup lama, aku bahkan telah selesai melahap bubur yang disediakan sesaat setelah aku bertanya padanya. Hening. Aku hanya mendengar suara air yang sayup-sayup. Hmm... hujan yah? Pikirku. Kemudian aku menatapnya, mencoba menangkap matanya agar ia menjawab. Hei!! Ucapku mencoba menyadarkannya. Cukup berhasil. Jadi? Tanyaku penasaran. "Entah, tapi rasanya aku akan mencoba melakukan yang terbaik jika aku dihadapkan pada suatu masalah. Aku tak mau menyerah sebelum aku mencoba." Kemudian ia menyantap makanan yang ada dihadapanya. Makanan itu datang bersamaan dengan bubur yang telah selesai kulahap tadi. Pasti sudah dingin. Pikirku mengingat hujan telah turun cukup lama dan waktu yang kuhabiskan untuk semangkuk bubur tadi. "Dingin yah?" Ucapnya tiba-tiba.
Waktu berlalu sangat lambat. Mungkin karena faktor cuaca yang mendukung. Ya, hujan masih mengguyur dan kami terjebak disini. Bersama dengan beberapa orang yang nampak tidak peduli. Mereka masih asik mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Suara hujan ini cukup mengganggu pendengaranku. Tidak parah, tapi cukup untuk membuatku tak bisa mendengar percakapan orang lain kecuali satu yang sedang semeja denganku. Dan parahnya ia tak bersuara. Hanya pandangannya menatap kosong ke arah jendela. Aku melambaikan tangan tepat di depan wajahnya. Cukup untuk menarik perhatiannya kepadaku. "Apa yang kamu pikirkan?" Ucapku membuka percakapan. "Tidak banyak, aku hanya berpikir pernahkah dirimu mempertanyakan apa tujuanmu selama ini. Kamu tahu? Visi." Hah? Seruku dalam hati. Kenapa mendadak berbicara visi? Kenapa tidak membuka pertanyaan dengan guyonan atau lelucon? Salah satu hal yang kurang kusukai darinya. "Memangnya ada apa? Kamu mau menceritakan visi yang kamu miliki?" Ucapku penasaran. "Tidak, tapi terkadang aku merasa kalau aku tidak bergerak kemana pun. Beberapa kali aku bertanya apa benar ini pantas kulakukan?" Ucapnya, lagi-lagi dengan nada serius. Aneh juga mendengar hal itu dari dirinya, selama ini aku pikir ia berjalan dengan mantap dan tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ternyata tidak juga. "Aku tidak memikirkan visi. Aku menjalani apa yang bisa kujalani sekarang." Ucapku. Suasana menjadi hening kembali. Rasanya tetesan hujan itu bergerak dengan sangat lambat. Kurang dari 5cm per detik. Pikirku dalam hati. Tapi aku menikmati gemercik yang diciptakannya, cukup untuk menulikanku dari percakapan orang disekitar. Hujan turun semakin deras.
"Hujannya lama yah?" Ucapnya memecah fokus.
Dua koin
Semalam aku berbaring dengan seorang teman. Waktu berlalu dengan sangat lambat ketika kami berbincang, ketika kami terdiam. Banyak hal yang melintas di kepalaku. Tentang natal PMK yang baru saja berakhir, ketua panitia yang secara mengejutkan nampak begitu hebat, panitia yang bertumbangan, apa yang telah aku lakukan untuk PMK sampai sekarang, apa yang teman-temanku lakukan untuk PMK hingga saat ini, dan apa yang akan kukatakan. Aku gelisah karena pikiranku berperang, saling hantam satu dengan yang lain. Perasaanku berantakkan, bertabrakkan dengan logika. Bertabrakkan antara yang kuharapkan dan yang telah terjadi. Aku tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah yang terbaik yang mereka berikan. Aku paham kalau yang mereka harapkan adalah yang terbaik. Dan itu semua berbalik memusuhiku. Seperti panah yang langsung diarahkan padaku.
Aku ingin mengatakan apa yang aku anggap baik. Tapi itu semua sudah lewat dan terlambat. Aku ingin membantu. Tapi aku tak disana. Namun, bukan hal itu yang paling membebaniku. Saat ini yang paling membebaniku adalah ketika aku memahami semua itu, aku merasa tak berdaya. Jika kau mengajukkan keberatanku, rasanya kurang pantas. Aku tak pernah masuk ke dalam PMK. Jadi, apa alasanku untuk menghakimi? Siapa diriku hingga mampu mengatakan semua itu? Karena aku mengerti dan tahu mereka telah melakukan yang terbaik.
Di sisi lain aku tak ingin membiarkannya begitu saja. Membiarkan kami jatuh berulan ke jurang yang sama. Apa tidak ada yang berkata kalau ini salah? Aku mencoba merefleksikan apa yang kuterima. Aku mencerna seperti seekor sapi yang memiliki empat lambung hingga kudapat jawabannya. Aku mencerna dan mencerna. Berpikir ulang dalam waktu yang relatif singkat tapi cukup untuk menciptakan medan perang dalam diriku. "Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku pada diri sendiri.
Dan ketika aku menulis ini pun, aku merasa ragu. Apa aku perlu menyuarakan ini? Bukankah diam dan berpura-pura tidak ada yang terjadi lebih mudah bagiku? Aku meragukan apa aku tidak melihat dari kacamtaku sendiri. Benarkah aku berkata begini? Apa hal ini bukan karena aku melihat dan mempercayai apa yang ingin aku lihat dan percaya? Konyol.
Aku ingin mengatakan apa yang aku anggap baik. Tapi itu semua sudah lewat dan terlambat. Aku ingin membantu. Tapi aku tak disana. Namun, bukan hal itu yang paling membebaniku. Saat ini yang paling membebaniku adalah ketika aku memahami semua itu, aku merasa tak berdaya. Jika kau mengajukkan keberatanku, rasanya kurang pantas. Aku tak pernah masuk ke dalam PMK. Jadi, apa alasanku untuk menghakimi? Siapa diriku hingga mampu mengatakan semua itu? Karena aku mengerti dan tahu mereka telah melakukan yang terbaik.
Di sisi lain aku tak ingin membiarkannya begitu saja. Membiarkan kami jatuh berulan ke jurang yang sama. Apa tidak ada yang berkata kalau ini salah? Aku mencoba merefleksikan apa yang kuterima. Aku mencerna seperti seekor sapi yang memiliki empat lambung hingga kudapat jawabannya. Aku mencerna dan mencerna. Berpikir ulang dalam waktu yang relatif singkat tapi cukup untuk menciptakan medan perang dalam diriku. "Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku pada diri sendiri.
Dan ketika aku menulis ini pun, aku merasa ragu. Apa aku perlu menyuarakan ini? Bukankah diam dan berpura-pura tidak ada yang terjadi lebih mudah bagiku? Aku meragukan apa aku tidak melihat dari kacamtaku sendiri. Benarkah aku berkata begini? Apa hal ini bukan karena aku melihat dan mempercayai apa yang ingin aku lihat dan percaya? Konyol.
Jumat, 24 Desember 2010
savior
I don't know what to say. Here I am standing around with funny face. I just didn't realize when it was start. When I read my friends note, sometimes I feel sad and some part of me wants to hear what he really feel. I want to talk with him then again. I just didn't get it. It's like I want him to share what he feels to me. All of his thought, all of his pain, all of his sadness, all of his happiness. Everything. I feel this is not usually. Know why? Because usually I don't care what others think or feel. Then why?
It is like I want to know him better. It feels like he is the one I could ask to talk. But when the time is come, my tongue was twisted. My lip was tighten up. I don't know what should I say. I don't know where to start. That is why I keep on silence. But tonight I realize that what I feel was wrong. I was thinking, maybe I just want to be needed, I want to look strong. But in the end I was the one that helpless.
I know it's too late for me to realize it. I want someone to talk. When I saw his notes about how is he feel, I kinda feel the same way that I want to talk about it. But in the same time I feel helpless so I denied it. And that is how I make a wall. I don't want others know about me. But I want to know others better. Kinda selfish right? Day by day, every time this feelings come and I didn't talk to him I feel the wall become bigger and bigger.
I don't know when this weird feelings start. But I feel like I want to hear everyone story. Everything. When they didn't say any I got strange feeling. I feel anxious, insecure. I hate it. I want to become strong. I don't want to rely on someone. But in the end, I feel so helpless. So I try stand with my own feet. I think this one called savior syndrome. Iwant to be needed. I want to do something for someone else. But in the end I feel screwed up. This feeling, that I want to help other. I don't think it something bad but to feel almighty because of it, to feel I was the only that can do a thing I have to face it. That's why, I'll face my self.
It is like I want to know him better. It feels like he is the one I could ask to talk. But when the time is come, my tongue was twisted. My lip was tighten up. I don't know what should I say. I don't know where to start. That is why I keep on silence. But tonight I realize that what I feel was wrong. I was thinking, maybe I just want to be needed, I want to look strong. But in the end I was the one that helpless.
I know it's too late for me to realize it. I want someone to talk. When I saw his notes about how is he feel, I kinda feel the same way that I want to talk about it. But in the same time I feel helpless so I denied it. And that is how I make a wall. I don't want others know about me. But I want to know others better. Kinda selfish right? Day by day, every time this feelings come and I didn't talk to him I feel the wall become bigger and bigger.
I don't know when this weird feelings start. But I feel like I want to hear everyone story. Everything. When they didn't say any I got strange feeling. I feel anxious, insecure. I hate it. I want to become strong. I don't want to rely on someone. But in the end, I feel so helpless. So I try stand with my own feet. I think this one called savior syndrome. Iwant to be needed. I want to do something for someone else. But in the end I feel screwed up. This feeling, that I want to help other. I don't think it something bad but to feel almighty because of it, to feel I was the only that can do a thing I have to face it. That's why, I'll face my self.
Selasa, 21 Desember 2010
I want to go
I want someone to save me
I don't wanna be here
I don't wanna be here
Yeah, I think that is part of me. I don't like to be here but I am too afraid to go by myself. I don't have enough courage so I am sitting here waiting for someone to save me. I don't care who it is. I don't care where it is. As long as it is not here it's fine.
I want to leave. I want to go to a place where no one know me. A place that I could live a normal life. I am tired following all the instructions, all the rules, and I am tired to do something that I didn't want! I will waiting here. Wait for someone to take me out of here. I was so helpless, I couldn't go by myself. I was just sitting here accepting my fate. Because everything have been decided for me.
But now I realize. I was being too selfish. I didn't look around, I didn't see people around me. They were kind to me, they put their hope to me, but I am looking a way to betray they hope. I don't want to be here, that is true. But in same time I don't wanna betray they hope. I was too busy searching an easy way out that I didn't realize peoples feeling. That was the time I feeling apart from you. I never see what you feel. You are always by my side. You give me the power so I can stand up once again. You are the one I can depends on. Because you always here. It never occur to me that you were feeling that way. I am sorry.
I know that I couldn't always depends on you. When I see everyone was giving their best, I can't just sit down here waiting for someone safe me. I can't just sit here and look everyone doing their best and I doing nothing. If I want to go then I have to make it myself because it is my decision. I won't look for an easy way out anymore. If I want fly then I will have my wings to be grown.
I know I am silly. By the passing time, I know that what I want is not leaving. I like this place, I love everybody here. I just didn't like the way they treat me. It's like everything has been decided for me. I want to decided which path I'll took for my life. And I decided not to leave.
I want to leave. I want to go to a place where no one know me. A place that I could live a normal life. I am tired following all the instructions, all the rules, and I am tired to do something that I didn't want! I will waiting here. Wait for someone to take me out of here. I was so helpless, I couldn't go by myself. I was just sitting here accepting my fate. Because everything have been decided for me.
But now I realize. I was being too selfish. I didn't look around, I didn't see people around me. They were kind to me, they put their hope to me, but I am looking a way to betray they hope. I don't want to be here, that is true. But in same time I don't wanna betray they hope. I was too busy searching an easy way out that I didn't realize peoples feeling. That was the time I feeling apart from you. I never see what you feel. You are always by my side. You give me the power so I can stand up once again. You are the one I can depends on. Because you always here. It never occur to me that you were feeling that way. I am sorry.
I know that I couldn't always depends on you. When I see everyone was giving their best, I can't just sit down here waiting for someone safe me. I can't just sit here and look everyone doing their best and I doing nothing. If I want to go then I have to make it myself because it is my decision. I won't look for an easy way out anymore. If I want fly then I will have my wings to be grown.
I know I am silly. By the passing time, I know that what I want is not leaving. I like this place, I love everybody here. I just didn't like the way they treat me. It's like everything has been decided for me. I want to decided which path I'll took for my life. And I decided not to leave.
Rabu, 15 Desember 2010
Jealousy
The situation never right. How should I supposed to meet you now? Every here and now I could never been better. Each time I see your wings spreads. Each time I see you floating. Can I ever catch you? Deep in my heart I want you to depends on me. I want to become a place where you can landing. Take a rest. But it is me who depends on you. I don't know what should I do if you weren't there.
I was so jealous of you. You are the one everybody talking about. You have everything that I didn't have. When I am with you I feel so happy and sad in a same time. Can you understand why? I am happy because you was there, because you are my precious friend. But it feels sad that no one look at me. If I compared to you... I am nothing.
This feeling, I hate it so much. Then I start thinking maybe I should look for what best for me. And without realize, we were apart. I became too selfish that I ignore what you feel. I just going on and on and on. I feel so sorry. This feeling just like wall. I couldn't get closed to you. And the walls keep grow. I am so sorry. What kind of friend am I?
That's why I am here now. I will there with you. Not because I want you to need me but because you are my precious friend. I want to protect this feeling. I know I am not that smart, I have many weaknesses. But if you were there I can grow as strong as I need. That's why I'll always by your side.
This feeling. It was part of me. Even if I denied it, it was exist. It exist deep in my heart. I want you to rely on me. I want to become stronger. But now, I have this feeling. I want to by your side, that's all. Protecting what important to me. And protect what important for others.
I was so jealous of you. You are the one everybody talking about. You have everything that I didn't have. When I am with you I feel so happy and sad in a same time. Can you understand why? I am happy because you was there, because you are my precious friend. But it feels sad that no one look at me. If I compared to you... I am nothing.
This feeling, I hate it so much. Then I start thinking maybe I should look for what best for me. And without realize, we were apart. I became too selfish that I ignore what you feel. I just going on and on and on. I feel so sorry. This feeling just like wall. I couldn't get closed to you. And the walls keep grow. I am so sorry. What kind of friend am I?
That's why I am here now. I will there with you. Not because I want you to need me but because you are my precious friend. I want to protect this feeling. I know I am not that smart, I have many weaknesses. But if you were there I can grow as strong as I need. That's why I'll always by your side.
This feeling. It was part of me. Even if I denied it, it was exist. It exist deep in my heart. I want you to rely on me. I want to become stronger. But now, I have this feeling. I want to by your side, that's all. Protecting what important to me. And protect what important for others.
Kangen
"Bagaimana rasanya merindukan seseorang?" Celetuk diriku saat berjalan disalah satu ruas kota Yogyakarta. Pikiran ini terus kubawa hingga ruang kelas. Saat itu salah seorang temanku sedang pergi ke luar kota dimana tidak ada sinyal yang mampu menjangkaunya. Kemudian salah seorang dari antara temanku yang lain bertanya apakah aku mengetahui kemana dia pergi. "ke gua mungkin? Bertapa." Jawabku sekenanya. Kemudian ia lanjut bertanya,"kamu nggak kangen?"
"kangen?" Sedetik kemudian otakku mulai melakukan proses kolaborasi antara kognisi dan afeksi.
Pernah merindukan seseorang? Tanya kursi coklat yang masih "jomblo" di sebelahku. Kemudian si kognisi mulai menderetkan nama-nama orang yang aku kenal dan bertanya pada afeksi apakah ia pernah menjadi orang yang benar-benar ingin aku temui. Afeksi menggelengkan kepalanya. Kognisi kembali mengurutkan orang yang aku kenal. Kali ini dengan form yang lebih lengkap. Wajah, nama, pertama kali bertemu, hingga kesan yang ditimbulkan. Tetapi lagi-lagi afeksi menggeleng.
Bagaimana dengan orangtua? Lontar layar LCD yang menatapku lekat. Ayolah dirimu sudah 5 semester berada di Yogyakarta dan jarang sekali dirimu pulang kerumah iya kan? Selidik LCD itu mencoba menelisik lebih dalam. Dirimu tidak memiliki kerabat di Yogyakarta. Apa kamu tidak iri dengan teman-teman yang bisa bertemu orangtuanya setiap hari? Tidak. Jawab afeksi (tentu saja) tanpa berpikir.
Afeksi kemudian bertanya pada LCD. Perasaan seperti apakah "kangen" itu? Jangan-jangan perasaan itu tidak ter-install baik sehingga afeksi tidak dapat mencari datanya. Atau jangan-jangan file tersebut corrupted atau mungkin ter-uninstall secara tidak sengaja? Mana aku tahu! Balas LCD. Aku tak pernah merasa seperti itu. Bahkan aku tak memiliki perasaan!
Kognisi mengambil alih. Ingatkah kamu ketika temanmu berkata ia perlu me-refill cairan rindunya pada orangtua sehingga ia pulang? Atau ketika senpai berkata ia rindu dengan suasana rumahnya. Oh iya benar saat itu ya? Lalu kenapa? Aku balik bertanya. Sepertinya itu yang namanya kangen. Ketika dirimu tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang kamu sayangi. Hal-hal yang membuat dirimu nyaman. menghantui dirimu untuk menemukannya lagi. Mungkin itu yang namanya kangen.
Lalu, kenapa perasaan itu muncul? Tanyaku heran. Karena dirimu tidak lagi berada disuasana tersebut. Dirimu yang telah terbiasa dengan situasi yang ada. Ketika kamu kehilangan situasi itu kamu berpikir ada sesuatu yang hilang dan kamu ingin itu kembali. Seperti kehilangan salah satu anggota tubuhmu.
Pikiranku membawaku kembali ke masa lalu. Ketika itu aku masih semester awal kuliah. Ketika teman-teman pulang untuk libur minggu tenang. Aku menemukan diriku seperti alien yang menemukan planet hunian baru. Aku tak terpikir untuk pulang. Beberapa teman bahkan kakak angkatan bertanya,"Kamu nggak mudik?" Dan dengan cepat aku balas," liburnya pendek dan aku tak merasa ingin pulang."
Aneh. Itulah komentar pertama yang keluar dari mulut tiap orang ketika aku mengambil keputusan ini. Mereka berpikir memangnya apa yang akan aku lakukan diYogyakarta? Untuk apa bertahan disana? Tapi aku memiliki penilaianku sendiri. Kenapa aku harus pulang? Bukankah tidak ada peraturan yang baku bahwa seorang mahasiswa harus pulang. Bukankah akan memakan biaya ketika aku pulang? Aku merasa tetap di Yogyakarta adalah pilihan yang tepat. Bukan karena masalah keluarga atau apa. Tetapi lebih kepada diriku yang tak merasa bergantung pada siapa pun termasuk keluargaku. Apakah aku perlu meng-install program kangen?
"kangen?" Sedetik kemudian otakku mulai melakukan proses kolaborasi antara kognisi dan afeksi.
"Hmmm... Itu bahasa apa ya? Dalam kamus yang aku punya tidak ada yang namanya kangen." Afeksiku menjawab dengan tenang.
"Aku juga tidak tahu itu makhluk apa." Jawab kognisi.
"Aku juga tidak tahu itu makhluk apa." Jawab kognisi.
Pernah merindukan seseorang? Tanya kursi coklat yang masih "jomblo" di sebelahku. Kemudian si kognisi mulai menderetkan nama-nama orang yang aku kenal dan bertanya pada afeksi apakah ia pernah menjadi orang yang benar-benar ingin aku temui. Afeksi menggelengkan kepalanya. Kognisi kembali mengurutkan orang yang aku kenal. Kali ini dengan form yang lebih lengkap. Wajah, nama, pertama kali bertemu, hingga kesan yang ditimbulkan. Tetapi lagi-lagi afeksi menggeleng.
Bagaimana dengan orangtua? Lontar layar LCD yang menatapku lekat. Ayolah dirimu sudah 5 semester berada di Yogyakarta dan jarang sekali dirimu pulang kerumah iya kan? Selidik LCD itu mencoba menelisik lebih dalam. Dirimu tidak memiliki kerabat di Yogyakarta. Apa kamu tidak iri dengan teman-teman yang bisa bertemu orangtuanya setiap hari? Tidak. Jawab afeksi (tentu saja) tanpa berpikir.
Afeksi kemudian bertanya pada LCD. Perasaan seperti apakah "kangen" itu? Jangan-jangan perasaan itu tidak ter-install baik sehingga afeksi tidak dapat mencari datanya. Atau jangan-jangan file tersebut corrupted atau mungkin ter-uninstall secara tidak sengaja? Mana aku tahu! Balas LCD. Aku tak pernah merasa seperti itu. Bahkan aku tak memiliki perasaan!
Kognisi mengambil alih. Ingatkah kamu ketika temanmu berkata ia perlu me-refill cairan rindunya pada orangtua sehingga ia pulang? Atau ketika senpai berkata ia rindu dengan suasana rumahnya. Oh iya benar saat itu ya? Lalu kenapa? Aku balik bertanya. Sepertinya itu yang namanya kangen. Ketika dirimu tidak bisa bertemu dengan orang-orang yang kamu sayangi. Hal-hal yang membuat dirimu nyaman. menghantui dirimu untuk menemukannya lagi. Mungkin itu yang namanya kangen.
Lalu, kenapa perasaan itu muncul? Tanyaku heran. Karena dirimu tidak lagi berada disuasana tersebut. Dirimu yang telah terbiasa dengan situasi yang ada. Ketika kamu kehilangan situasi itu kamu berpikir ada sesuatu yang hilang dan kamu ingin itu kembali. Seperti kehilangan salah satu anggota tubuhmu.
Pikiranku membawaku kembali ke masa lalu. Ketika itu aku masih semester awal kuliah. Ketika teman-teman pulang untuk libur minggu tenang. Aku menemukan diriku seperti alien yang menemukan planet hunian baru. Aku tak terpikir untuk pulang. Beberapa teman bahkan kakak angkatan bertanya,"Kamu nggak mudik?" Dan dengan cepat aku balas," liburnya pendek dan aku tak merasa ingin pulang."
Aneh. Itulah komentar pertama yang keluar dari mulut tiap orang ketika aku mengambil keputusan ini. Mereka berpikir memangnya apa yang akan aku lakukan diYogyakarta? Untuk apa bertahan disana? Tapi aku memiliki penilaianku sendiri. Kenapa aku harus pulang? Bukankah tidak ada peraturan yang baku bahwa seorang mahasiswa harus pulang. Bukankah akan memakan biaya ketika aku pulang? Aku merasa tetap di Yogyakarta adalah pilihan yang tepat. Bukan karena masalah keluarga atau apa. Tetapi lebih kepada diriku yang tak merasa bergantung pada siapa pun termasuk keluargaku. Apakah aku perlu meng-install program kangen?
Jumat, 26 November 2010
Killing GOD
Pernah membayangkan seandainya tidak ada TUHAN? Segala sesuatu muncul begitu saja seperti sulap. Teori-teori yang dijabarkan para ilmuwan mendadak menjadi masuk akal, tentang nenek moyang manusia yang bernotabene kera, teori Big Bang dan teori evolusi lain. Lebih mudah rasanya untuk menganggap hal itu benar, tidak perlu lagi mencari sesuatu yang bentuknya saja tak pernah diketahui. Tidak usah menerawang ke langit dan berteriak,"TUHAAAAANNN!!!"
Bagaimana bila Tuhan yang diagung-agungkan itu hanya pemuas pikiran manusia saja? Sesuatu yang kita sebut sebagai sebab dari berbagai hal yang terjadi di kehidupan kita. Karena dengan adanya sosok itu kita bisa merasa lebih lega. Lega karena memiliki sosok untuk disalahkan setiap kali kejadian buruk menimpa diri masing-masing. Lega karena semua perbuatan baik yang telah kita lakukan akan membuahkan hal manis dikemudian hari. Kalau begitu bagaimana kalau Tuhan itu kubunuh saja? TUHAN yang disebut dan dielu-elukan setiap kali perbuatan baik terjadi pada kita, yang kita yakini karena perbuatan baik kita. Kalau perlu biar kulenyapkan saja Tuhan yang seperti itu, yang menjadi kambing hitam tiap kali muncul masalah dalam hidup kita. Ya, sosok yang selalu menjadi kambing hitam, setiap kali terluka dan kecewa seringnya kita berteriak,"DIMANA TUHAN??" atau,"TUHAN TIDAK ADIL!!"
Jika hanya untuk memuaskan diri sendiri. Jika hanya sebagai kambing hitam dari segala bencana bukankah sebaiknya IA lenyap saja? Karena dengan adanya begitu banyak TUHAN, darah telah bertumpah banyak, seperti tidak mengenal waktu manusia berperang layaknya seorang barbar, hanya teknologinya saja berubah mulai dari senjata tajam hingga senjata biologis.
Suatu ketika aku terduduk, memikirkan apakah Tuhan benar-benar ada? Bagaimana seandainya Ia hanya sosok fiktif yang kita gunakan untuk menyamankan diri saja? Sosok yang ada untuk menciptakan robot yang bertingkah laku baik untuk mendapatkan upah, menghindari hukuman kelak. Apa seorang bertindak sesuatu hanya untuk dapat masuk Surga? Menghindari perbuatan buruk agar tak masuk neraka. Menjalankan ibadah hanya untuk menghapus dosa, kesalahan yang diperbuat untuk masuk surga.
Aku bangkit, kalau hanya untuk hal-hal seperti itu, untuk motivasi yang tidak tulus seperti itu bukankah lebih baik Ia lenyap saja? Semua bertindak bagaikan penipu, dalam hati aku berbisik,"aku akan melakukan apa yang baik, bukan untuk masuk surga, menghindari neraka, atau untuk orang lain. Aku ingin melakukan hal yang baik karena hal itu memang layak dilakukan."
Aku tak butuh Tuhan sebagai kambing hitam. Tak butuh Tuhan untuk melakukan hal baik. Aku membutuhkan Tuhan untuk mengajariku apa itu perbuatan yang baik, Tuhan yang mengajariku bagaimana harus bersikap saat jatuh dan Tuhan yang dapat kukenali dengan baik.
Bagaimana bila Tuhan yang diagung-agungkan itu hanya pemuas pikiran manusia saja? Sesuatu yang kita sebut sebagai sebab dari berbagai hal yang terjadi di kehidupan kita. Karena dengan adanya sosok itu kita bisa merasa lebih lega. Lega karena memiliki sosok untuk disalahkan setiap kali kejadian buruk menimpa diri masing-masing. Lega karena semua perbuatan baik yang telah kita lakukan akan membuahkan hal manis dikemudian hari. Kalau begitu bagaimana kalau Tuhan itu kubunuh saja? TUHAN yang disebut dan dielu-elukan setiap kali perbuatan baik terjadi pada kita, yang kita yakini karena perbuatan baik kita. Kalau perlu biar kulenyapkan saja Tuhan yang seperti itu, yang menjadi kambing hitam tiap kali muncul masalah dalam hidup kita. Ya, sosok yang selalu menjadi kambing hitam, setiap kali terluka dan kecewa seringnya kita berteriak,"DIMANA TUHAN??" atau,"TUHAN TIDAK ADIL!!"
Jika hanya untuk memuaskan diri sendiri. Jika hanya sebagai kambing hitam dari segala bencana bukankah sebaiknya IA lenyap saja? Karena dengan adanya begitu banyak TUHAN, darah telah bertumpah banyak, seperti tidak mengenal waktu manusia berperang layaknya seorang barbar, hanya teknologinya saja berubah mulai dari senjata tajam hingga senjata biologis.
Suatu ketika aku terduduk, memikirkan apakah Tuhan benar-benar ada? Bagaimana seandainya Ia hanya sosok fiktif yang kita gunakan untuk menyamankan diri saja? Sosok yang ada untuk menciptakan robot yang bertingkah laku baik untuk mendapatkan upah, menghindari hukuman kelak. Apa seorang bertindak sesuatu hanya untuk dapat masuk Surga? Menghindari perbuatan buruk agar tak masuk neraka. Menjalankan ibadah hanya untuk menghapus dosa, kesalahan yang diperbuat untuk masuk surga.
Aku bangkit, kalau hanya untuk hal-hal seperti itu, untuk motivasi yang tidak tulus seperti itu bukankah lebih baik Ia lenyap saja? Semua bertindak bagaikan penipu, dalam hati aku berbisik,"aku akan melakukan apa yang baik, bukan untuk masuk surga, menghindari neraka, atau untuk orang lain. Aku ingin melakukan hal yang baik karena hal itu memang layak dilakukan."
Aku tak butuh Tuhan sebagai kambing hitam. Tak butuh Tuhan untuk melakukan hal baik. Aku membutuhkan Tuhan untuk mengajariku apa itu perbuatan yang baik, Tuhan yang mengajariku bagaimana harus bersikap saat jatuh dan Tuhan yang dapat kukenali dengan baik.
Selasa, 14 September 2010
Memaknai Lebaran
Lebaran... Lebaran... Lebaran...
Beberapa hari lalu seluruh umat muslim seluruh dunia merayakan yang namanya Hari raya Lebaran. Hari ini merupakan hari kemenangan setelah berjuang selama 30 hari lamanya melawan nafsu. 30 hari lamanya pula muslimah dan muslimin menyucikan diri dan memberikan sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim. Setelah melalui cobaan mulai dari panasnya terik matahari hingga dinginnya es buah dipinggir jalan akhirnya datanglah hari raya tersebut.
Di Indonesia ada sebuah kebiasaan unik yang tidak ditemui di negara lain menjelang hari Besar ini. Mudik. Seperti sudah dikomando para umat muslim kembali ke kampung halamannya. Tidak sedikit yang membawa berbagai barang untuk diberikan kepada keluarga besar di rumah. Ada pula yang membawa anak dan istrinya naik motor. Tentu tindakan ini berbahaya dan sebaiknya tidak dilakukan. Beberapa dari kita sudah memesan tiket mudik dan kembali dari jauh-jauh hari untuk menghindari meningkatnya tarif pos dan pasca lebaran. Rasanya ada yang kurang jika tidak berkumpul dengan keluarga di hari yang besar ini.
Ada pula kebiasaan lain yang sebaiknya tidak dilanjutkan oleh siapa pun. Namanya adalah balas dendam. Alasannya mudah karena pada hari ini adalah saatnya saling memaafkan dan merenungkan apa yang sudah dilakukan dimasa lalu untuk kemudian menjadi bahan refleksi diri. Namun, sadar atau tidak banyak orang yang tetap melaksanakan balas dendam pada hari nan fitri ini. Balas dendam dalam bentuk melahap banyak makanan saat Lebaran. Hal ini sebaiknya tidak dilakukan karena akan menimbulkan shock kepada tubuh yang sudah terbiasa dengan pola makan selama 30 hari sebelumnya. Sama halnya ketika kita memberi makanan yang begitu banyak kepada penderita busung lapar, tubuh mereka akan mengalami shock karena tidak terbiasa memakan banyak makanan yang berakibat pada menurunnya kondisi tubuh.
Ketika tubuh kita yang sudah terbiasa dengan pola makan sederhana ketika bulan puasa dipaksakan untuk banyak makan ketika Lebaran tentu akan menghasilkan efek yang kurang lebih mirip. Apalagi jika kita tilik dari kandungan makanan yang disediakan. Dilaporkan penderita hypertensi dan diabetes kambuh setelah lebaran. Hal ini dikarenakan "pembalasan dendam" yang dilakukan pada hari Lebaran. Makna Lebaran sudah banyak ditampilkan ditelevisi sebagai hari dimana seorang dengan yang lain saling memaafkan tapi nampaknya tidak ada yang memberitahukan untuk melakukan balas dendam terhadap makanan. Jadi, masih mau balas dendam?
Beberapa hari lalu seluruh umat muslim seluruh dunia merayakan yang namanya Hari raya Lebaran. Hari ini merupakan hari kemenangan setelah berjuang selama 30 hari lamanya melawan nafsu. 30 hari lamanya pula muslimah dan muslimin menyucikan diri dan memberikan sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim. Setelah melalui cobaan mulai dari panasnya terik matahari hingga dinginnya es buah dipinggir jalan akhirnya datanglah hari raya tersebut.
Di Indonesia ada sebuah kebiasaan unik yang tidak ditemui di negara lain menjelang hari Besar ini. Mudik. Seperti sudah dikomando para umat muslim kembali ke kampung halamannya. Tidak sedikit yang membawa berbagai barang untuk diberikan kepada keluarga besar di rumah. Ada pula yang membawa anak dan istrinya naik motor. Tentu tindakan ini berbahaya dan sebaiknya tidak dilakukan. Beberapa dari kita sudah memesan tiket mudik dan kembali dari jauh-jauh hari untuk menghindari meningkatnya tarif pos dan pasca lebaran. Rasanya ada yang kurang jika tidak berkumpul dengan keluarga di hari yang besar ini.
Ada pula kebiasaan lain yang sebaiknya tidak dilanjutkan oleh siapa pun. Namanya adalah balas dendam. Alasannya mudah karena pada hari ini adalah saatnya saling memaafkan dan merenungkan apa yang sudah dilakukan dimasa lalu untuk kemudian menjadi bahan refleksi diri. Namun, sadar atau tidak banyak orang yang tetap melaksanakan balas dendam pada hari nan fitri ini. Balas dendam dalam bentuk melahap banyak makanan saat Lebaran. Hal ini sebaiknya tidak dilakukan karena akan menimbulkan shock kepada tubuh yang sudah terbiasa dengan pola makan selama 30 hari sebelumnya. Sama halnya ketika kita memberi makanan yang begitu banyak kepada penderita busung lapar, tubuh mereka akan mengalami shock karena tidak terbiasa memakan banyak makanan yang berakibat pada menurunnya kondisi tubuh.
Ketika tubuh kita yang sudah terbiasa dengan pola makan sederhana ketika bulan puasa dipaksakan untuk banyak makan ketika Lebaran tentu akan menghasilkan efek yang kurang lebih mirip. Apalagi jika kita tilik dari kandungan makanan yang disediakan. Dilaporkan penderita hypertensi dan diabetes kambuh setelah lebaran. Hal ini dikarenakan "pembalasan dendam" yang dilakukan pada hari Lebaran. Makna Lebaran sudah banyak ditampilkan ditelevisi sebagai hari dimana seorang dengan yang lain saling memaafkan tapi nampaknya tidak ada yang memberitahukan untuk melakukan balas dendam terhadap makanan. Jadi, masih mau balas dendam?
Minggu, 15 Agustus 2010
Nama... Penting gak sih?
A: Mas namanya siapa?
B: Heri
A: Nama lengkapnya?
B: Heri
A: Nama lengkapnya mas...
B: Iya Heri.
A: ....
Begitulah kira-kira yang terjadi disaat saya bertemu dengan orang lain yang menanyakan nama lengkap saya. Beberapa menjadikannya sebagai bahan lawakan seperti, "wah kalau ngisi nama
pas ujian cepet nih." atau mereka akan bertanya,"koq namanya pendek?" bahkan belakangan ada seorang yang berusaha menambahkan nama saya. Ya, saya sempat minder dengan nama pendek yang saya sandang tapi akhirnya dapat saya atasi dengan rasa ke-PD-an hahaha.
Ada yang bilang apalah arti sebuah nama... sebenarnya nama itu penting loh untuk seseorang. Nama sudah seperti sebuah identitas diri yang melekat beserta sifat-sifat yang ada dalam seseorang. Nah, pada zaman sekarang kita sering banget ngeliat nama orang Indonesia yang di-Barat-kan. Tentunya saat ini, jarang kita melihat ada seorang bernama Ningrum atau nama bagus lain yang bukan dikutip dari luar negeri. Kenapa? Karena nama Barat terdengar lebih keren daripada nama Indonesia. Hal ini nampaknya menjadi trend di kalangan orang tua agar anaknya menjadi istimewa (setidaknya punya nama yang istimewa bagi mereka) walau tidak jarang para orang tua tidak memikirkan arti dari nama tersebut.
Selain trend nama yang dibaratkan ada juga trend untuk memberikan nama yang unik kepada anak. Nama yang unik memang menarik dan mudah menjadi pusat perhatian tapi hal ini dapat berdampak buruk kepada si anak. Karena bisa saja si anak menjadi bahan ledekan karena namanya yang aneh dan menjadikan si anak minder. Disaat seperti ini hubungan antara anak dan orang tua menjadi kunci, orang tua dapat memberi alasan kenapa memberi nama anaknya seperti itu beserta harapan yang dimiliki orang tua kepada anak.
Jadi, sebelum memilihkan nama untuk anak sebaiknya hati-hati agar tidak menuruti ego diri sendiri dan mengorbankan anak. Akta lahir kan gak bisa diubah seenak hati. Lain cerita kalau main game yang memungkinkan anda melakukan new game untuk mengubah nama. Saya teringat dengan apa yang dikatakan guru bahasa Inggris saya sewaktu SMA. Ia selalu mengingatkan kami tentang KISS -Keep It Sweet and Simple- saya rasa itu cukup masuk akal terlebih jika anda ingin memberi nama. Karena anak tidak perlu menulis terlalu panjang ketika ujian, tidak memakan tempat sehingga nama dapat dicantumkan secara penuh ke dalam absensi, dan yang paling penting mudah diingat dan dipanggil. ^^
B: Heri
A: Nama lengkapnya?
B: Heri
A: Nama lengkapnya mas...
B: Iya Heri.
A: ....
Begitulah kira-kira yang terjadi disaat saya bertemu dengan orang lain yang menanyakan nama lengkap saya. Beberapa menjadikannya sebagai bahan lawakan seperti, "wah kalau ngisi nama
pas ujian cepet nih." atau mereka akan bertanya,"koq namanya pendek?" bahkan belakangan ada seorang yang berusaha menambahkan nama saya. Ya, saya sempat minder dengan nama pendek yang saya sandang tapi akhirnya dapat saya atasi dengan rasa ke-PD-an hahaha.
Ada yang bilang apalah arti sebuah nama... sebenarnya nama itu penting loh untuk seseorang. Nama sudah seperti sebuah identitas diri yang melekat beserta sifat-sifat yang ada dalam seseorang. Nah, pada zaman sekarang kita sering banget ngeliat nama orang Indonesia yang di-Barat-kan. Tentunya saat ini, jarang kita melihat ada seorang bernama Ningrum atau nama bagus lain yang bukan dikutip dari luar negeri. Kenapa? Karena nama Barat terdengar lebih keren daripada nama Indonesia. Hal ini nampaknya menjadi trend di kalangan orang tua agar anaknya menjadi istimewa (setidaknya punya nama yang istimewa bagi mereka) walau tidak jarang para orang tua tidak memikirkan arti dari nama tersebut.
Selain trend nama yang dibaratkan ada juga trend untuk memberikan nama yang unik kepada anak. Nama yang unik memang menarik dan mudah menjadi pusat perhatian tapi hal ini dapat berdampak buruk kepada si anak. Karena bisa saja si anak menjadi bahan ledekan karena namanya yang aneh dan menjadikan si anak minder. Disaat seperti ini hubungan antara anak dan orang tua menjadi kunci, orang tua dapat memberi alasan kenapa memberi nama anaknya seperti itu beserta harapan yang dimiliki orang tua kepada anak.
Jadi, sebelum memilihkan nama untuk anak sebaiknya hati-hati agar tidak menuruti ego diri sendiri dan mengorbankan anak. Akta lahir kan gak bisa diubah seenak hati. Lain cerita kalau main game yang memungkinkan anda melakukan new game untuk mengubah nama. Saya teringat dengan apa yang dikatakan guru bahasa Inggris saya sewaktu SMA. Ia selalu mengingatkan kami tentang KISS -Keep It Sweet and Simple- saya rasa itu cukup masuk akal terlebih jika anda ingin memberi nama. Karena anak tidak perlu menulis terlalu panjang ketika ujian, tidak memakan tempat sehingga nama dapat dicantumkan secara penuh ke dalam absensi, dan yang paling penting mudah diingat dan dipanggil. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)